Belajar dari Muara ; Perjalanan (tak) berujung

Muara atau campuhan adalah tempat bertemunya aliran air sungai dengan lautan. Laksana sebuah perjalanan panjang berliku, disinilah ujungnya. Darimanapun asalnya, perjalanan sang air akan berakhir di lautan. Tak bisa menghindar, tak bisa berhenti ditengah jalan. Aliran air ini akan bertemu disatu titik, tawar dan asin berbaur menjadi payau. Tak apa, ini masa adaptasi.

image

Saya selalu menyukai pertemuan air sungai dan air laut. Entah kenapa, saya merasakan romantisme tersendiri setiap melihat lekuk aliran sungai menuju lautan. Cantik sekali jejak perjalanannya. Meliuk-liuk seperti jejak ular. Melekuk indah seperti lenggokan penari. Tapi apapun itu, yang paling penting dia mengingatkan akan satu hal, bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Ujung yang bukan berarti berhenti, tapi meningkat ke tahap selanjutnya.

image

Dari air sungai yang tawar menuju lautan. Mula-mula menjadi payau lalu asin selayaknya air laut. Perjalanan manusia juga seperti itu. Dari tak tahu apa-apa, lalu belajar dan akhirnya berisi. Setiap episode ada ujungnya, lalu melangkah ke episode baru dengan kisah baru. Jodoh. Rasanya ini yang disebut jodoh. Perjalanan panjang mencari pertemuan, tak bisa ditolak ataupun dihindari, sudah jalannya begitu.

image

Kita sekolah, belajar, kemudian lulus. Tak berhenti disana, karena tahap berikutnya menunggu. Kita bekerja, berproses dan memperbaiki diri. Bekerja dimana saja, sama. Semua berproses seperti aliran sungai menuju lautan. Dari bayi lalu anak-anak, remaja, dewasa, menikah, jadi orang tua, mengurus anak dan seterusnya, lalu kembali pada-Nya. Berhenti? Tentu tidak. Ada hidup sesudah mati. Karena roda terus berputar, mengikuti perjalanan sang waktu.

image

Karena itu saya menyukai proses. Melihat perjalanan sang sungai menuju muara membuat saya introspeksi. Apa saja yang sudah saya temukan sepanjang perjalanan. Apa saja yang sudah saya “angkut” dan akan saya bawa ke ujung. Laksana sungai yang dalam perjalanan membawa banyak “hadiah” untuk lautan baik berupa air bersih maupun sampah, kitapun demikian. Jika ingin menyimpan yang baik, mari selektif memilih isi, jangan sampai kita membawa sampah ke ujung. Karena bagaimanapun, suatu hari kita akan sampai diujung dan menjalani pertemuan menuju episode berikutnya šŸ™‚

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Percikan and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Belajar dari Muara ; Perjalanan (tak) berujung

  1. Mari terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi bu. Saya juga melihat pesona alam, yang ternyata banyak hal bisa kita dapat dari menikmatinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s