Hidup Untuk Arisan?

Takjub. Bengong. Gak habis pikir. Itulah reaksi pertama saya saat tahu ada orang yang mengikuti sekian banyak arisan sehingga sebagian besar hidupnya memang dihabiskan dari arisan ke arisan.

Jadi ceritanya semalam gak sengaja saya nonton acara Sudut Pandang di stasiun M*tr* TV, acara yang dipandu oleh Fifi Alaeda Yahya ini kadang memang mengupas sesuatu yang unik dan tak biasa di sekitar kita (bukan promo program TV) yang kebetulan semalam bertajuk “Ini arisan lho” dan sukses bikin saya menganga keheranan *untung gak dimasukin nyamuk*

Gimana gak heran, ada orang yang ikut arisan sampai 28 lho. Bayangkan bagaimana dia membagi waktunya, berapa budget yang harus dikeluarkan, bukan hanya untuk bayaran arisan tapi juga buat biaya dandan disalon, biaya perhiasan, baju, sandal/sepatu dan tas bermerk, bagaimana dia menempuh jarak dalam kemacetan Jakarta hanya untuk berpindah tempat arisan yang katanya dia pernah dalam sehari menghadiri 10 arisan #wow, kapan dia ketemu keluarganya, dan bla bla bla pertanyaan muncul di benak saya.

Untuk mereka kalangan sosialita, begitu konon sebutannya, arisan memang bukan sekedar ngumpul-ngumpul setor duit, kocok arisan lalu pulang. Arisan jadi ajang aktualisasi diri. Tempat membahas bisnis (yang umumnya berhubungan dengan penampilan dan kecantikan), tempat pamer mobil terbaru, tas bermerk, sepatu/sendal mahal, baju rancangan desainer beken dan seterusnya. Malah konon kabarnya ada yang bela-belain nyewa tas, sepatu/sandal bahkan mobil keluaran terbaru hanya untuk “dipamerkan” saat arisan.
Kalau menurut salah satu narsum yang diwawancara, perempuan sekarang itu berdandan cantik bukan buat pacar, calon suami atau suami, tapi justru buat menampilkan diri diantara teman perempuannya. Eksis. Sukses. Bawa gadget terbaru. Foto-foto dan begitulah. Lagi-lagi saya bengong dibagian ini. Fyuh untung banget deh nyamuk gak iseng malam tadi, soalnya saya banyakan nganganya nonton acara itu. Haha.

image

Saya sendiri bukan anti sama arisan. Hidup bermasyarakat terutama dilingkungan perumahan kayak gini, kita memang butuh bersosialisasi minimal sama tetangga lah ya. Ada yang bilang keluarga terdekat kita itu sesungguhnya adalah tetangga. Kalau terjadi apa-apa orang pertama yang bisa kita mintai tolong ya tetangga, saya punya banyak pengalaman soal ini, nantilah kapan-kapan saya cerita ditopik yang berbeda. Nah salah satu cara bergaul dengan tetangga ya dengan ikut arisan RT. Sebulan sekali kumpul ketemuan sama ibu-ibu se-rt ya masih bisalah diterima, bukan soal berapa besar uang arisannya tapi lebih kepada komunikasi antar warga. Lewat arisan juga biasanya akan ada pengumuman terkait kebijakan lingkungan dan sejenisnya atau sekedar kabar ada yang sakit, melahirkan dll yang biasanya berlanjut dengan kunjungan kepada mereka. Buat saya itu gunanya ikut arisan tetangga, cocoklah buat saya yang memang gak demen ngumpul “ngegosip” di lapangan, taman atau pos ronda sambil nyuapin anak seperti umumnya ibu-ibu komplek.

Selain arisan RT, saya juga ikut arisan komunitas. Yang ini semacam kerukunan umat Hindu di luar Bali. Buat kami yang hidup diperantauan kayak gini, kumpul sebulan sekali dengan komunitas senasib sangat penting. Biasanya acara dilakukan di Pura, sebulan sekali, sekeluarga (ayah, ibu dan anak). Jadi para suami mengadakan pertemuan membahas hal-hal penting terkait kegiatan rohani dan sosial, istri urus konsumsi dan arisan, anak-anak sekolah Agama Hindu, karena umumnya sekolah disini tidak menyediakan guru khusus agama Hindu di sekolah, jadi anak-anak kami belajar agama di Pura setiap hari minggu pagi.

Ikut 2 arisan kayak gitu aja udah cukup rasanya buat saya. Kalaupun mungkin nambah paling banter nanti arisan keluarga ya, karena khan nyebar-nyebar keluarganya dan jarang ketemu, makanya perlu diagendakan pertemuan rutin setiap bulan atau sesempatnya, selain komunikasi via grup-grup medsos semacam bbm, wa dan derivasinya.

Nah dua arisan terakhir yang saya sebutkan diatas tentunya melibatkan keluarga, jadi ya waktunya gak saya habiskan sendiri. Bukan me time begitu. Sehingga buat saya masih wajar buat diikuti.
Saya gak kebayang deh yang arisan sampai puluhan gitu, kapan ketemu anak dan suami? Kapan dirumah? Kapan terakhir sarapan atau makan malam sekeluarga?

Hmm…baiklah, saya gak bermaksud nyinyir sama pilihan seperti itu. Karena setiap orang punya prioritas berbeda dalam hidupnya. Dan dari ekspresinya saat wawancara semalam, ibu sosialita itu tampak menikmati kegiatannya kok. Tapi buat emak-emak macam saya yang 3 tahun lalu memutuskan resign demi mengurus buah hati, rasanya pilihan seperti itu kurang cocok dan gak pas, entahlah, kayaknya saya gak akan bisa menikmatinya.

Disisi lain saya juga gak mau takabur bilang pilihan saya yang terbaik lalu membandingkannya dengan pilihan orang lain, siapalah saya mau menilai orang seperti itu, hanya penonton yang melihat dari luar saja, karena saya tetap saja tidak tahu seperti apa kehidupan pribadi mereka dan juga gak bakalan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, siapa tahu saat saya berkelimpahan uang trus bingung mau buat apa, ujug-ujug malah jadi ikutan arisan seabrek juga #eh

Ah semoga tidak ya. Tolong ingatkan saya klo saya sampai berubah pikiran ya. Saya pengen jadi ibu yang baik buat anak dan istri yang baik buat suami. Saya punya kenangan manis jaman kecil, setiap pulang sekolah ada ibu dirumah yang siap menyambut dengan pelukan hangat dan makanan lezat, saya pengen anak saya merasakan hal seperti itu dan menyimpannya menjadi memori indah kelak. Lha klo saat dia pulang, sayanya sibuk arisan trus nanti siapa yang menyambutnya?

Jadi begitulah.
Setiap orang punya prioritas. Bahwa kita memilih seperti sekarang ya berarti siap dengan segala konsekwensinya. Berdamai dengan diri sendiri. Lalu nikmatilah πŸ™‚

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged . Bookmark the permalink.

17 Responses to Hidup Untuk Arisan?

  1. Saya juga ikut arisan…. besarnya SEPULUH JUTA…. ehhh sepuluh ribu perak tiap bulan di RT, Semua yang udap pernah dapat bilang ga nutup buat konsumsinya hehehehe

    • itsmearni says:

      Hehe samaaa Ow, klo urusan konsumsi mah duitnya gak bakalan cukup. Makanya khan saya bilang bukan soal berapa besarnya tapi lebih kepada komunikasi antar warga. Lagian ya arisan RT gini biasanya ruameeee poll sehingga periodenya panjang. Dalam satu putaran arisan kita kebagian sekali doang ketempatan dan itupun bisa 2 atau 3 tahun sekali, jadi ya gak ada salahnya deh sekali dalam 2 tahun nyiapin konsumsi buat tetangga. Timbang sengaja bikin acara makan-makan lalu ngundang orang se-Rt abisnya lebih banyak to hehe

  2. ayanapunya says:

    saya ikut arisan di kantor aja, mba. tujuannya biar bisa kenal sama ibu-ibu senior. hehe
    kalau yang arisan sosialita itu emang suka kagum lihatnya. mereka semuanya serba wah πŸ˜€

  3. jampang says:

    jadi pengen cerita arisan juga nih

  4. nengwie says:

    Ngga pernah ikutan arisan selama di Jerman, meski di sini ada juga arisan.

    Duluuu cuma ikut arisan RT, itu pun krn ngga enak saja sama tetangga2 se RT..saya jarang keluar rumah dan jarang di Rumah, krn kantor mas Tri ngelewatin rumah momih, jd saya anter kangmas dulu, trs ke rumah Momih.. sore jemput kangmas, malam baru pulaaang hehe

    Saya takut ikut arisan itu, berasa dikejar2 utang..kalau saya trs2an punya uang ya mending, kalau tiba2 ngga punya uang, sementara kita sudah dpt arisan..drmn hrs bayarnya… πŸ˜€

    • itsmearni says:

      Wah jadi istri siaga ya dulu teh hehe
      Klo arisan RT biasanga nilainya gak gede-gede amat teh, karena tujuannya cuma biar bisa ngumpul antar tetangga aja. Klo gak ada arisan mungkin saya gak kenal deh sama tetangga yang beda blok sama saya meskipun satu RT, karena saya jarang keluar ngumpul2 ngerumpi. Paling banter ngiterin komplek sepedaan tiap sore aja bareng prema, tapi ya gak semua blok terlewati makanya saya ngerasa perlu ikut arisan

      • nengwie says:

        Iya betul mbak Arni, biar kenal dgn tetangga dekat, sampe mereka bilang “bu Tri mah ngga pernah ke luar rumah, kalau ada mobilnya, berari ada bu Tri…tp ngga keluar rumah samsek” hehe

        2 hari sekali ke rumah momih soalnya πŸ˜€

        • itsmearni says:

          Hihi iya samaaaaa
          Ini tetangga juga taunya saya dirumah atau tidak karena liat kendaraan nangkring di garasi
          Eh tapi pintu rumah saya seringnya kebuk sih klo saya dirumah, kecuali klo prema lagi tidur siang, anak-anak tetangga sering main bareng prema dirumah sini, Prema juga jarang keluar, temnnya yang ngumpul disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s