Saat Kemampuan Mendengarnya Menurun

Panik!
Iya panik, itulah yang pertamakali saya rasakan. Berkali-kali meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya dugaan saya saja. Berkali-kali pula menangis diam-diam dikamar, dalam doa bahkan dikamar mandi. Berkali-kali memeluk untuk menguatkan hatinya dan meyakinkan bahwa iniΒ  hanya sementara padahal hati saya menangis sepenuhnya.

Prema. Ini tentang Prema.
Sekitar dua minggu lalu Prema tiba-tiba sering sekali meminta saya mengulangi setiap perkataan yang saya ucapkan padanya. “Prema gak dengar ibu, ayo katakan lagi,” begitu pintanya
“apa Sih? ibu bilang apa? yang kenceng dong ngomongnya,” kadang seperti ini yang dikatakannya
Awalnya saya pikir dia bercanda, sengaja mempermainkan saya dengan bersikap pura-pura tak mendengar. Selama ini kami sering bercanda begitu untuk meminta satu sama lain mengulangi apa yang kami ucapkan. Tapi kemudian saya makin khawatir ketika Prema menonton TV dengan suara keras, katanya kalau suara kecil gak kedengaran. Ketika saya tak berada didepannya dan mencoba memanggilnya, Prema diam saja. Tidak menyahut, tidak menoleh. Begitu dihampiri, Prema bilang gak mendengar panggilan saya 😦

Dalam tanda tanya besar saya coba bahas ini bersama Ayah ; ayahnya Prema tentunya ya, bukan ayah saya, karena itu jadinya kakek *halagh dibahas* dan kami sempat menduga ini masalah fokus. Karena dia sedang fokus pada sesuatu, maka ketika dipanggil atau diajak ngobrol kami harus mengalihkan fokusnya. Untuk sementara kami tenang, tapi tetap observasi berlanjut terutama buat saya, karena saya yang setiap saat mendampinginya di rumah. Puncaknya suatu malam dihari minggu, Prema sembahyang berdua Ayah di dalam kamar. Posisi saya saat itu di dapur yang terpisah oleh satu ruangan lain diantaranya. Saya mendengar dengan jelas setiap kata, setiap doa yang diucapkan oleh ayah termasuk aba-aba pergantian sikap saat sembahyang. Begitu sembahyang usai, tiba-tiba Prema menangis tersedu dan bilang “Prema belum sembahyang, Prema ndak bisa sembahyang, Prema ndak denger suara Ayah,” kata Prema sambil terisak.

Deg. Saya menangis didapur. Saat itulah kami yakin ada sesuatu yang terjadi. Tenang. Kami harus tetap tenang. Sementara Ayahnya mencoba mencari tahu informasi dokter THT terdekat yang bisa langsung dikunjungi malam itu, saya mencoba membesarkan hati Prema dan meyakinkan dia bahwa gak ada apa-apa, dengan volume suara yang lebih keras dari biasa tentunya.Β  Dan ternyata gak ada dokter THT di hari minggu hiks. Adanya hari senin malam, maka kami membuat janji temu konsul untuk hari itu.

Selanjutnya kami, saya dan ayahnya, sibuk mencari cara untuk melakukan uji pendengaran. Dan kami menemukan permainan saling berbisik. Jadi caranya ayah berbisik sesuatu ke Prema lalu Prema membisikkan kalimat itu ke saya, yang giliran terakhir harus mengucapkan dengan lantang. Begitu seterusnya secara bergiliran dan memang rasanya telinga sebelah kiri Prema agak terganggu. Yang kanan normal, sepertinya. Saat kami coba meneropong dengan senter tampak ada sesuatu, semacam benjol atau bintil putih dalam telinga Prema yang kiri itu.

Huhuhu…. Jangan tanya perasaan saya saat itu. Hati ibu mana yang tak menangis. Berbagai bayangan buruk melintas dibenak saya. Berkali-kali suami meminta saya masuk kamar kalau mau menangis, jangan menangis didepan anak, jangan membuatnya tertekan. Duuuuhhh… Bahkan saat menuliskan ini sekarang, dada saya masih terasa sesak.

Senin pagi, saya sampaikan kondisi Prema ke wali kelasnya. Ini penting menurut saya, agar Prema tidak ketinggalan pelajaran karena masalah pendengarannya itu. Terutama sih agar gurunya memaklumi kalau-kalau Prema jadi agak gak nyambung komunikasinya.

Senin malam. Kami mengunjungi dokter THT disalah satu RSIA yang cukup terkenal di kota kami. Dokternya datang telat dari jadwal. Saat dokternya datang, saya langsung berbisik ke suami, “kok kurang meyakinkan ya tampilannya,” yang langsung disambut dengan, “udahlah jangan under estimate dulu, gak boleh menilai dari penampilan.” Hehe makjleb yak
Giliran Prema dipanggil. Begitu duduk dihadapan Pak dokter, saya langsung merasa gak sreg dengan cara komunikasinya. Duh ini beneran dokternya gak komunikatif blasss. Pelit sekali suaranya dan sangat tidak ramah pada anak-anak. Kami yang bolak balik bertanya dan dijawab seperlunya saja oleh dokter, kami (errr… sebenarnya saya sih yang cerewet)Β  juga sibuk menjelaskan kondisi Prema dan hanya dibalas dengan lirikan dan ‘hmm..’ saja oleh dokternya.
Dokternya cuma tanya “badannya panas?”
“Tidak,” jawab saya
“ada batuk pilek?”
“ada tapi kadang-kadang aja batuknya, pileknya juga udah gak encer,” jawab saya
Lalu Prema diperiksa, pakai senter yang menempel dikepalanya, kanan dan kiri. Kanan diperiksa, dokternya bergumam gak jelas yang kemudian diperjelas oleh perawatnya “adiknya ada radang ya bu,” katanya ramah
Kemudian sesuai informasi dari kami, dokter memeriksa liang telinga kiri Prema, memang benar ada benda asing yang ternyata adalah potongan sebutir beras. Entah bagaimana pula itu beras bisa ngumpet dalam liang telinga Prema.

Setelah itu pemeriksaan selesai. Saya bengong. Pandang-pandangan sama suami. Ini kok gak ada tes apa-apa ya buat Prema. Hmm… Mungkin ekspektasi kami yang ketinggian ya. Dokternya tau-tau udah nulis resep aja tanpa penjelasan apapun. Kami tanya dong ya
“Obatnya apa aja, dok?”
“Obat buat batuk pilek, antibiotik sama vitamin,” katanya pelan
Otak saya langsung muter nih begitu denger antibiotik diresepkan buat anak balita saya tanpa melalui tes apapun.
“kenapa harus pake antibiotik, dok?” saya mulai nyolot nih
“karena ada radang.” begitu jawabnya dengan mimik wajah yang nampak tak senang mendengar pertanyaan saya
“tapi dok….,” belum selesai ngomong, lengan saya udah dicolek pak Suami ngajak keluar. Langsung berdiri dan mengucapkan terimakasih. Ini ya bener-bener gak ramah deh dokternya, bahkan saat Prema ngucapin, “terimakasih pak dokter, selamat malam.” hanya dibalas dengan, “malam.” tanpa ekspresi gitu

Duuuuuh…. Asli ya saya kecewa berat. Sampe diluar saya sibuk ngomel jadinya huhuhu. Sebagai orang tua yang mencoba menerapkan RUM (rational use of medicine) yaitu penggunaan obat secara bijak dan rasional, kami sepakat untuk meminimalisir pemberian obat kimia kepada Prema. Untuk batuk pilek kami terbiasa menyelesaikannya dengan air putih yang banyak, makan buah dan sayur serta minum madu. Selanjutnya biarkan imun tubuhnya yang bekerja melawan virus batpil itu. Iya, batuk pilek itu karena virus, tubuh bisa menyelesaikannya sendiri. Lha ini ujug-ujug dikasi obat, puyer pula (yang kami ketahui belakangan ketika menanyakannya ke bagian apotek). Trus antibiotik katanya untuk radang. Lha klo radangnya karena batpil, berarti belum terbukti dong butuh antibiotik, bukannya antibiotik itu buat bakteri ya, itupun harus lewat tes untuk menentukan jenis antibiotik yang tepat. Trus vitamin, entahlah vitamin apa yang akan diberikan, tapi dengan menu makanan homemade yang selama ini saya siapkan, kami cukup yakin Prema terpenuhi lah ya kebutuhan vitaminnya.

image

Berbekal sedikit pengetahuan itu, kami memutuskan tidak menebus obatnya. Tapi kami berpikir untuk mencari second opinion dari dokter THT yang lain. Sayangnya karena sudah malam, sudah tidak ada yang menerima pendaftaran pasien lagi. Kami pulang dengan galau. Di mobil, kami berdiskusi lagi, benarkah kira-kira keputusan yang kami ambil ini?
Akhirnya Ayah memutuskan nyari makan malam aja dulu, yang deket-deket RS saja agar sekiranya berubah pikiran, dekat aja melipirnya buat nebus obat. Sekalian menenangkan diri dan perut. Ehk. Iya, ngomel dan galau adalah perpaduan yang pas untuk membuat perut lapar #ups

Selagi makan, saya mencoba menghubungi seorang sahabat saya, seorang dokter umum, di Jakarta. Saya tahu dia ini dokter yang pro RUM banget deh. Dan sangat concern pada kebijakan meminimalisir penggunaan obat yang ‘tidak perlu’. Saya ceritakan kondisi Prema. Termasuk soal resep yang tidak kami tebus itu. Dia minta saya menuliskan jenis antibiotik yang diresepkan. Apa daya tulisan dokternya terlalu antik, gak bisa bacanya saya. Akhirnya saya fotoin dan kirim via WA ke dia. Begitu baca, spontan dia bilang, “JANGAN!” Prema gak butuh Sporatic, itu antibiotik untuk infeksi bakteri berat.” begitu katanya, yang membuat kami makin yakin dengan keputusan tidak menebus obatnya.
Konsultasi saya via WA berlanjut sampe tengah malam sesampainya saya dirumah. Katanya observasi aja dulu, lihat 2 – 3 hari ke depan sampai batpilnya mereda, baru di cek kembali. Hmm…agak tenang kaminya.

Selasa dan Rabu sungguh merupakan hari-hari yang terasa panjaaaaaaang buat kami. Ditambah dengan keluhan Prema yang meminta saya menaikkan volume suara saat membacakan cerita pengantar tidur untuknya. Disitu kadang saya merasa sedih. Beneran sedih. Sakitnya tuh disini #tunjukdada
Kamis, kebetulan tanggal merah. Kami sudah membuat janji untuk konsul ke teman saya yang dokter itu dirumahnya. Prema kembali diperiksa. Kali ini saya merasa pemeriksaan lebih teliti, lebih detail, pakai alat semacam teropong kecil gitu khusus buat liang telinga. Beneran, ini bukan karena dokternya teman saya lalu saya jadi subyektif menilai. Kali ini kami benar-benar merasa Prema diperiksa. Termasuk dilakukan tes jentik jari dari pelan sampai keras untuk memastikan prema mendengar atau tidak. Penjelasan panjang lebar akhirnya kami dapatkan. Bahwa dalam telinga tengah Prema yang sebelah kiri terlihat ada cairan yang berasal dari pileknya sehingga menyebabkan gendang telinganya agak lambat dalam merespon suara. Jadi memang ada radang, katanya terlihat dinding dalam telinganya agak kemerahan. Tapi belum butuh antibiotik. Kalaupun kemudian butuh antibiotik, cukup yang generik aja, yang tingkat satu seperti amoxylin dan sejenisnya, itupun harus benar-benar dipastikan lewat tes agar tak salah sasaran. Bukan sporatic seperti resep dokter THT. Trus batpilnya gimana? Seperti yang biasa kami lakukan, saran dokter cukup gempur air putih yang banyak, madu dan buah-buahan.
Selanjutnya nanti, seiring dengan meredanya batpil, kemampuan mendengar Prema akan berangsur pulih seperti semula.

Sungguh kami lega setelah diskusi panjang lebar dengan ibu dokter cantik yang lagi hamil itu. Walaupun ternyata diagnosanya sama dengan dokter THT sebelumnya, tapi cara penanganannya berbeda. Ke dokter itu, kalau dokternya ramah dan komunikatif, 50% penyakit dan keluhan rasanya sudah teratasi. Ngefans deh saya sama dia. Berkah ngeblog di Multiply dulu, dapat kawan banyak dari berbagai kalangan dan profesi. MP nya boleh mati tapi pertemanan terus berlanjut πŸ™‚
Dan benar saja, makin kesini seiring membaiknya kondisi Prema dari batpil, kemampuan mendengarnya juga turut membaik. Sudah tak ada lagi keluhan Prema saat bermain bersama, bercerita ataupun belajar.

Ah benar. Jadi pasien memang harus smart, seperti kata dr Agnes dibukunya itu. Jadi pasien gak sekedar nurut kata dokter, kita juga harus banyak belajar. Karena anak bukan kelinci percobaan. Karena setiap kita sesungguhnya punya sistem imunitas alami yang akan bekerja dengan baik ketika dibutuhkan dan tidak dihambat pekerjaannya dengan pemberian obat kimia.
Bukannya takabur yang lantas tak butuh obat dokter, tapi ada saatnya kita harus bersikap bijak saat pemberian obat. Berhati-hati mengambil keputusan karena efeknya akan berlangsung dalam jangka panjang. Begitupun second opinion kadang dibutuhkan dalam konsultasi dengan dokter.

Yuk
Be Smart Patient

πŸ™‚

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, keluarga kecilku and tagged . Bookmark the permalink.

32 Responses to Saat Kemampuan Mendengarnya Menurun

  1. nengwie says:

    Semoga lekas sembuh ya Prema..

    Atul pernah kurang mendengar juga, tp telinga sebelah kiri kalau ndak salah, dia ngeluh ko telinga kiri ngga enak gitu katanya, sama dokter dibersihkan, ditetesi khusus lalu betul2 dibersihkan, alhamdulillah kotorannya keluar semau, dan disarankan jangan suka pakai cotton bud gitu, mending periksa ke dokter dan minta dibersihkan.

    Dokter di sini, lebih hati-hati kalau memberi obat2an, batpil hanya disuruh banyak minum air putih dan makan buah2an saja..

    Sekali lagi, cepat sembuh yaaa.. biar mamanya ngga sedih lagi πŸ™‚

    • itsmearni says:

      Makasi teteh cantik
      Sekarang Prema udah normal kembali pendengarannya, batpilnya juga udah mendingan.
      Nah iya, aku pernah baca katanya cutton bud gak disarankan ya, klopun dipake cukup bagian pinggirnya aja, karena sebenarnya kuping memiliki kemampuan mengeluarkan kotoran sendiri, kita tinggal mengambilnya saat udah ditepi

    • itsmearni says:

      Ou soal dokter, iya teh, disini masih banyak dokter yang merangkap “bisnis obat” sedih klo ketemu dokter yang kayak gini, hak pasien mendapatkan informasi terbaik dengan diskusi kadang ditutup oleh dokter. Tapi makin kesini makin banyak kok yang pro RUM

  2. ayanapunya says:

    Alhamdulillah sekarang prema ny sudah sehat ya, mba. Sebagai orang tua kita memang harus kritis ya saat memeriksakan kondisi anak ke dokter

    • itsmearni says:

      Iya mbak Yana, sekarang udah membaik Premanya. Makasi ya
      Dan soal ke dokter harus kritis, memang benar, kita sebagai orang tua minimal membekali diri dengan pengetahuan dan sebaiknya melakukan observasi detail sama kondisi anak, supaya gak sekedar mendengar kata dokter tapi bisa berdiskusi. Sayangnya memang belum banyak dokter yang bersedia ditanya2in sama pasien, rata-rata pake ilmu saklek, pokoknya… Pokoknya!
      Klo ada pasien yang nanya ini itu, tampak gak seneng aja dokternya. Belum lagi ada dokter yang “kayaknya agak malas” update ilmu dan informasi, jadi agak gak nyambung pas ngobrolnya, saya pernah ketemu yang model gini. Tapi makin kesini udah makin banyak kok yang asik, yang bener-bener open minded dan enak diajak diskusi, bukan sekedar nulis resep, salaman, bayar πŸ™‚

      • ayanapunya says:

        berarti kitanya juga harus banyak-banyak nambah ilmu ya, mba. makasih buat sharingnya πŸ™‚

        • itsmearni says:

          Iya mbak Yana
          Gak ada salahnya mencari banyak informasi dulu sebelum ke dokter, wlopun semua belum tentu benar, tugas kita menyaringnya karena sebenarnya keputusan terakhir khan ada pada pasien bukan pada dokter

          Ou buku yang saya sertakan fotonya dipostingan ini sangat saya rekomendasikan lho, bukan promo, wong saya gak kenal sama dr agnesnya, tapi isinya sungguh membukan mata saya tentang bagaiamana sebaiknya menjadi pasien πŸ™‚

      • omnduut says:

        Standar layanan yang diterapkan dari sebuah RS juga kayaknya mempengaruhi.
        Di Palembang, ada RS satu yang semua pelayanannya jempolan. Dari OB, security sampe dokternya. Bisa jadi dari awal RS menyeleksi pegawainya termasuk dokter atau pihak manajemen sering melakukan pertemuan dan menginformasikan standar layanannya.

        • itsmearni says:

          Hmm bisa jadi begitu
          Tapi jangan salah, RSIA yang saya datangi ini cukup terkenal dengam keramahan pelayanannya lho
          Dulu saya puas sekali dengan pelayanan petugas administrasi, apotek, perawat dan tentu saja dokter disana
          Tapi 2 kali kunjungan terakhir dengan dokter yang berbeda dan kasus berbeda keduanya bikin saya kecewa 😦
          Ya mudah-mudahan kedepannya tenaga kesehatan dan pasien sama-sama belajar untuk dapat berkomunikasi dengan baik satu sama lain agar sama-sama nyaman

  3. omnduut says:

    Premaaa lekas sehat ya πŸ™‚

    Bener banget mbak, ibukku yang langganan “kencan” sama dokter pun bilang kalo ketemu dokter yang komunikatif, respek terhadap pasien itu belum apa-apa rasanya semangat untuk sembuhnya sudah tinggi. Kalo ketemu dokter yang ngomong aja males, rasanya sudah bete duluan >.<

    • itsmearni says:

      Makaci Oom Nduuuut
      Iya karena sebenarnya orang sakit itu paling penting justru obat psikologisnya. Klo dokternya ramah dan komunikatif secara psikologis akan membantu pasien jadi lekas sembuh karena merasa nyaman πŸ™‚

  4. ihwan says:

    Semoga Prema lekas membaik ya Mbak kondisinya.
    Salut ama tekad Mbak Arni dalam menerapkan RUM.
    Memang benar, kalau dokternya komunikatif itu bikin kita nyaman berobatnya dan merasa dihargai sebagai pasien πŸ˜‰

    • itsmearni says:

      Makasi Oom Ihwan
      Sejak awal kami memang bertekad menerapkan RUM. Pengalaman di saya sih, jaman dulu itu karena kurang info plus memang bapak yang PNS jadi punya fasilitas askes, panas, batpil dikit aja langsung dijejelin obat, efeknya kerasa sampe sekarang, daya tahan tubuh saya cepat sekali menurun, recovery juga berlangsung lambat. Selain itu jarak kelahiran yang deket banget sama adik membuat saya gak full dapat ASI. Makanya gak mau Prema jadi kayak saya. Apalagi sekarang sumber informasi banyak dan mudah diakses, jadi orang tua benar-benar harus belajar banyak deh.
      Yuk saling berbagi, saling mengingatkan, saya mah apa atuh… Masih harus banyak belajar lagi

  5. museliem says:

    Gimana prema skg? Lebih baikkan? Gws prema…

  6. enkoos says:

    Cepet sembuh ya nak. Banyak yang mendoakan.
    Aku curiga, jangan jangan dokternya dapet komisi dari produsen obat.

    • itsmearni says:

      Makasi Bude Evia #kecup

      Lha iya mbak, dokter disini khan memang dapat komisi gede dari produsen obat. Udah rahasia umum itu. Sekali nulis resep dapat deh sekian persen
      Jadi jangan heran klo liat pemandangan dokter praktek trus diluar ruangannya berjejer para marketing obat yang menunggu giliran masuk, kadang mereka rela lho nunggu sampe tengah malam demi dapat tanda tangan dokter. Bukti visit istilahnya.
      Kadang dokter baru turun mobil mau ke ruang prakteknya aja, itu dibelakangnya udah ngekor deh para marketing obat ngikutin. Dandanannya keren-keren lho mereka. Udah rahasia umum juga banyak dokter yang dapat bonus macam-macam dari produsen obat, dari duit sampe jalan-jalan gratis ke LN atau ikutan seminar bergengsi dan sejenisnya
      Apalagi klo dokternya dokter yang laris manis. Wuih itu lebih dahsyat lagi deh

  7. Tiwied says:

    Duh, sempet deg2an bacanya. Ternyata nggak terjadi apa2 yang parah. Semoga cepat sembuh ya Prema..
    Salam kenal ya Bu Arni

    • itsmearni says:

      Iya mbak syukurlah ternyata gak apa-apa. Tapi memang kita sebagai orang tua kudu ‘ngeh’ klo ada perubahan pada anak, biar bisa cepat tertangani. Minimal kitanga jadi lebih tenang dan gak panik serta jadi tau cara penanganan yang tepat

      Makasi udah mampir ya
      Salam kenal kembali πŸ™‚

  8. Di' says:

    Betul memang, soal penggunaan obat terutama untuk anak2 di bawah umur harus diperhatikan. Di Indonesia sepertinya aturan pemberian antibiotik kurang dikekang. Dokter apapun bisa dibilang gampang kasih antibiotik ke pasien. Beda sekali dengan dokter2 di Amerika yang saat anak kami panas pun, cuma bilang kasih obat penurun panas yang beli bebas dan minum supaya nggak dehidrasi. Syukurnya saat anak2 bayi dan balita, mereka jarang sekali kena sakit yang sampai radang parah. Bisa dibilang, masing2 anak2 cuma pernah kena sekali aja. Mengenai kehilangan pendengaran akibat sakit, aku korbannya. Waktu aku umur 4, aku kena sakit panas tinggi dan rupanya berakibat radang ke telinga. Sementara itu mamaku sakit2an karena hamil tua dan jadinya kurang memperhatikan aku. Saat akhirnya aku dibawa ke RS, karena sudah ada cairan yg keluar dari telingaku. Dokternya memarahi Budeku yang membawa aku. Akibatnya pendengaranku sebelah berkurang, meskipun tidak sampai parah sekali, tapi kadang menyulitkan karena aku cuma bisa mendengarkan telpon di satu telinga. Hal menarik yang muncul karena pendengaranku ini, sepertinya memunculkan kebisaan melakukan sesuatu hanya dengan dengan dua tangan (semi ambidextrous), karena keseimbanganku juga berubah akibat telingaku. Misalkan, aku cuma bisa memukul bola kasti dari sebelah x, tapi nggak bisa dari sebelah y. Lainnya, kalau aku mau tidur beneran nyenyak, aku akan berbaring miring ke x karena aku nggak akan dengar apa2, sedangkan kalau tidur miring ke y, aku bisa mendengar suara sehalus apapun, kayak bionic woman. Bener loh, sepertinya Tuhan mengatur yang kurang di sebelah x, menjadi kelebihan di sebelah y.

    • itsmearni says:

      Ya ampun mbak Dian, efeknya sampai begitu ya. Saya jadi teringat (alm) NitaFebri yang kehilangan pendengarannya juga karena panas tinggi dan ketinggian dosis obatpa ya klo gak salah hiks
      Tapi ya memang Tuhan itu adil, yang sebelahnya diberi kelebihan ya mbak. Saya baru tau nih ternyata bisa berefek pada keseimbangan juga ya. Fyuuuh…bersyukur sekali prema gak sampai berefek panjang.
      Semoga sehat selalu ya, mbak πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s