Belajar tentang Semangat dari Denias ; Senandung Di Atas Awan

Oh kabut membayangi langkahku
Oh Mendung menyertai hariku
Namun harapanku tak pernah mati
Seperti senandungku yang tak henti
Suatu hari ku pastikan diriku
Akan pergi meraih cita-cita
Namun harapanku tak akan mati
Seperti senandungku yang tak henti
Dari balik awan ku lihat cahaya
Dari balik awan ku dengar jawaban
Dari balik awan ku kejar impianku
Dari balik awan kan ku genggam
Matahari…

————

image

Sejak pertamakali nonton Denias ; Senandung Di Atas Awan tahun 2006 lalu, saya langsung jatuh cinta pada film ini. Tak ada bagian yang tak meninggalkan kesan mendalam buat saya. Film ini menyajikan paket lengkap kehidupan saudara-saudara kita di Papua sana. Budayanya yang khas seperti upacara memakai koteka, upacara duka berupa potong jari dan mandi lumpur sampai keindahan alamnya yang hijau disajikan dengan apik disini. Membuat mata lupa berkedip, namun dada terasa sesak dan mata menghangat mengikuti alurnya.

image

image

Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Tentang keteguhan hati Denias, seorang anak petani dipedalaman kampung Arwanop, untuk terus bersekolah sebagaimana nasehat dari ibunya sebelum meninggal. Film ini sukses mengaduk-ngaduk perasaan lewat beberapa ‘kehilangan’ yang harus dialami Denias. Mulai dari kematian ibunya, yang secara tak sengaja menjadikan Denias merasa bersalah karena merasa menjadi penyebabnya, ditambah lagi berturut-turut kepulangan bapak guru karena istrinya yang sakit keras di Jawa, padahal pak gurulah penyemangat utama Denias untuk sekolah, pak guru juga yang menguatkan tekad Denias bahwa anak pedalaman juga bisa sukses, kemudian Maleo (belakangan ternyata Maleo adalah nama kesatuan), yang juga harus pergi karena panggilan tugasnya sebagai tentara. Sungguh menjadikan sebuah pukulan berat untuk Denias.

image

image

image

Perjuangan Denias untuk dapat bersekolah di kota juga tak semulus lengkungan pelangi dikaki Jayawijaya. Berbagai penolakan harus kembali diterimanya. Mulai dari peraturan sekolah hingga hukum adat suku setempat bahwa yang boleh sekolah hanya anak kepala suku. Adalah bu Sam, salah satu guru di sekolah ini menjadi orang yang berperan penting hingga akhirnya Denias bisa mengenyam pendidikan disekolah itu. Pertemuan dan persahabatannya dengan Angel, salah satu murid di SD tersebut juga menjadi pemanis yang pas. Mengingatkan kita bahwa persahabatan selayaknya dibangun tanpa memandang latar belakang, tanpa harus melihat status sosial seseorang. Bahwa ketulusan adalah dasar utamanya.

image

Berbagai konflik dan kelucuan dalam film ini dimunculkan secara alami. Secara tak langsung membuka mata penonton akan kesenjangan pendidikan di Papua. Menyadarkan kita bahwa Indonesia bukan hanya Jawa. Bahwa Indonesia ini Raya. Terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dan semua anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak. Film ini sungguh menginspirasi. Alurnya mengalir ringan dan mudah dipahami namun sarat makna dan pesan moral.

image

Disisi lain, persis seperti soundtracknya, kampung Denias digambarkan berada diketinggian, dengan hamparan hutan hijau yang tampak bertemu dengan awan putih. Sungguh sebuah pemandangan yang memanjakan mata. Gunung, ngarai, sungai, jembatan gantung adalah pelengkap yang menjadikan film ini menarik. Betapa Indonesia memiliki panorama yang luar biasa dan membuat kita berdecak kagum.

Maka merugilah kita yang mungkin memiliki kesempatan untuk sekolah setinggi-tingginya lantas menyia-nyiakannya. Maka menunduklah kita yang mengaku Indonesia tapi tak mengenal budaya sendiri. Maka merenunglah kita melihat disana, diujung Indonesia, disebuah negeri diatas awan, bendera merah putih berkibar dengan anggun sebagai lambang negara, begitu mengharukan saat melihat anak-anak bernyanyi Indonesia Raya dan memberi hormat, sementara kita bahkan mungkin lupa memasang bendera merah putih didepan rumah meskipun hanya setahun sekali saat menjelang 17 Agustus.

Entahlah, hati saya selalu saja hangat setiap kali menyaksikan film-film seperti ini. Pesan pendidikan, perdamaian, persahabatan, perjuangan dan toleransi selalu meninggalkan kesan dihati. Sebutlah misalnya Meraba Indonesia, Cerita Dari Tapal Batas, Di Timur Matahari, Laskar Pelangi, 5 cm, Merry Riana, dan beberapa film bergenre sama. Selain itu saya juga menyukai film berlatar sejarah atau tokoh negarawan tertentu, seperti Habibie Ainun dan Soekarno. Sesekali saya juga nonton film-film bergenre drama dan komedi, buat hiburan saja meski kadang hanya untuk dinikmati dan tak sampai membuat terkenang-kenang dalam waktu lama.

******

Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp SecondGiveaway: What Movie are You?”

image

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Lomba, Review and tagged , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Belajar tentang Semangat dari Denias ; Senandung Di Atas Awan

  1. Alris says:

    Film semacam ini yang dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat fight.
    Saya suka film seperti ini. Abis nonton ada yang tersisa di jiwa.

    • itsmearni says:

      Yup setuju banget
      Saya juga sebenarnya penggemar drama atau komedi sih, tapi ya sebatas sebagai hiburan. Tak meninggalkan kesan lama dan pengen ditonton ulang

      Kalau film-film seperti Denias ini, saya nonton berkali-kali masih asik aja menikmatinya dan selalu mendapatkan inspirasi baru setiap kali nonton

      Btw udah ikutan lomba ini belum?

  2. cputriarty says:

    kabanyakan film karya Ari Sihasale dan istrinya memang menakjubkan ya. Sukses untuk kontes GAnyay ya ,mbak 🙂

    • itsmearni says:

      Iya bener
      Saya selalu suka sama film film dari Alenia production ini
      Issue yang diangkat selalu menarik dan mempunyai pesan moral yang berkesan
      Ditambah lagi dengan setting lokasinya selalu ditempat-tempat eksotis Indonesia.
      Sukaaaaaa

  3. Diah indri says:

    Aq suka juga fim ini mbak.
    Beberapa film asli artis lokal papua juga bagus2. sayang tdk terekspos

  4. evrinasp says:

    wuihhh kereen, selalu suka dengan film Indonesia yang seperti ini mbak, saya suka daripada yang jurig-jurigan, film yang menginspirasi, terimakasih atas partisipasinya

    • itsmearni says:

      Makasi sudah mampir mbak 🙂

      Film jurig-jurigan kebanyakan menonjolkan body dan adegan “dewasa” mbak, saya gak bisa menikmatinya
      Kalaupun nonton ya paling sebatas buat hiburan dan malah biasanya gak sampai tuntas, keburu bosan karena alur ceritanya sering gak jelas

  5. Pingback: Pengumuman Pemenang My 2nd Giveaway What Movie Are You? | Evrina Budiastuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s