Sebuah Foto Sejuta Makna

Foto dan kisahnya. Saat ini kedua hal tersebut seperti pasangan pengantin baru yang selalu nempel kemana-mana. Jaman dimana media sosial begitu berkembang, maka segala hal seolah menjadi ‘wajib’ diabadikan, tambahkan sedikit cerita atau sekedar untaian kalimat sebagai pengantarnya maka jadilah sebuah foto tersebar didunia maya dan bisa dinikmati oleh semua orang, sanak family dan handai tolan dibelahan dunia manapun dia berada tanpa harus membuat bertanya-tanya kapan, dimana atau sedang apa objek dalam gambar dimaksud.

Kalaupun tanpa keterangan, umumnya akan ada jawaban tertulis dikolom komentar yang sangat mudah ditelusuri.

image

Sebenarnya kebiasaan mengabadikan sebuah momen dalam bentuk gambar sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Hanya saja dulu cuma ada dokumentasi foto-foto tanpa cerita. Jaman dulu kita cuma punya foto tanpa kisah menyertai, klo mau tau cerita dibalik foto ya harus nanya ke para tetua yang ikut serta. Klo sekarang, anak-anak nantinya gak perlu nanya lagi karena bisa baca sendiri.

Semua ada plus minusnyalah. Dengan tak ada kisah tertulisnya, komunikasi orang tua dan anak lebih terasa, bayangkan indahnya membuka album foto sambil mendengarkan “dongeng” bapak ibu nenek kakek yang berkisah tentang kejadian dalam foto itu, dengan versinya masing-masing tentunya. Lalu tertawa bersama, menikmati kekeluargaan dan kebersamaan. Begitu pula foto-foto dengan sahabat, kerabat dan seterusnya, seru pastinya menghidupkan kembali kenangan. Satu foto bisa bercerita banyak hal seiring berjalannya waktu yang terus berputar

image

Akan beda pasti rasanya ketika kisah sudah tertulis, maka biasanya sudut pandang juga terbatas pada cerita yang sudah ada. Wlopun tetap sih bagian mengenang masa lalunya ya tetap indah. Eh tapi ada plusnya ini, selama tulisan dan foto itu masih ada maka kisahnya akan tetap diingat dan terekam. Beda dengan klo lewat cerita lisan, kadang bertambah kadang berkurang atau bahkan hilang sama sekali karena orang-orangnya telah tiada, sehingga jadinya menebak-nebak kisah atau klopun masih berlanjut ya kadangkala bertambah atau berkurang sesuai versi si pencerita.

image

Saya, sebagai ibu, sebisa mungkin mengabadikan setiap momen berharga dalam tahap perkembangan Prema dan menuliskannya dalam catatan online ini. Buat kenangan. Setidaknya ketika besar nanti, Prema bisa melihat sendiri proses bertumbuhnya, membaca sendiri proses belajarnya dan memahami seberapa besar perhatian dan dukungan kami, orang tuanya, dalam tumbuh kembangnya. Maklum manusia khan terbatas memorinya, cepat lupa. Kalau gak dicatat ntar menguap begitu saja tertimpa kisah baru.

image

Ini sebenarnya saya juga sempat “kehilangan” sedikit masa-masa “keajaiban” Prema waktu saya masih kerja dulu, tapi ya semua khan berproses makanya sekarang dinikmatin deh sepuasnya, selagi bisa kenapa tidak?

Jadi, mari mengabadikan kenangan dalam gambar. Mari merangkai aksara untuk melengkapi kenangan itu. Jadikan setiap momen begitu berharga 🙂

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged . Bookmark the permalink.

17 Responses to Sebuah Foto Sejuta Makna

  1. and1k says:

    tulisan mbak yang ini ngena “Beda dengan klo lewat cerita lisan, kadang bertambah kadang berkurang atau bahkan hilang sama sekali karena orang-orangnya telah tiada”. Persis kayak budaya bangsa kita yang lebih seneng tuturan (omongan) daripada tulisan. salam kenal 😀

    • itsmearni says:

      Hai salam kenal juga
      Makasi ya udah mampir 🙂

      Iya banget, sebenarnya orang kita itu suka bertutur dan suka mendengar. Sayangnya makin kesini budaya bertutur itu jauh berkurang, dengan alasan kesibukan dan tak ada waktu. semua orang bergerak cepat dan lupa kalau mereka kehilangan banyak waktu untuk kebersamaan. Makin lama makin jarang melihat orang tua mendongeng buat anak. Alih-alih mendongeng, anak dibekali gadget agak bisa menjelajah sendiri.
      Makanya ada baiknya kita menulis, meski sebaiknya budaya bertutur juga tetap dipertahankan. Kelak tulisan atau kisah kita akan menjadi kenangan manis dimasa depan 🙂

  2. museliem says:

    Setuju sih mbak, klo kita mau suka mengabadikan foto dan mengaplodnya via sosmed… Contohnya ada temen yang suka mengabadikan foto yang latar belakang orng jalan-jalan, karena katanya dia suka mengabadikan ekspresi orang lain ketika makan, hang out atau jalan-jalan bareng…

    Nah, masalahnya nitizen ini nyinyirnya amit2 deh.. Misalkan aplod foto apa dibilang pamer, aplod apa dibilang apa lagi.. Padahal sosmed itu adalah salah satu tempat untuk nyimpen foto.. Makanya sedih banget pas kemrn MP mati, foto2 itu ilang juga…

    • itsmearni says:

      Klo mikirin nyinyirnya orang ya kita gak jadi ngapa2in Muse. Selama tidak merugikan orang lain buat saya sih sah-sah aja
      Iya sih pasti ada aja yang bilang pamerlah, noraklah, lebaylah dan sejenisnya, sebagai makhluk sosial mau gak mau kita akan berhadapan dengan situasi seperti itu. Buat saya sih pinter-pinternya kita aja memilah mana hal yang mau dishare mana yang gak perlu. Khan tidak semua hal tentang kita kudu diketahui dunia khan 🙂
      Ada kalanya kita ingin berbagi kisah, berbagi kebahagiaan, tak ada yang salah dengan itu
      Ya memang agak lebay jadinya klo dikit2 posting, lagi makan disini, lagi kena macet disana, lagi check in disono, mau terbang ke luar angkasa dan segala derivasinya yang mungkin ya memang agak bikin empet yang ngeliat ya karena jadinya kok sosmed jadi tempat pamer ini itu.
      Ibarat didunia nyata, di sosmed kita juga punya tetangga, tetap perlu saling menghargai 🙂
      Begitu aja sih menurutku

      Ou iya soal MP, hiks memang tak ada tempat lain seindah MP. Aku aja butuh waktu hampir 2 tahun nih buat move on dari MP agar bisa nulis lagi, wlopun sebenarnya belum bener-bener move on sih tapi ya udah mendinganlah. Niatnya memang ingin mencatatkan beberapa momen “penting” agar jadi kenangan manis dimasa depan
      Dan semoga gak bernasib sama dengan MP ya #berdoakenceng

  3. ayanapunya says:

    bagusnya lagi foto2nya itu dicetak kali ya, mba. biar lebih afdol. hehe

  4. jampang says:

    setuju sama mbak yana…. selain dibadaikan di dunia maya plu ceritanya… ada juga yang dicetak sekalian sebagai backup cadangan

    • itsmearni says:

      Siiip saya juga begitu mas
      Selain di medsos, laptop dan hardisk, beberapa foto memang dicetak, taro dialbum atau pajang didinding. Tapi ya cuma dikit sih versi cetaknya abis bingung mau nyetak yang mana saking bagis semua hihi

  5. tinsyam says:

    kalomemorable fotonya ku jadiin postcard aja..
    kalo di sosmed itu kaya muse bilang banyak yang nyirnyir dibilang pamer..
    dimari biasanya ku posting via instagram aja foto mah.. mogamoga ga hilang..

  6. seniorjowo says:

    Bangun tidur baca cerpen Putu, jadi terpikir foto² makanan yang kumasak sendiri dan kufoto akan tidak basi…….awet…

    • itsmearni says:

      Bener mbah. Fotonya jadi gak basi dan kreatifitasnya jadi terabadikan
      Apalagi kreasinya mbah cakep-cakep banget, sayang klo gak difoto

      • seniorjowo says:

        gak selalu kufoto, karena berulang, seandainya Andre tanya PA DAH DIFOTO? ya aku foto…hehehe…temen²ku kalau makan ditempatku suka jeprat jepret pake HP…..

        • itsmearni says:

          Andre tau banget ya selera papanya haha. Iya aku juga klo udah masakan berulang biasanya gak difoto lagi mbah
          Eh tapi aku yo salut mbah telaten banget tuh platingnya, ngehias2 makanan secantik mungkin, klo aku mah udah keburu laper itu dah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s