Jonggol Oh Jonggol

Hari gini siapa yang gak pernah dengar jonggol? Dimana-mana ada aja yang nyebutin kata-kata itu. Kata yang merujuk pada nama sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor
Nama daerah ini meroket sejak menjadi celetukan di salah satu sinetron Indonesia yang tayang di salah satu stasiun TV swasta, yang sampai saat saya menuliskan ini belum pernah saya tonton sama sekali, karena memang dirumah saya nyaris gak pernah mencet remote ke channel TV itu, jadi ya cuma denger cerita aja.

image

Foto diambil dari infodepok.com

Trus klo gak pernah nonton, ngapain nulis?
Iya ini ada hubungannya dengan celetukan itu. Awalnya saya bingung denger dimana-mana, dari anak kecil sampai orang dewasa sering banget nyebut Jonggol ketika ada yang menanyakan sesuatu terkait tempat atau keberadaan seseorang atau tujuan kepergian. Entahlah, saya gak ngerti kenapa pada nyebut Jonggol sih. Sampai suatu hari seorang teman berbaik hati berkisah pada saya awal mula meroketnya Jonggol ini sebagaimana saya tulis sebagai pembukaan diatas

Nah, saya yang memang dasarnya gak ngerti ya gak mau ikut arus dong. Maka saya tak pernah menjawab Jonggol untuk berbagai pertanyaan yang diajukan pada saya. Sampai kemudian beberapa waktu lalu sepulang sekolah, Prema, 4 tahun 10 bulan, tiba-tiba menjawab “di Jonggol” ketika saya menanyakan keberadaan sebuah barang.
Kaget dong saya. Wong dirumah ini gak pernah ada yang nyebut Jonggol gitu lho. Usut punya usut ternyata dia mendapatkan kata-kata itu di sekolah. Teman-temannya menjadikan Jonggol sebagai jawaban atas pertanyaan keberadaan benda atau seseorang

Hmm…anak memang peniru yang ulung. Dan mulailah saya menceramahi Prema agar tidak menggunakan jawaban Jonggol jika ditanyakan keberadaan sesuatu. Tentu saja pertanyaan “kenapa?” bolak-balik meluncur dari bibir mungilnya. Dan keluarlah alasan saya, mulai dari “itu tidak bagus, tidak sopan, dan segala derivasinya. Prema sih bilang iya dan menggangguk, yang saya anggap dia ngerti.

Baiklah mungkin ada yang bilang saya lebay, tapi saya hanya tidak ingin Prema mengucapkan sesuatu yang tidak dia mengerti, hanya sekedar ikut-ikutan saja dan bahkan tidak tau kapan saat yang tepat dalam menggunakannya, buat bercanda atau serius. Saya gak mau kejadian kayak anak tetangga saya, umurnya 6 tahun, saat ada yang serius nanya, “bapak ada?” ealah dia jawab, “ada di Jonggol,” sambil cengar-cengir pasang tampang ngeledek padahal yang nanya adalah orang tua yang ada keperluan penting sama bapaknya. Iya buat sebagian orang mungkin lucu aja tapi buat saya itu gak sopan. Anak yang sama pernah nunjuk lubang hidungnya lho sambil bilang, “disini,” ketika bu RT nanyain mamanya kemana. Sungguh ya ini masalah kebiasaan yang dibiarkan. Kelakuan “lucu” yang dimaklumi.

Balik lagi ke urusan Jonggol. Masalah timbul ketika Prema kembali ke sekolah, lalu lagi-lagi dia mendengar teman-temannya bilang Jonggol. Nah, Prema yang ceriwis ini mulai protes dan melarang teman-temannya, “gak boleh bilang Jonggol, itu tidak baik, tidak sopan!”
Ya mengulangi nasehat sayalah intinya. Dan merekapun berdebat, temannya gak mau dilarang sampai masalah ini dibawa ke ibu guru. Truuuuuuss…. Bu gurunya dong bilang, “boleh kok bilang Jonggol, gak apa-apa.”
Jedeeeeer….. Prema bingung. Pulang sekolah laporan deh dia katanya boleh bilang Jonggol.

image

Hmm baiklah, ini saatnya kompromi tahap kedua. Saya bicarakan baik-baik dengan Prema agar dia tidak bingung. Kenapa 2 orang dewasa punya aturan yang berbeda terhadap satu hal. Setelah “berdebat” berdua akhirnya kami sampai pada kesimpulan “oke deh, boleh bilang Jonggol, tapi bukan buat ledek-ledekan dan tidak boleh diucapkan kepada orang tua yang bertanya sesuatu, karena itu tidak sopan. Jonggol hanya boleh buat bercanda sama teman-teman Prema aja, tapi lebih baik lagi klo Prema gak usah ikut-ikutan bercanda pake Jonggol, masih banyak bercandaan yang lain,” yang ditutup dengan jawaban, “oke ibu.” Lalu kami toss ^^

Hmm demkianlah, ternyata tak mudah menyamakan persepsi. Tak mudah menyamakan pola pikir. Dirumah, anak kita didik yang terbaik sesuai versi kita, tapi terkadang kita tak bisa mengontrol apa yang ditemuinya diluar sana. Butuh banyak kompromi memang agar anak tak jadi bingung, ini juga gak bagus buat perkembangannya ke depan. Anak akan berada dipersimpangan dan bimbang karena dihadapkan pada hal-hal yang tidak konsisten yang dipertontonkan oleh orang dewasa. Ah ya…. Sekali lagi menjadi orang tua adalah belajar. Belajar di sekolah kehidupan pada guru besar bernama anak.

Semoga kami bisa memberi teladan yang terbaik bagimu, Nak

Peluk cium

Ibu

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, keluarga kecilku, Percikan and tagged , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Jonggol Oh Jonggol

  1. kerennnnn….jadi pingin menulis lagi juga…hiks tulisan2 di MPku hikssss

    • itsmearni says:

      Mbak Prapti ya ini
      Huwaaaa akupun kangen sama MP
      Belajar banyak deh jaman ngempi dulu
      Ayo mbak nulis lagi, mbak Prapti pasti lebih keren-keren klo nulis apalagi pengalaman parentingnya banyak

  2. welly prazh says:

    aku jg g ngerti ttg jonggol. ada cerita apa gerangan? ga pernah nonton sinetron hahaha. di kantor jg ga heboh/happening gitu

  3. Saya juga nggak tahu Jonggol ini, mungkin di sinetronnya sony wak waw.

  4. jampang says:

    saya juga baru sekilas aja nonton itu sinetron dan bukan adegannya jonggol lagi disebut2.

    jadi nyebut jonggol boleh asal pas ya, prema 😀

    • itsmearni says:

      Hehe begitulah mas
      Dalam beberapa hal menjadi orang tua itu harus tegas tapi adakalanya butuh kompromi juga, mas Rifky pasti udah jauh lebih tau deh, saya masih harus banyak belajar nih dari pengalaman teman-teman

      Akhirnya saya ijinkan Prema menyebut Jonggol sambil dibimbing kapan penggunaan yang tepat dan tentunya bukan buat ledek-ledekan terutama dengan orang yang lebih tua 🙂

  5. Ina says:

    Oalah… Ternyata nama daerah tho. baru aja aku tanyain aanak ku Ternyata bener dari senetron. Padahal dirumah juga ga pernah liat gtu.

    Anak Anak dapat kata itu dari teman teman nya deh . Apa Apa nanya sesuatu sekarang jg gtu jawaban nya JONGOL.
    Malah kadang bikin tengkaran klo lagi ga enak hati.

    • itsmearni says:

      Nah iya klo digunakan disaat yang gak tepat yo bikin kesel. Coba nih klo pas kita nanya serius, penting tau-tau dijawab “jonggol” yo apa gak bikin pengen ngamuk, apalagi klo jawabnya dengan nada ngenyek 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s