Let it go… Melepaskan Keterikatan

Let it go, let it go!
Can’t hold it back any more.

———

Petikan lirik lagu dari film Frozen ini mengingatkan saya pada satu peristiwa yang membuat saya belajar tentang keikhlasan.
Beberapa waktu lalu saya mengalami kehilangan. Saat menginap disebuah tempat bersama beberapa teman, saya terjaga oleh suara kehebohan bahwa tempat kami menginap baru saja disatronin maling. Dan ngenesnya langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata yang diambil maling adalah tas saya.

Tas saya kemudian ditemukan dibawah pohon tak jauh dari tempat kami tidur, tapi dompet didalamnya sudah lenyap tak berbekas. Dompet berisi segala kartu penting (ktp, atm, jamsostek, kartu kredit dll) sejumlah uang, bahkan ada kunci SDB karena memang saya berencana mau ke SDB pada hari seninnya sehingga saya menyimpan perlengkapannya didalam dompet. Lebih parah lagi, atm yang hilang bukan hanya milik saya, tapi juga milik suami, dimana malam sebelumnya saya memang memakainya untuk mengambil uang dan belum sempat saya kembalikan. Lengkap sudah.

Panik, iya. Sedih, pasti. Trus harus bagaimana?
Pertama yang bisa dilakukan adalah memblokir semua kartu, baik milik saya maupun suami. Lalu bersama teman-teman, suami menyusuri sekitar TKP, mungkin saja dompet saya masih bisa ditemukan, sementara saya sibuk menata hati. Menenangkan diri.

image

Dan begitulah, saya berusaha melepaskan keterikatan saya pada benda yang hilang. Saya berusaha mengafirmasi diri untuk belajar ikhlas. Dan ajaib, saya yang biasanya meledak-ledak menghadapi sesuatu, yang biasanya menangis tersedu (di pelukan suami tentunya hihi), yang biasanya gak bisa menahan perasaan, hari itu bisa tenang. Bisa tersenyum dan bercerita dengn gamblang pada setiap orang yang menanyakan kejadian itu. Bahkan masih bisa bercanda dan ledek-ledekan. Jujur saya sendiri heran dengan diri saya. Haha.

Sampai tengah hari kami masih berada di TKP. Cerita menyebar dengan cepat. Ucapan simpati dan empati makin banyak saya dapatkan yang anehnya justru makin menguatkan saya dengan pikiran, “sudahlah, lepaskan saja. Mungkin memang bukan rejeki. Kalau memang masih milik pasti akan kembali. Minimal semua kartu-kartu penting, karena tentu saja mengurus semuanya tak mudah. Butuh waktu.” Saya memang sudah ikhlas, tapi tak ada salahnya tetap berharap.

Menjelang sore, saat berkemas untuk pulang, seorang teman bersama suami datang membawa sebuah kresek hitam. Begitu dibuka, voilaaaa…. Dompet saya ketemu lengkap dengan segala isinya, kecuali uang tunai tentu saja. Entah kenapa saya tak sampai bersorak kegirangan. Saya senang tapi tak melonjak-lonjak. Saya lega kartu-kartu penting itu akhirnya ketemu, meskipun sudah kadung diblokir. Tak apa. Tapi saya merasa Tuhan menjawab harapan saya.

Dari sini saya belajar. Let it go. Lepaskan. Makin kita melepaskan keterikatan pada sesuatu, makin mudah kita menata hati saat kehilangan. Maksud saya begini, setiap kita pasti punya keterikatan pada berbagai hal, tapi bersamaan dengan itu ada saatnya membangun kesadaran bahwa tak ada yang abadi. Semua yang kita miliki sesungguhnya adalah titipan yang bisa diambil sewaktu-waktu. Tugas kita adalah menjaga dan merawatnya semaksimal mungkin. Ada saatnya kita lalai, karena itu kita butuh disadarkan. Ada saatnya kita lupa, karena itu butuh diingatkan. Caranya? Ya macam-macam, lewat kehilangan seperti yang saya alami salah satunya.

Sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami mencari sesuatu yang kita yakin banget letaknya mudah ditemukan tapi sudah jungkir balik mencarinya tak ada juga. Belakangan saat kita tak lagi mencarinya, ujug-ujug barang dimaksud muncul dihadapan kita, tak disangka. Begitulah, saat kita sudah melepaskannya, malah ketemu. Saat tak dicari, malah muncul.

Ah udah panjang aja tulisan ini, sebenarnya intinya apa?
Ya begitu, Let it go.

Salam manis

Arni

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged . Bookmark the permalink.

14 Responses to Let it go… Melepaskan Keterikatan

  1. Let it gooo, let it faaat…. I can’t do diet anymoreee

  2. Katerina says:

    “Makin kita melepaskan keterikatan pada sesuatu, makin mudah kita menata hati saat kehilangan.” <—-nasihat yang tepat sekali, mbak Arni.

    Cuma ikhlas obat dari kehilangan, ya mbak 🙂

    • itsmearni says:

      Aduh malu saya tulisan begitu dibilang nasehat
      Menulis itu bagian dari mengingatkan diri sendiri mbak, klo bermanfaat buat orang lain itu adalah bonus buat saya
      Saya mah apa atuh pake nasehatin orang 🙂

  3. penuhcinta26 says:

    Seperti aku yg gak jadi beli panci ya, Arni..ha..ha..ha…let it goooo…let it gooo…nyanyi bareng deh kita.

  4. museliem says:

    Hahaha sama mbak.. Dulu aku pernah kecopetan dan udah speechless aja, diem dan makan bakso.. Tarik nafas dalam dan ngopi.. Habis itu banyak doa… Trus besoknya dapat telp klo dompet gue ketemu.. Lesson learned, jangan lupa taruh no HP di dalam dompet.. Just super in case… *knock2 on the wood*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s