Ada kelezatan dalam Tiap Gigitan Lumpia Semarang

Dalam perjalanan pulang dari Bali, lalu mampir ke TN Baluran, kemudian menghabiskan malam pertama di Bromo dan malam kedua di Kudus, paginya kami sengaja tak mencari sarapan di kota kretek tapi langsung menuju kota lumpia, Semarang.

Sengaja, karena kami memang ingin makan lumpia semarang yang khas dan tersohor itu. Berbekal peta dari g-map, kami menyusuri jalan-jalan kota Semarang. Dari hasil membaca review disana sini, sasaran kami adalah lumpia gang lombok, yang konon adalah cikal bakal lumpia Semarang. Konon disinilah lumpia yang asli. Sempat kesasar ditengah pasar, seorang bapak pemilik toko yang dihalamannya kami menumpang parkir sejenak, dengan ramah memberi petunjuk jalan menuju gang lombok. Ah, terimakasih bapak yang baik.

image

Masih pagi dan kami mendapati kedai lumpia yang dituju sudah dipenuhi antrean pembeli. Ya ampuuuun…. memang ya kalau udah terkenal, mau digang sempit sekalipun tetap akan dicari oleh pelanggan. Jangan membayangkan sebuah restoran besar yang luas, kedai lumpia ini benar-benar berada digang sempit yang hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat secara bergantian. Beruntung dibagian belakangnya terdapat Klenteng Tay Kak Sie dengan pelataran parkir yang lumayan luas sehingga kami dan pengunjung lainnya bisa memarkir kendaraan disana.

image

image

Saat ingin memesan lumpia, saya mendapat nomor antrian 27. Baiklah, sabar menanti ya. Ou, harga lumpianya Rp. 12 ribuan, baik goreng maupun kukus. Ukuran jumbo, makan 1 aja udah kenyang deh. Sembari menunggu, kami mampir ke warung sebelah yang tak kalah ramainya, warung mie. Aneka olahan mie untuk sarapan tersedia disana, mie ayam, yamin, goreng, kwetiau dll. Disini juga penuh. Makan bergantian karena bangku dan meja saji yang terbatas. Tapi memang tak rugi mengantri, mienya enak. Kenyal dan pas dilidah. Prema saja menghabiskan satu porsi sendiri layaknya orang dewasa.

Rupanya gang lombok ini terletak dikawasan pecinan, kota lama Semarang. Ditandai dengan banyaknya warga keturunan Tionghoa disana termasuk pedagang lumpia dan mie yang kami datangi. Seperti yang saya bilang diatas, bagian belakang kedai adalah klenteng. Sedangkan didepannya terdapat jembatan diatas kali Ko Ping yang menghubungkan dua sisi kota dengan deretan ruko disepanjang sisinya. Nama gang lombok sendiri konon karena dulunya kawasan ini adalah area kebun lombok.

image

image

Saya, jujur saja, dulu tak bisa menikmati lumpia semarang. Rasanya aneh menurut saya, apalagi yang hanya dikukus saja tanpa digoreng. Isiannya itu lho, rebung, yang kalau tak pintar mengolahnya menjadikan rasa dan aromanya aneh, mendekati pesing. Bayangkan saja, makan sesuatu yang berbau pesing, gimana bisa ketelen coba.
Tapiiiii….. Lumpia gang lombok ini beda. Rasanya lezat. Tak ada bau pesing sama sekali yang keluar dari rebungnya. Ditambah lagi saus kentalnya yang khas, terasa asam manis plus ditambah taburan acar dan daun kucai. Wooo nikmat sekali. Saya yang awalnya hanya pengen makan lumpia goreng saja dan tak berani makan yang kukus ternyata malah jatuh cinta jadinya. Ou, karena kami sudah sarapan mie yang sangat mengenyangkan itu, akhirnya si lumpia masuk box dan jadi bekal perjalanan. Dimakan saat makan siang ketika kami terjebak macet di Pekalongan. Makanya gak bisa ditata-tata cantik ala foto makanan profesional gitu, fotonya langsung dari besek wadah lumpianya aja dan langsung diserbu untuk pengganjal perut saat lapar melanda hehe.

Saat pemesanan, meski harus menunggu dan pengunjungnya padat, namun tak terasa membosankan. Hari yang cerah, pedagang yang ramah, para pengunjung yang saling bertukar cerita, sajian yang menggugah selera dan mengenyangkan tentu saja, menjadi pelengkap sempurnanya pagi di Semarang. Sayang perjalanan kami masih panjang. Kalau saja waktu liburan masih panjang, rasanya ingin kami jelajahi Semarang dengan pesona lainnya yang belum sempat kami nikmati.

Ke Semarang aku khan kembali suatu hari nanti πŸ™‚

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Review and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Ada kelezatan dalam Tiap Gigitan Lumpia Semarang

  1. Enak… ibu jalan2 terus. Lumpia cocok di makan saat hangat2 dengan cabai hijau hehe..

  2. Ahmad says:

    Tiiiap hari ada orang yang membagikan brosur Lumpia Express di perempatan di dekat RRI Jalan A. Yani. Tapi, saya belum bisa menyukai lumpia πŸ™‚

    • itsmearni says:

      Wah gitu ya Pak
      Saya juga dulu gak begitu suka lumpia, terutama karena isiannya adalah rebung yang kadang baunya agak aneh (pesing)
      Tapi begitu sekali ngerasain lumpia gang lombok ini, rebungnya dimasak dengan sangat ahli, tak ada bau pesing dan bahkan jadinya sangat enak. Bahkan untuk lumpia kukusnya

  3. alrisblog says:

    Ukuran lumpia-nya jumbo mantap, πŸ™‚
    Yang gang lombok itu terkenal ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s