Museum Nasional ; Menelusuri Sejarah Peradaban

Seperti yang pernah saya posting sebelumnya disini, bahwa sabtu, 14 Februari kami mengunjungi Museum Nasional atau dikenal juga sebagai Museum Gajah, mungkin karena tepat didepan museum tersebut ada patung gajah yang merupakan hadiah dari Kerajaan Siam ratusan tahun yang lalu (jujur, saya lupa tahunnya, diprasastinya sih ada, tapi saya lupa)

image

Dengan HTM yang terjangkau, bahkan sangat murah menurut saya, dewasa Rp 6000,- dan anak-anak Rp 2000,- kita akan diajak memasuki lorong waktu, melihat perkembangan peradaban jauh sebelum seperti sekarang, jaman purba, jaman kerajaan dan berbagai budaya suku bangsa di Indonesia

image

Memasuki ruang pamer pertama kita akan disambut oleh patung Ganesha. Prema sempat berhenti dan agak heboh disini karena merasa “kenal” sama patung ini. Bahkan sempat melantunkan mantram Ganesha yang memang sudah biasa dilafalkan olehnya. Iya, buat kami umat Hindu, Dewa Ganesha adalah salah satu Dewa yang wajib dipuja.

image

Semakin ke dalam makin banyak patung dan prasasti yang kami temui, semua ada keterangan mengeni asal-usulnya termasuk peninggalan dari tahun berapa, sebelum atau sesudah masehi. Ada pula berbagai peralatan hidup manusia jaman dahulu, dari peralatan masak, pemecah batu, peralatan berburu, pembuat api bahkan pada jaman tertentu ditemukan berbagai perhiasan serupa kalung, anting dan gelang yang berarti dulu mereka juga sudah berdandan mempercantik diri.
Selain itu ada ruang pamer kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Alat musik gamelan dari Bali dan Jawa, jenis-jenis wayang, pakaian adat berbagai daerah dan segala ciri khas Indonesia.

image

image

image

Oh ya, Prema ini excited sekali mengunjungi museum karen sebelumny menonton film Night at the museum, yang mana disaat malam, semua penghuni ruang pamer hidup dan beraksi. Film yang seru dan sukses membuat Prema pengen berada di museum sampai malam agar bisa melihat patung-patungnya hidup. Lalu Prema mulai berceloteh membuat kisah museum versi dia. Haha dasar anak-anak. Imajinasinya kadang diluar dugaan.

Dari ruang pamer budaya, langkah kami berpindah keruang berikutnya yang ternyata sedang digelar berbagai acara untuk anak-anak. Ada lomba mewarnai museum yang sukses bikin Prema merengek minta ikutan, tapi sayang gak bisa hehe, ada lomba pentas seni yang pernah saya bahas dijurnal sebelum ini. Dan disinilah langkah kami terhenti, Prema gak mau pindah, asyik menonton aksi panggung anak-anak berbakat itu. Kami disini sampai jam 12 siang, sudah waktunya kembali ke RS untuk kencan dengan pak dokter, jadi ya Selamat tinggal museum. Padahal klo kata suami saya, masih banyak ruang pamer yang menarik untuk dikunjungi. Nantilah lain waktu kita ulang kunjungan ini.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari mengunjungi museum ini. Bahwa peradaban manusia berkembang sedemikian rupa. Banyak tahap yang harus dilalui. Kadang manusia jaman sekarang menganggap yang lampau itu kuno, primitif dan ketinggalan jaman. Padahal kita tak pernah benar-benar tahu bagaimana pola kehidupan di masa itu. Kadang kita sombong merasa lebih hebat dan lebih modern, padahal semua kita terbentuk dari masa lalu. Karena itu warisan sejarah tidak untuk dilupakan, mari lestarikan bersama.

Sungguh, masuk kesini membuat saya kagum betapa Indonesia ini kaya akan keragaman budaya dan adat istiadat. Betapa Indonesia ini punya beragam corak kehidupan, bermacam agama dan kepercayaan, berbagai suku bangsa dan beribu pulau yang terhubung satu sama lain oleh satu kesamaan, karena kita adalah INDONESIA.

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Review and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Museum Nasional ; Menelusuri Sejarah Peradaban

  1. Ahmad says:

    menelusuri <= me + telusur + i
    telusur <= tusur + (sisipan) el

    Benarkah?
    Kok ada ya, kata "tusur"? πŸ˜€

  2. jampang says:

    saya baru sekali ke museum πŸ˜€

  3. nengwie says:

    Kangmas males diajak ke Jakarta kalau pulkam… Ngga betah katanya lihat kota Jakarta..sutriiis..hihi

    • itsmearni says:

      Hehehe jangankan kangmasnya teh Dewi, saya aja klo bukan karena ada urusan yang pentiiiiing banget, males juga ke Jakarta.
      Eh tapi ini sejaj berhenti kerja, saya seringnya ke Jakarta saat week end yang mana kondisinya sedikit lebih bersahabat lah ya, gak terlalu macet gitu πŸ™‚

  4. nengwie says:

    Eeh kekiriiim… πŸ˜€

    Jadi kalau pulkam jarang muter2 Jalarta… Sowan sama Oom di Jakarta bentaran, trs balik ke Jerman, soalnya sowannya menjelang pulang ke Jerman lagi …

  5. Di' says:

    Pertama kali aku ke museum ya, ke Museum Nasional ini waktu SD. Aku langsung kagum dan berimbas kuat ke aku. Aku jadi senang belajar sejarah dan cita2ku waktu SD (dari kelas 2 loh) mau jadi arkeolog. Sampai sekarang, mengunjungi museum itu adalah keharusan saat aku dan keluarga pergi ke suatu kota. Aku sudah ke museum yg besar dan kecil, bahkan kalau museumnya terlalu besar, harus beberapa kali ke sana. Aku senang banyak orang terutama generasi muda mau dan suka datang ke museum di Indonesia. Semoga museum2 di tanah air bisa makin baik wujudnya dalam hal barang2 yang dipamerkan, upaya pelestarian, perawatan dan pengenalan sejarah Indonesia.

    Ngomong2, “menelusuri” itu benar, dari asal kata “telusur”. Huruf “t”-nya jadi lebur dengan “me”. Contoh kata2 lain: “menari” dari “tari”; “menabur” dari “tabur”; “menampik” dari “tampik”.

    • itsmearni says:

      Bener mbak, saya sejak dulu jatuh cinta sama sejarah. Selain ke museum, saya menikmati sekali membaca buku/novel yang ditulis dengan latar belakang sejarah yang kental. Rasanya saya ikut terbawa ke masa lalu dan membayangkan kondisi dimasa lampau. Menarik mengikuti intrik dalam kerajaan dimasa lalu, menarik membayangkan kebesaran sebuah bangunan bersejarah dan cerita dibaliknya, selain itu banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mengetahui sejarah. Sayangnya di Indonesia minat orang ke museum masih sangat kurang mbak, beda dengan di LN, segala peninggalan masa lalu terawat dengan baik, ditata dengan apik. Kapan ya Indonesia bisa begitu juga?

    • itsmearni says:

      Ou maaf lupa nanggapin soal menelusuri. Terimakasih banyak mbak, menambah wawasan berbahasaku. Iya ya, baru ngej ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang awalannya mengalami peleburan untuk menyesuaikan dengan imbuhan yang menyertainya. Sekali lagi makasi mbak Dian πŸ™‚

  6. alrisblog says:

    Mengunjungi museum lebih memberikan pelajaran daripada ke mall. Yang satu dapat ilmu yang satu ngabisin uang, hehe…
    Sering lewat doang didepannya. Nanti mampir ah…

    • itsmearni says:

      Iya banget. Eh sebenarnta klo ke mall nya jalan-jalan doang sih gak ngabisin duit juga lah ya
      Tapi emang bisa? Lapar mata liat discount disana-sini, trus perut juga kriuk-kriuk tiap lewat food court atau resto yang bertebaran, kalap liat aneka buku di gramedia, hati teriak pengen nonton pas liat ada film bagus di XXI, anak mewek minta main di timezone. Habis sudah usi dompet hahahaha

  7. Salam kenal mba πŸ™‚ nice post..sy sm suami jg suka jln2 ke museum..murah tp penuh manfaat ^β€’^

  8. faziazen says:

    museumnya bagus,,,tiketnya murah
    tapi kok keliatannya sepi ya?

  9. Pingback: Prema dan Panggung Festival Dongeng Indonesia | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

  10. Pingback: Mau Narsis Bareng Idola? De Arca Statue Museum Tempatnya | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s