Apresiasi

Apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk ituberasal dari kata kedua “to aprreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang (Aminudin, 1987)

**********

Hari ini sembari menunggu antrian dokter untuk check up rutin saya pasca laparascopy, agar tak bosan menunggu kami melipir sejenak ke museum nasional,

yang kebetulan posisinya tak jauh dari RS Bunda, tempat saya akan kontrol.

Berkeliling menikmati berbagai ornamen peninggalan jaman purbakala, langkah kami terhenti disebuah aula dimana sedang berlangsung perlombaan nyanyi antar sekolah SD di Jakarta dalam bentuk grup. Masing-masing grup menyanyikan 2 lagu, yang pertama lagu anak bertema persahabatan, yang kedua lagu daerah Indonesia. Prema, 4 tahun 11 bulan, menikmati sekali setiap penampilan dan bertepuk tangan penuh semangat setiap kali satu grup menyelesaikan aksinya.

Lalu saya menyaksikan pemandangan yang agak menggelitik hati saya. Tepat didepan saya duduk serombongan besar orang tua dari grup yang tampil. Dari penampilannya tampak mereka orang-orang berada, berpendidikan dan gaul. Gadget terbaru, kamera berlensa panjang, tas mewah dan segala penanda lainnya. Ibu-ibu gaul (kita sebut saja begitu) ini, berfoto heboh berlatar panggung tepat saat anak-anak mereka tampil. Berlomba kedepan merekam dan memotret anak mereka hingga menutupi penonton lain yang duduk. Dan mereka juga bertepuk tangan super meriah dan heboh saat anak mereka turun panggung.

image

Dua nomor setelah penampilan anak mereka, grup lain naik panggung. Ada 5 anak. Penampilannya luar biasa, setidaknya menurut saya dan suami. Pemilihan lagu yang pas, pembagian vokal yang berimbang, penguasaan panggungnya mantap dan yang paling penting ekspresi dan aksi panggungnya bercerita banget. Saya yang nonton dari pertama sampe bisik-bisik sama suami bahwa grup ini pasti menang. Begitu mereka usai, kompak, saya dan suami, satu orang juri didepan, beberapa panitia dan orang tua grup yang tampil itu serta beberapa penonton lainnya serentak berdiri, bertepuk tangan. Dan tahukah kawan? Tak satupun dari grup orang tua yang saya kisahkan diatas bertepuk tangan, iya lho, benar-benar tak ada satupun. Mereka menonton dan diam. Mereka melihat dan memilih tak bertepuk tangan.

Jujur saya agak gimanaaaaa gitu ngeliatnya. Spontan saya dan suami pandang-pandangan, melihat ke arah para ibu gaul itu. Rupanya pikiran kami sama. Dan jadilah topik itu kami bahas.
Apresiasi. Iya, tampak sepele sih. Tapi saya kok miris ya melihat betapa susahnya orang mengapresiasi kelebihan orang lain, betapa beratnya tangan digerakkan sekedar bertepuk, betapa sulitnya mengakui ada yang lebih baik. Kalaupun tak lebih baik yo minimal tepuk tangan untuk penghargaan atas penampilan anak-anak itu.

Hal seperti ini sering secara tak sadar terjadi disekeliling kita. Begitu bangga dengan milik sendiri hingga melihat yang lain lebih rendah atau tak perlu dihargai. Bahkan saat berprestasi sekalipun, karena kadung tak sepaham sejak awal tetap saja tak membuatnya layak diapresiasi dengan baik. Alih-alih mendapat pujian, yang ada malah dicari kesalahan lainnya, kalau istilah sekarang, nyinyir.

Gagal paham saya sama yang begini. Eh tapi dengan menuliskan ini, jadinya saya juga nyinyir ya. Siapa saya memangnya yang berhak menilai perilaku orang lain. Ya sudahlah kalau begitu, biar gak kebablasan jadi nyinyir beneran, saya sudahi saja deh tulisan ini.

Salam apresiasi!

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged . Bookmark the permalink.

19 Responses to Apresiasi

  1. Bagi sebagian orang yang dikungkungi ego yang tinggi dan dominan anti sosial, maka lebih cenderung sulit mengapresiasi kelebihan orang lain. Merasa diri lebih unggul, lebih pantas, lebih cakep, dll. Semoga kita dijauhkan dari sifat buruk seperti itu.

  2. jampang says:

    sepertinya ada sebab kenapa ibu gaul itu berbuat demikian…. mungkin masa lalu… atau pergaulannya yang kurang baik 😀

  3. museliem says:

    Heheehe… yah begitulah.. SMOS…

  4. faziazen says:

    laparascopy itu apa ya mbak?

    • itsmearni says:

      Laparoscopy itu jenis operasi mama saladin. Operasi dengan minimal luka, minimal resiko, minimal pendarahan sehingga proses pemyembuhannya lebih cepat. Biasanya dilakukan untuk pengangkatan kista, mioum, usus buntu, pembukaan penyumbatan dan lain-lain
      Klo dalam kasus aku, laparoscopy dilakukan untuk mengangkat endometriosis (kista coklat) yang Astungkara sampai 2 kali bolak balik bertumbuh dalam rahim, jadi udah 2 kali pula aku laparoscopynya. Pertama sebelum ada Prema, kedua tahun kemarin 🙂
      Untuk lebih jelasnya proses laparoscopy, gugling aja ya mama saladin, aku menjelaskan dengan bahasa awam soalnya 🙂

  5. Pingback: Museum Nasional ; Menelusuri Sejarah Peradaban | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

  6. Di' says:

    Semoga proses selanjutnya sesudah operasimu beres dan kamu sehat, Arni.

    Menyoal memberikan penghargaan pada orang (baca: anak) lain, memang tidak semua ortu bisa. Karena anak2ku erat hubungannya dengan tampil di depan umum, aku sering memperhatikan reaksi ortu lain ke anakku dan anak orang lain. Ironisnya, segelintir ortu Indonesia itu memang sepertinya punya ego lebih tinggi kalau dibandingkan ortu dari bangsa lain. Kemungkinan karena mereka tidak belajar untuk menghargai seni pada dasarnya. Ada yang beranggapan apa yang ditampilkan seseorang terlalu sederhana dibandingkan dengan anaknya, ngomong,”Anakku juga bisa kalau cuma begitu”. Pernah dengar kan? Hal lain, penghargaan berdasarkan kelompok dan kedekatan. Jangan heran kalau misalkan ada beberapa ibu yng memang dekat memberikan penghargaan yang seru untuk seorang anak karena anak itu anaknya ibu A, yg anggota kelompok mereka. Sementara saat anak B maju dan tampil sama baiknya, didiamkan saja. Bisa jadi karena ibu anak B bukan anggota kelompok itu. Ironis kan?
    Anak2ku sampai tahu loh, Arni, bagaimana orang2 kita memberikan penghargaan utk mereka. Makanya mereka segan tampil utk org2 Ind kebanyakan, apalagi yg banyaknya bukan teman2ku. Membandingkan bagaimana reaksi ortu dari bangsa lain saat datang ke sebuah konser atau acara tertentu, mereka ada yang mendatangi si anak dan memberikan semangat serta pujian serta selamat lebih lanjut.

    • itsmearni says:

      Terimakasih untuk doanya mbak Dian, karena kondisi ini saya jadi cukup “kebal” setiapkali ada yang tanya soal kapam memberi adik buat Prema, sama kebalnya ketika dulu sempat kosong 4 tahun sejak nikah sampai kemudian bisa hamil, capek ngadepin orang-orang kepo yang selalu pengen tahu dan gak mikirin perasaan kita yang mak nyesss ketika ditanyakan hal yang sama berulang-ulang seperti itu. Belum lagi kadang disertai dengan aneka “vonis” versi mereka
      *ups maaf, malah jadi curhat*

      Back to topic
      Iya nih, dalam masyarakat kita kayaknua memang budaya untuk mengapresiasi karya orang lain sangat kecil. Lihatlah kecilnya minat orang datang ke pameran seni misalnya. Belum banyak orang yang bisa menikmati sebuah karya seni. Dalam banyak kasus orang kita itu agak mengedepankan ego dan kedekatan dengan pihak tertentu untuk bisa memberi penghargaan, seolah-olah adalah kesalahan besar ketika mengakui kesuksesan pihak yang bersebrangan posisi dengannya. Agak menyedihkan ya, tapi ya begitulah adanya. Semoga kedepannya bisa lebih baik
      Salam sukses buat trio emaurian, aku selalu berdecak kagum melihat keberhasilan mereka bertiga dalam bermusik, salut juga sama mbak Dian yang begitu telaten mendampingi mereka, belajar banyak deh aku sama dirimu mbak 🙂

      • Di' says:

        Terima kasih Arni buat perhatianmu ke anak2 dan kiriman semangat buatku. Kesalahan terbesar orang2 yang tidak bisa mengahrgai karya atau penampilan orang lain adalah mereka berpikir memuji orang lain adalah sebuah hal yg sia2, nggak mau bikin orang lain GR apalagi bahagia dan meremehkan orang lain.

        • itsmearni says:

          Nah saya gak habis pikir deh klo ada yang menganggap memuji orang lain itu sia-sia. Hatinya terbuat dari apa ya, begitu sempitnya dia melihat dunia, begitu menutup dirinya dia dari keragaman yang indah

          Tapi beneran mbak Dian, aku tuh salut banget sama Emily, Audrey dan Bayu. Mereka bertiga itu konsisten sekali menekuni bidangnya, menikmati setiap alat musik pilihannya. Soalnya jarang ngeliat anak-anak seusia mereka yang begitu konsisten bermusik, kecuali yang memang kedua orang tuanya adalah pemusik profesional 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s