Berdamai dengan Virus HFMD

Seminggu terakhir ini Prema terkena HFMD (Hand Foot and Mouth Disease) atau penyakit kuku dan mulut atau dikenal juga sebagai flu Singapur karena pernah terjadi wabah HFMD dinegara ini beberapa tahun lalu.

HFMD ini disebabkan oleh virus, yang menurut beberapa literatur yang saya baca sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu.

Hanya saja karena saat anak terkena HFMD kadang tampak agak “menakutkan”, sehingga orangtua menjadi panik, sebenarnya sih lebih kepada gak tega dan kasihan melihat si anak.

Prema mulai demam kamis pagi minggu lalu, kemudian sore harinya dia mulai mengeluhkan bibirnya yang terasa perih saat minum dan makan. Saat saya check, saya dikejutkan dengan jejeran sariawan di hampir selurug permukaan bibirnya. Huaduh saya meringis membayangkan bagaimana perihnya. Lha saya sariawan satu aja udah kesakitan, ini Prema sariawan lebih dari 10 boooo. Waktu itu saya langsung terpikir HFMD ini, periksa telapak kaki dan tangan, eh gak ada bintil/lenting yang biasanya menyertai virus ini. Hmm…mungkin bukan ya, demikian pikir saya. Berarti sekarang yang harus diatasi adalah demamnya dan membujuk Prema untuk tetap minum agar mencegah dehidrasi.

Kembali kami mencari referensi. HFMD memang dilaporkan mempunyai risiko komplikasi ensefalitis (radang otak), namun itu sangat-sangat jarang, hanya pada kasus infeksi parah. HFMD biasanya jadi masalah bila “bintil-bintil” kulitnya menyebar hingga ke dalam mulut menjadikan sariawan dan anak susah makan. Jarang sekali anak menjadi dehidrasi meskipun sudah mengalaminya, sehingga tidak perlu dirawat juga. Yang penting pastikan anak sering minum atau makan makanan yang mudah ditelan, walaupun sedikit-sedikit.

Masalah lainnya bila anak sampai gatal dan cenderung menggaruk bagian-bagian yang dipenuhi bintil. Mandi air dingin atau mengalihkan anak dengan kegiatan bermain bisa mengurangi keluhan ini.

HFMD juga sangat menular. Apabila dalam satu keluarga mempunyai beberapa anak berusia di bawah 9 tahun, satu anak sakit sangat mungkin akan diikuti oleh saudara kandungnya. Begitu juga bila anak-anak ini tetap bersekolah: menularkan ke kawan-kawannya. Bagaimanapun juga, HFMD adalah penyakit ringan akibat infeksi virus yang sembuh dengan sendirinya tanpa obat (dikutip dari blog dr. Arifianto Apin)

Sip. Kami menenangkan diri. Gak boleh panik. Yang penting membujuk Prema agar tetap makan dan minum. Menenangkan dia. Memberi pelukan. Siapkan diri mendengar tangisan kesakitannya. Plus ekstra sabar karena anaknya pasti akan rewel. Untuk mencegah penularan, sementara Prema kami “isolasi” dalam rumah, tidak bermain keluar dan tentu saja tidak bersekolah.
Untuk minum, saya ijinkan Prema minum air es (selama ini gak pernah) agar rasa sakitnya terganti oleh dingin.

image

Untuk makan, saya berikan asupn yang lembek-lembek. Bubur, nasi lembek dengan sop lembut, dengn aneka sayuran seperti brokoli yang memiliki antioksidan tinggi juga gempur dengan telur yang mempunyai kandungan protein tinggi dan mempercepat proses penyembuhan luka. Selain itu saya buatkan puding dengan bahan “berat” agar kebutuhan gizinya terpenuhi, terbuat dari campuran susu, jagung, coklat dan jeruk. Jadi ada karbohidratnya, ada vitamin c, kalsium dll. Dimakan saat dingin agar tak terlalu terasa perih. Ditambah dengan minum air perasan jeruk + madu yang memang menjadi kesukaan Prema.

image

Ou, saat sariawan sedang parah-parahnya saya sempat mengakali makannya dengan es krim. Jadi Prema saya suapin dengan es krim, hingga permukaan bibir dan mulutnya terasa dingin dan kebas, langsung saya masukkan nasi/bubur. Cara ini terbukti cukup efektif sehingga prema bisa menghabiskan seporsi makanannya. Wlopun saya sempat ketar ketir juga sih takutnya malah memicu batpil, untungnya tidak terjadi πŸ™‚

Dan ya, sabtu malam saat membersihkan kaki Prema sebelum tidur, muncullah bintik-bintik merah ditelapak kaki dan tangan termasuk disela-sela jarinya, menambah keyakinan bahwa ini HFMD. Lalu demamnya bertambah tinggi, mencapai 39 dercel, sehingga saya memutuskan memberi paracetamol sebagai penurun panasnya. Kemarin-kemarin belum saya berikan.

Jujur ya, sedih banget rasanya melihat kondisi Prema. Yang biasanya ceria, rame, tiba-tiba diam, lemas dan tak ada suara kecuali tangisan menahan sakit. Banyak masukan untuk memberi obat-obatan semacam albothyl, larutan penyegar, betadine bahkan sampai obat cina yang selama ini dipercaya cepat menyembuhkan sariawan. Bahkan ada saran pemberian antibiotik karena ditakutkan terinfeksi bakteri. Tapi kami bertahan tidak memakainya, bukan tak percaya, tapi lebih kepada membiarkan tubuh bekerja secara alami, menyelesaikan mekanismenya untuk memaksimalkan kerja imun tubuh itu sendiri. Tentunya dibantu doa terus menerus ya πŸ™‚

Dan akhirnya senin pagi kondisi Prema sudah mulai membaik. Panas tubuhnya mulai normal, bintik dikaki dan tangan sudah berkurang. Sariawan sudah mulai sembuh, masih ada tapi sudah berkurang sakitnya. Prema sudah mulai bisa mengunyah makanan tanpa bantuan es krim. Puding masih berlanjut. Air jeruk + madu jalan terus.

Sekarang, tinggal masa pemulihan kondisinya. Makan sudah semakin lahap, kembali ke selera asal. Bahkan lebih, mungkin karena abis sakit ya, jadi Prema mau makan apa saja, lapar melulu tampaknya. Dikit-dikit minta makan dia. Lega rasanya melihat kemajuan ini.
Bersyukur banget kami tidak panik, bersyukur banget di zaman sekarang banyak literatur kesehatan dimana-mana. Banyak dokter yang tak pelit berbagi ilmu, bahkan bisa konsultasi via telephone *lirik dr Ian*
Tinggal kitanya aja yang harus pandai-pandai memilah informasi lalu menjalankannya dengan keyakinan bahwa apa kita lakukan adalah yang terbaik untuk anak. Karena kesehatan adalah investasi, bukan hanya untuk hari ini saja melainkan untuk jangka panjang. Pemberian obat-obatan “instan” bahkan antibiotik mungkin terkesan seolah menyembuhkan dengan cepat, namun efek jangka panjangnya kita tak pernah tahu. Mari budayakan RUM (rational use of medicine), karena sesungguhnya tubuh manusia diciptakan dengan sistem kekebalan alaminya.

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in keluarga kecilku and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Berdamai dengan Virus HFMD

  1. Wowww sampe terkagum2 bacanya. Semoga sy bs jd ibu spt km ya jeunk, tenang, sigap, dan tetap berlimpah kasih. Yg pasti ikut ngerasa lega tahu prema sdh sehat. Semoga sehat terus ya, Nak 😘

    • itsmearni says:

      Hayah jadi geer saya sampe dikagumin kayak gitu, padahal mah yang dilakuin biasa aja kali, Neng
      Namanya jadi ibu, naluri pasti menuntun untuk melakukan yang terbaik buat anak, tak menelan mentah-mentah semua informasi, tetap harus belajar karena segala sesuatu berkembang dinamis
      Dirimu pasti bisa deh bahkan mungkin akan jadi ibu jempol yang keren, trus gantian saya belajar darimu. Ini hanya masalah waktu aja kok

  2. museliem says:

    Tubuh manusia diciptakan dengan kekebalan sistem alaminya… Sayang yah tidak termasuk hati…. #edisigalautengahmalam

  3. Pingback: Belajar itu Asyik | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

  4. anotherorion says:

    cepet sembuh ya prema ganteng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s