Pesan Cinta Untuk Prema

Prema sayang….
Hari ini ibu akan menuliskan rangkaian aksara untuk dirimu. Walaupun ibu tak cukup pandai menalikan kalimat menjadi paragraf indah, tak juga ahli mengayam kata-kata yang membuai hati, tapi ibu berharap dapat menulis paragraf berupa doa, harapan dan curahan kasih untukmu. Surat ini akan ibu bagi menjadi 3 bagian yang saling terpaut dan semoga saja dapat bermakna, bagian pertama adalah sekolah kehidupan, selanjutnya pelangi kehidupan dan akan ibu tutup dengan mutiara kehidupan.

Kita mulai saja ya, Nak.

image

Sekolah kehidupan

1 April 2006, Ayah dan ibu mengikat janji menyatukan hati. Sejak itu kami siap bergandengan tangan menatap masa depan, meniti jembatan kehidupan tahap yang baru. Hari demi hari kami menanti kehadiranmu sayang. Bulan berlalu, tahun berganti, rupanya kami harus banyak belajar bersabar. Vonis endometriosis sampai saran untuk program kehamilan lewat inseminasi buatan atau bayi tabung membuat kami harus banyak belajar lagi. Belajar sabar. Belajar kuat. Belajar pasrah pada kehendak-Nya dan tak lupa terus berusaha yang terbaik. Hingga pada suatu hari, dijumat pagi bulan Juni 2009, testpack bergaris dua itu mengubah dunia kami. Sejak itu dunia tampak cerah ceria, penuh semangat dan siap mengukir kisah yang baru.

Perjalanan selama 9 bulan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Setiap bulan harus opname karena bleeding. Setiap hari harus kerja naik motor dan kereta yang penuh sesak. Ditambah mood yang naik turun. Ah ya, mengenang semua itu sekarang terasa indah, tapi jangan tanya rasanya saat menjalani ya. Tidak apa-apa, Nak, sekali lagi kami memasuki kelas baru disekolah kehidupan, kelas dengan materi bagaimana mempersiapkan diri menyambut kehadiranmu.
Dan hari itupun tiba, 4 Maret 2010, pukul 7.05 WIB tangismu hadir membelah kesunyian pagi. Bayi mungil dengan BB 2.48 kg dan panjang 45 cm. Dirimu paling mungil diantara para bayi yang lahir hari itu, Nak. Lalu kita sama-sama naik kelas lagi, belajar dengan materi yang baru, merawat bayi. Memberi ASI eksklusif menjadi tekad ibu dan ayah sejak Prema masih dalam kandung, no MPASI dini sampai dengan usia 6 bulan, menerapkan RUM, semua melalui proses pembelajaran, untuk Prema, untuk kakek nenek, tentu saja untuk kami juga, orangtuamu.

image

Dan semestapun membuka dirinya untuk menyambutmu, Nak. Matahari tersenyum manis setiap pagi menyambut dirimu yang duduk dipangkuan kakek, berjemur di depan rumah mungil kita. Hujan terkadang turun mendinginkan udara yang panas terutama saat hormon cinta mengalir dalam proses menyusui. Angin semilir merasuk disela kisi jendela untuk menyejukkan kita. Mengikuti setiap tahap perkembanganmu, mengangkat kaki, tengkurap, merangkak, merambat, berjalan, berlari, mengoceh, semua adalah sekolah kehidupan yang terpampang nyata dihadapan kami. Bahwa semua akan terwujud selama kita terus berusaha. Bahwa segala hal harus diperjuangkan. Kami merasa menjadi penonton sekaligus pemain, pemandu sorak pemberi semangat sekaligus merasakan gemuruh hati melihat kegigihanmu untuk menapak tahap demi tahap. Dan luar biasa, banyak sekali materi tersaji, siap dilahap untuk memuaskan rasa lapar dan penasaran akan proses bertumbuh anak manusia.

Nak, ibu tahu bahwa apa yang sudah kami lakukan sebagai orangtuamu masih jauh dari kata sempurna. Ibu bahkan sempat merasa kehilangan banyak momen indah dalam perjalanan kita. Iya, ibu harus bekerja, sayang. Berangkat pagi dan pulang di malam hari. Meskipun ibu meninggalkanmu dengan puluhan botol ASIP namun tetap saja tak bisa menggantikan kehadiran ibu disampingmu, hati ibu merindu selama bekerja, hati ibu menangis setiap pagi saat berangkat ke kantor. Maafkan ibu ya, Nak. Tapi disanalah kita sama-sama belajar. Prema belajar mandiri, belajar kuat dan sabar sementara ibu belajar menata hati dan berdamai dengan pilihan. Ibu belajar untuk kuat, terutama disaat-saat Prema sakit dan tak memungkinkan buat ibu untuk cuti, duh rasanya pengen menangis seharian. Dan materi ikatan hati dikelas inipun akhirnya kita lewati sayang, penuh kisah, penuh cinta, pelukan hangat dan tentu saja perdamaian yang indah diantara kita.

Perjalanan di sekolah kehidupan ini kemudian berlanjut ke tahap berikutnya. Nini dan Mbah tak memungkinkan untuk terus menerus bergantian menjagamu, ibupun makin berat meninggalkanmu setiap hari. Maka, 30 Oktober 2012, menjadi hari terakhir status ibu sebagai pekerja kantoran. Kita menuju kelas yang baru sayang. Kelas dimana kita benar-benar akan menghabiskan hari-hari, mengukir kisah bersama. Dan lagi-lagi ibu dipertemukan dengan banyak pelajaran baru. Prema yang semakin kritis, udah bisa protes, udah bisa tanya ini itu, dengan rasa ingin tahu yang membuncah, membuat ibu harus terus memutar otak, terus belajar agar bisa beriringan dengan pertumbuhanmu. Mulai selektif memilih bacaan, tontonan, nyanyian, bersikap, berkata dan berbuat. Ibu sadar sepenuhnya bahwa anak adalah peniru yang ulung, maka sebisa mungkin ibu dan ayah harus memberi contoh yang baik. Kadangkala ada saatnya kami lupa, menaikkan volume suara atau melontarkan kata yang kurang pas buatmu dan tersadarnya justru karena diingatkan oleh Prema, maafkan kami untuk hal itu. Tapi kami janji akan terus belajar.

Iya Nak, tak ada masanya untuk lulus dari sekolah ini. Karena kita akan terus dipertemukan dalam babak yang baru, terus berkembang. Tak ada sekolah formal yang bisa menggantikannya. Tak ada ijazah ataupun tanda jasa yang disematkan, karena semua berlangsung alami, selamanya, sepanjang hayat dikandung badan. Hanya jiwa-jiwa bebas kita yang merasakannya bahwa ada bahagia dalam cinta bernama keluarga. Bahwa ada kasih dalam rumah yang hangat. Seperti namamu ; Prema yang berarti cinta kasih. Ibu harap Prema bisa merasakan itu.

Pelangi kehidupan

Dear Prema,
Kita menuju ke bagian kedua surat ibu untukmu. Ibu beri judul pelangi kehidupan. Sebagaimana pelangi yang muncul setelah hujan, yang berpadu indah dalam lengkung warna warni alam, berupa lukisan alam nan mempesona, demikian pula kiranya kehidupan yang akan kau temui, Nak.

Kelak ada masanya kau akan bertemu dengan warna-warni kehidupan. Ada perbedaan dalam banyak hal. Ada ragam budaya, ragam bahasa, ragam adat istiadat bahkan ragam agama. Ada mayoritas dan minoritas. Ada baik dan buruk. Ada kritik dan saran. Ada musim yang berbeda. Ada panas dan hujan, ada masalah yang harus kau selesaikan sendiri, tugas kami orang tuamu adalah mempersiapkan dirimu agar kelak menjadi pribadi yang kuat dan pantas berada ditengah ragam itu, karena selanjutnya keputusan akan menjadi tanggung jawabmu.
Kami berharap kelak kau bisa menjadikan setiap perbedaan yang kau temui itu sebagai pengkayaan diri, pembuka cakrawala pemikiran, pengembangan empati, simpati dan toleransi. Bahwa setiap perbedaan bukan untuk diperdebatkan, silahkan buka ruang diskusi seluas-luasnya, berbagi buah pemikiran, untuk menjadikanmu pribadi yang matang bukan untuk mencari kesalahan atau kekurangan. Karena sesungguhnya pelangi tak lagi indah jika hanya memiliki satu warna, demikianlah hidupmu kelak, Nak, jadikan kehidupanmu berwarna dan berpadu seindah pelangi, melengkung memahat alam, dan menjadikan orang-orang tersenyum bahagia.

image

Mutiara kehidupan

Akhirnya kita tiba dibagian akhir surat ibu. Kenapa ibu memilih mutiara? Ibu mau cerita sedikit ya bagaimana sebutir mutiara terbentuk.
Jadi Nak, mutiara itu tumbuh dan berkembang dalam tubuh kerang. Acapkali kerang “kesakitan” ketika butiran pasir memasuki tubuhnya. Acapkali pula kerang bersabar dan merawat butiran pasir itu. Dengan penuh keikhlasan kerang menerima setiap butiran pasir yang ‘menyakiti’nya, hingga tiba saatnya gumpalan pasir yang terus membesar itu keluar dan bersinar indah berkilauan sebagai mutiara.
Demikian pula kita manusia, akan selalu ada masalah yang kita temui, ada aral menghadang langkah, namun dengan tetap ikhlas, sabar dan kuat maka nantinya akan berakhir indah laksana mutiara. Tuhan memberi ujian untuk lebih menguatkan kita. Tak ada masalah tanpa solusi. Karena sesungguhnya setiap pribadi yang hadir ke dunia ini telah mempunyai garis hidupnya sendiri, tugas kita menjaga agar garis tersebut berada dijalur yang benar.

Prema sayang…
Setiap orang mencatatkan sejarahnya sendiri. Panjatkan doa disetiap aktivitasmu. Isilah kanvas kehidupanmu dengan lukisan indah. Nyanyikan nada-nada cinta dalam senandung hidupmu. Tuliskan kisah penuh warna dalam memori kehidupanmu. Bentangkan sayapmu merengkuh sulur-sulur dunia. Hembuskan kesejukan dalam tarikan nafasmu. Jadikan dirimu setegar batu karang dalam menghadapi deburan ombak. Jadilah pribadi yang bermanfaat untuk orang banyak. Menghias langit sebagai bintang terang. Bersinar laksana mutiara.

Nak, bagian akhir surat bukanlah akhir kisah kita. Ini hanyalah penutup pesan cinta ibu untukmu. Karena sesungguhnya langkahmu baru saja dimulai. Jalan panjang terbentang di depan sana siap untuk kau susuri. Samudera luas membuihkan ombaknya, siap untuk kau arungi.
Melangkahlah dengan pasti.

————

Selamat menempuh sekolah kehidupan anakku, kami mendampingimu
Selamat melukis pelangi dalam perbedaan anakku, kami menyertaimu
Dan bersinar teranglah, kami mencintaimu sebagai mutiara dihati kami

Peluk cium
Ibu (dan Ayah)

***************

image

Disertakan dalam #giveaway #suratuntukAnanda di rumah keluarga biru

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, keluarga kecilku, Lomba and tagged . Bookmark the permalink.

23 Responses to Pesan Cinta Untuk Prema

  1. Indahnya catatan hati Ibu untuk buah hatinya. Prema pasti sangat tersentuh dan bangga kalau membacanya besar nanti. Semoga Prema tumbuh dan menjadi seperti yang diharapkan Ibu dan Ayahnya ya, aamiin.
    Good luck ya mbak GAnya :β™₯

    • itsmearni says:

      Makasi mbak winny udah nyempetin baca surat (kepanjangan) ini
      Udah usaha ngedit sana sini tapi jadinya tetep panjang euy
      Makasi juga doanya buat Prema

      Mbak Winny juga ikutan yuk GA nya
      Klo mbak winny yang nulis pasti jauh lebih bagus deh

  2. penuhcinta26 says:

    Arniiii…he..he..suratnya panjang amaat…eaaa…cuma baca aja kok protes..ha..ha..ha.

    20 tahun yg akan datang, Prema akan membaca surat ini dengan berkaca2 dan penuh haru.

    • itsmearni says:

      Hihi iya mbak irma, parah nih aku gak bisa nulis hemat. Tadinya mau ambil per bagian aja tapi kok yo rasanya kurang lengkap, masa iya bikin surat pake bersambung hihi

      Mudah2an blognya awet mbak, gak kegusur kayak jaman MP jadi 20 tahun lagi tetep bisa dibaca ini surat. Gak kebayang deh kayak apa rasanya baca ini nanti, paling mikirnya “ish lebay amat yak isinya.” hahahaha

  3. omnduut says:

    Aduh ini aku bacanya sweeeeet bangeeet πŸ™‚

  4. itsmearni says:

    Gulanya berapa kilo Oom? :p

  5. faziazen says:

    Bli Prema ganteng sekali πŸ™‚

  6. Di' says:

    Mengharukan sekali isinya, Arni. Bikin bahagia bacanya karena kata2 dan kalimat demi kalimatmu yang manis dan penuh kasih untuk Prema.

    • itsmearni says:

      Waaaaaa hari ini mbak Dian borongan nih baca blogku. Makasi banyak mbak udah meluangkan waktu untuk membaca surat ini
      Errr… Soal pemilihan kata, jujur aja dibeberapa bagian saya merasa agak lebay sih, tapi saya belum bisa menemukan kalimat pengganti yang lebih singkat dan pas untuk mengungkapkan isi hati, jadi ya agak-agak boros kalimat ya jadinya

      Semoga WP ini gak bernasib sama dengan MP ya mbak, biar kelak surat ini jadi kenangan untuk masa depan πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s