Tentang Hujan

Hujan datang sebagai anugerah
Ketika manusia bersahabat dengan alam
Hujan datang menjadi musibah
Ketika laku manusia merusak alam

**********

Saya suka hujan. Lebih tepatnya saya menyukai aroma tanah kering yang tertimpa air hujan. Wanginya khas. Saat hujan turun setelah panas dalam waktu lama, saya sukaaaaa sekali berdiri didepan rumah menikmati aroma tanah yang naik ke permukaan.

image

Ada banyak kisah tentang hujan. Dari yang mengharu biru, penuh romantisme sampai yang membawa kisah duka. Bahkan sinetron, film, drama korea apalagi selalu dipenuhi dengan adegan dimana pemeran utamanya berlari didalam hujan, yang menari bersama, berlari, bermain sampai patah hatipun diiringi oleh hujan.

Berjalan bergandengan tangan dibawah hujan itu romantis
Menikmati teh panas, secangkir kopi atau coklat panas dengan sedikit cemilan sambil bercengkerama diteras rumah menatap rinai hujan yang jatuh satu demi satu itu juga romantis
Menerima jaket untuk berlindung dari hujan yang dipasangkan dibahu oleh si dia, wah itu romantis tingkat tinggi
Tetiba menerima hadiah payung dengan alasan agar gak kehujanan, eerrrr bolehlah disebut romantis

image

Itu soal romantisnya hujan, ada juga lho bagian lainnya. Yang sumpah, gak romantis-romantisnya sama sekali. Berlari ngibrit ngangkat jemuran karena hujan yang tiba-tiba turun itu sungguh bikin kesel. Apalagi klo ada jemuran posisi terpisah, yang satu dihalaman depan satu lagi dilantai atas, pake acara lupa pula klo ada jemuran diatas. Udahlah duduk cantik depan TV trus ingat klo diatas lagi jemur kerupuk itu sesuatu banget deh. Dijamin ngos-ngosan setelah naik turun tangga haha.

image

Banjir yang datang saat sudah tak ada lagi daerah resapan juga adalah kisah lain dari hujan. Dan ini murni kesalahan kita, manusia. Karena ambisi, ego dan merasa superior, kita lupa bahwa alam bukan untuk dieksploitasi tanpa ampun. Bahwa sesungguhnya kitalah yang numpang hidup pada alam. Bahwa seharusnya sebagai “penumpang” yo harus sadar diri dong untuk gak merusak. Gak menghabisi pohon-pohon, gak membuang sampah sembarangan, gak menghabisi lapisan tanah dan menggantikannya dengan beton dan sulur-sulur kabel atau selongsong pipa.

Bahwa sebenarnya hujan itu turun karena memang udah siklusnya begitu. Sementara manusia mendadak merasa superior dan bisa memindahkan hujan karena merasa gak butuh. Demikian (konon) yang sering terjadi pada sebuah perhelatan. Pawang hujan sampai sinar laser atau tabur garam untuk modifikasi cuaca adalah contoh kecil kelakuan manusia melawan hujan, yang mana jadinya sebagian orang bahagia acaranya lancar, sebagian lagi kepanasan karena udara yang pengap

Padahal ya, hujan itu pasti tau kapan saat yang tepat untuk turun. Mungkin ada yang bilang gak butuh atau merasa terganggu, tapi pasti saat yang sama ada yang butuh juga, hanya kita gak tahu siapa orangnya.
Karena semua yang tercipta dan hadir di dunia ini pasti ada tujuannya. Begitupun kita, manusia. Ketika kita berada dalam sebuah situasi maka dua sisi akan tercipta. Ada yang suka, ada yang tak suka atau malah ada yang pura-pura suka padahal sebenarnya gak suka atau sebaliknya. Tapi seperti hujan, tetaplah ada karena memang sudah siklusnya. Lakukan yang terbaik, itu sudah cukup.

Jyah ini malah jadi ngelantur. Ngomongin hujan aja pake acara ngoceh macam-macam haha. Jadi ada sebuah kisah lagi soal hujan hari ini

image

Ini tadi tepat diwaktu pulang sekolah, hujan turun deras sekali. Pas dijemput, Prema malah kegirangan lihat hujan karena itu artinya dia bisa nyobain jas hujannya yang baru. Begitu pakai Prema malah berkeliling menemui gurunya dan berkata “Bu guru, lihat, Prema pake baju hujan yang baru.”

Nah begitulah anak-anak
Mengenakan jas hujan baru saja dia begitu bahagia. Karena bahagia itu sederhana, sesederhana menikmati aroma tanah yang tersiram titik hujan

Ini cerita hujanku
Mana ceritamu?

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged . Bookmark the permalink.

16 Responses to Tentang Hujan

  1. jampang says:

    aroma tanah kering yang tertimpa air hujan —> kalau teman saya malah alergi. dan langsung pilek kalau nyium aroma itu

  2. nengwie says:

    Saya suka pisan huhujanan… sampai turun ratusan meter dr angkot biar bisa huhujanan… sekarang suka huhujanan salju juga ๐Ÿ˜€

  3. welly prazh says:

    cerita hujan ada tu bbrp di blog silakan melipir ke blog. maaf ga kasi link, ini pake hape ribet nyari linknya haahha. itu yg di paragraf2 awal ga salah tulis ya, memberi hadiah payung agar kehujanan, atau aku yg blm paham bacanya ๐Ÿ™‚

  4. ayanapunya says:

    hujan-hujanan sambil nangis, mba. rasanya puas banget ๐Ÿ˜€

  5. musayka says:

    Aku iri pada hujan
    yang tau kapan ia menangis
    dan kapan ia dibutuhkan.

    Hujan, soal hujan saya suka hujan sejak kecil walau sering sakit pula karena hujan hehehe. Tapi pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika di hari pernikahan, pagi terang siang terang, sore terang tamu dari pihak istri tak kunjung datang padahal saya sudah nunggu kapan bisa beromantisan sama istri berdua hahaha, ternyata tetangga2 diundangnya habis maghrib hehehe, namun sebelum maghrib hujan mulai turun dan sukses buat saya kedinginan -maklum rumah istri dipegunungan-, habis isya mulai berdatangan satu persatu sembari bawa payung, namun setalah itu rasanya hujan dengar ucapan saya dan turunlah ia semakin deras sehingga jam semakin sepi yang datang, biasanya sampek jam sepuluh normal kata kakak ipar eh karena hujan lebat jam stengah sembilan sudah sepi, dalam hati saya berkata terima kasih ya Allah kau sudah kirimkan hujan untuk kebahagian kami berdua hehehehe *egois.

    Karena udah sepi saya telpon teman saya yang katanya mau datang kalau tamunya dah sepi. Datanglah ia membawa mobil dan mengajak kami kesebuah villa dan ia berkata ini hadiah dari kakakmu dan saya diamanahi untuk nganter kamu n istri kesini kalau resepsinya sudah selesai. Cailah setelah hujan terbitlah pelangi… selanjutnya terserah dah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s