Damai

Copas status facebook saya per tanggal 13 Desember 2014

————–

Kehabisan kata-kata itu adalah ketika mendengar Prema berseru “Ibu sama Ayah!”

Jadi ceritanya tadi Prema nonton acara di Disney Junior  ; Jack and the Neverland Pirates, klo gak salah judulnya. Nah ada bagian dimana Jack mengafirmasi anak-anak untuk menyebutkan atau mengingat hal-hal apa yang membuatnya senang. Ujug-ujug saya mendengar Prema teriak “ibu sama ayah!”

Saya yang lagi didapur yo kaget trus menghampiri, bertanya “ada apa?” “ituuuu tadi jacknya tanya apa yang membuat kamu senang, prema bilang ibu sama ayah” jawab prema polos

Waaaaa itu makjleb rasanya, setelah sebelumnya, iya cuma 10 menit sebelumnya, saya baru saja nahan emosi pake banget saat prema menumpahkan sekotak susu diatas kasur yang sepreinya baru saja diganti

#berpelukan

#mewek image ——————–

Status itu sukses menghadirkan beragam komentar dari para sahabat kontak saya di facebook. Dari yang memuji Prema sampai yang membahas tentang kelakuan masa kanak-kanak dan prediksi bahwa Prema bakal jadi cowok romantis kelak ^^

Lalu kenapa harus saya posting kembali disini? Saya merasa mendapat banyak pelajaran dari Prema. Iya pelajaran. Guru khan tak harus yang lebih tua to. Bahwa menjadi orang tua adalah sekolah kehidupan yang sesungguhnya

Dari Prema saya belajar untuk tak menyimpan dendam. Bahwa 10 menit sebelumnya saya sempat mendelik pada Prema karena numpahin susu dan membuat Prema mengkeret, mewek, minta maaf tapi nyatanya tak lama kemudian dengan polosnya dia mengungkapkan isi hatinya bahwa ayah dan ibulah yang paling membuatnya senang

image

Begitupun dalam berteman. Anak-anak yang polos sungguh menghilangkan semua sekat dalam sebuah hubungan. Lihatlah betapa mudahnya anak berteman. Betapa cairnya suasana mereka bergaul. Tak perlu bertanya suku apa? Agama apa? Dan seterusnya. Bahkan terkadang tak perlu menanyakan nama. Selama bisa bermain bersama, haha hihi bareng, berbagi mainan, seru-seruan, maka itu sudah cukup. Tak ada sekat.

Sementara orang tua sibuk berdebat tiada akhir tentang sesuatu, dibawah sana anak-anak sibuk bermain bersama. Sementara orang tua masih menyimpan sisa perdebatan dan membalutnya dengan marah dan dendam, anak kecil yang abis berantem, rebutan mainan, begitu mudah berbaikan lagi, bersalaman dan melupakan perselisihan Sementara orang tua sibuk mengumpulkan berbagai alasan untuk pembenaran pendapat (dan prinsipnya) mempertahankan egonya, lihatlah anak-anak itu tak butuh alasan untuk berteman, tak butuh alasan untuk bersama, tak butuh alasan untuk melukis hari dengan keceriaan. Betapa cepatnya mereka menghadirkan pelangi setelah hujan dan badai melanda 🙂

image

Seandainya kita yang (katanya) dewasa ini bisa punya hati seluas samudera seperti anak kecil, alangkah damainya dunia Ahhh…. Semoga saya diberi hati seperti itu, belum bisa seluas samudera ya minimal seluas lautan aja deh

Semoga

damai dihati

damai didunia

damai selalu

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, keluarga kecilku, Percikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Damai

  1. nengwie says:

    Aamiin…

    Prema cakeeeep… 😍

    Ada nih ortunya yg berantem, trs anak2nya ngga boleh maen lagi sama anak-anak “lawannya” kasian yaaah…

  2. penuhcinta26 says:

    Asyikk…Arni ngeblog lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s