Memetik Pelajaran Dari Dongeng di Kampung Betawi

Sabtu, 24 Oktober 2015, kami mengajak Prema menghadiri acara yang digelar oleh kakak-kakak keren dari komunitas ayo dongeng Indonesia, Festival dongeng Jakarta yang merupakan rangkaian dari Indonesia International Storytelling Festival di Kampung Betawi, Setu Babakan, Jakarta Selatan

image

Acara dikemas sangat menarik. Bertempat dikampung Betawi, maka nuansa hiburan khas Betawi menjadi pembuka acara. Setelah sebelumnya Prema juga ikutan tour keliling Setu Babakan dan belajar keterampilan membuat kerak telur dan ondel-ondel, kali ini di sesi pembukaan, orang tua dan anak-anak disuguhi hiburan lagu-lagu khas Betawi yang dibawakan dengan apik, lucu, seru dan menghibur oleh Bang Andi dan Mpok Ririn dari Bens radio

image

image

Masih lanjut dengan nuansa Betawi, MC yang memandu acara juga adalah abang none Jakarta Selatan, pun demikian beberapa penari yang menyajikan tarian nanggap ondel-ondel. Penampilan ini sekaligus memperkenalkan kesenian Betawi pada anak-anak

image

Oh tak lupa ada sambutan keren dari kak Aio, founder komunitas ayo dongeng Indonesia yang keren itu. Ah, ini kak Aio sukses bikin pengen ikutan belajar dongeng deh jadinya, semangat dan kompor-kompornya tentang manfaat dongeng itu lho, bikin saya jadi makin semangat membacakan cerita dan mendongeng buat Prema sebelum tidur, sebuah kebiasaan yang memang rutin kami lakukan sejak dulu, dirumah kami menyebutnya pesta cerita

image

Jadi, menurut kak Aio, acara di Setu Babakan ini adalah awal dari serangkaian acara mendongeng diberbagai tempat nantinya. Ada yang di Museum Nasional tanggal 31 Oktober sampai 1 November nanti kemudian juga akan ditutup di Poso, Sulawesi Tengah sana. Sukses ya buat acaranya kak 🙂

Sesi mendongeng diawali dengan puppet story yaitu penampilan boneka Wina Wini dan Kevin yang mengambil kisah pendekar Betawi, Jampang dan Pitung dengan setting di rumah kompeni. Dongeng ini mengangkat kisah asal usul bir pletok, minuman khas betawi yang merupakan perpadun berbagai rempah-rempah berkhasiat.

image

Tak kalah seru kemudian ada dongeng dari kak Dwi. Mengambil kisah tentang salak condet. Saya baru tahu lho klo di Condet itu dulunya adalah perkebunan salak khas Jakarta. Melihat kondisi Condet yang padat penduduk dan super macet kayak sekarang, saya tak bisa membayangkan disana pernah menjadi sebuah perkebunan salak. Ah sayang sekali, sekarang nyaris punah. Saya bilang nyaris karena ternyata menurut kak Dwi, masih ada kok dibeberapa tempat yang menanam salak ini. Pesan moral untuk senantiasa berbagi dengan orang-orang yang kurang mampu sangat ditekankan dalam dongeng ini. Iya, mendongeng memang bukan sekedar bercerita, harus ada pesan positif yang disampaikan

image

Ada yang lucu disesi ini, karena dongeng dilaksanakan outdoor, lalu lokasi yang tampaknya menjadi lintasan penerbangan dari bandara Halim Perdana Kusuma, maka jadilah hampir tiap 5 – 10 menit ada pesawat melintas yang disambut dengan teriakan heboh khas anak-anak. Tapi hebatnya, kak Dwi gak kehilangan akal, kedatangan pesawat malah jadi hiburan tersendiri dalam dongengnya. Bravo kak Dwi. Kakak kereeeeeen.

image

Masih dalam rangka memperkenalkan kesenian betawi, hiburan selanjutnya adalah pementasan tari topeng, dibawakan oleh cucu pertama alm. Bokir, yang memang terkenal dengan semangatnya memajukan kesenian tradisional Betawi. Dibawakan dengan luwes, lincah dan menarik. Katanya mpok, aduh saya lupa namanya, ini sudah melanglang buana ke berbagai negara lho membawa nama Indonesia lewat kesenian. Ah kece deh.

image

Dongeng berikutmya dibawakan oleh seorang bapak yang bersahaja sekali. Kelihatan banget bapak ini lembut dan senang bercerita serta sayang anak-anak. Sayang, lagi-lagi saya lupa nama beliau. Maaf ya bapak *sungkem*
Satu hal yang bikin maknyes adalah ketika beliau meminta semua penonton berdiri dan bernyanyi bersama “Indonesia Tanah Air Beta” Wow itu suasana haru langsung terasa. Pengen nangis rasanya.
Beliau membuka dongengnya dengan cerita seorang anak pelukis kucing yang sukses membuat penonton berkali-kali tergelak. Pesan moral untuk tak mengabaikan bakat anak dan tak memaksakan kehendak pada anak disampaikan oleh beliau. Selain itu beliau juga mengajak untuk senantiasa menjaga kelestarian Setu babakan ini agar keindahannya tetap dapat dinikmati selamanya, oleh anak cucu kita nanti.

Hari sudah menjelang sore ketika dongeng berikutnya tampil. Dibawakan oleh kak Desri dan kak Hendra dalam bentuk Pop Up Story telling. Kembali mengambil setting jaman dahulu dimasa jaya para pendekar betawi. Sayang kami tak mengikuti hingga usai, Prema sudah lelah karena tak sempat tidur siang dan hari sudah menjelang malam, sementara kami butuh istirahat karena hari minggunya agenda lain sudah menanti. Padahal sebenarnya pengen banget mengikuti acara hingga malam, yang katanya akan ada pertunjukan musik. Ah sudahlah, belum rejeki. Moga-moga lain waktu bisa ikutan lagi.

Dari Festival Dongeng Jakarta ini banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Bahwa menasehati anak tak perlu dengan kekerasan atau tekanan. Berikan cerita yang menarik, selipkan pesan didalamnya. Masukkan nasihat-nasihat kebaikan. Beri contoh lewat perilaku para tokoh dalam cerita. Ketika anak menikmatinya, maka pesan moralnya juga akan terekam dengan sendirinya dalam benak. Mengenalkan budaya, mengenalkan kebiasaan baik.

Prema, 5 tahun, berkali-kali tertawa saat mendengarkan dongeng dari para kakak hebat itu. Sama seperti ketika kami rutin bercerita setiap malam sebelum tidur. Tertawa, tertegun, terdiam, bertanya adalah bentuk responnya terhadap sebuah cerita. Artinya dia mendengar dan menyimak. Maka saat itulah saat yang tepat menyelipkan nasihat kebaikan. Lewat dongeng juga tanpa disengaja kita menambah perbendaharaan kata pada anak. Banyak kata-kata dan ungkapan baru yang akan terekam dimemorinya. Tak jarang ketika bercerita, Prema memotong dan bertanya arti sebuah kata. Begitu juga mengenalkan intonasi berbicara, ekspresi dan bahasa.

Dari pembukaan yang dikemas dengan sangat menarik ini, saya kasi 4 jempol deh buat kakak-kakak hebat yang sudah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Salut sama semangatnya memasyarakatkan dongeng untuk anak-anak Indonesia. Tak hanya anak-anak lho yang menikmati, saya perhatikan semua pengunjung dari yang muda hingga kakek nenek hanyut dalam pertunjukan. Semua serasa bernostalgia pada kebiasaan mendengar cerita yang dibawakan para orang tua kita dahulu. Saya bahkan seperti terlempar ke masa lalu ketika bapak, yang saya lupa namanya, itu bercerita. Ingatan saya melayang kepada bapak saya. Ah khan….jadi kangen bapak deh huhuhu.

Semangat terus ya kakak-kakak hebat.
Mari memajukan dongeng untuk anak-anak Indonesia.
Mari menebar kebaikan lewat dongeng.
Mari memberi kontribusi positif untuk negeri tercinta, Indonesia.

Salam dongeng 🙂

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Berbagi, Home, keluarga kecilku, Review and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Memetik Pelajaran Dari Dongeng di Kampung Betawi

  1. shiq4 says:

    Syukur deh kalau anak-anak sekarang masih suka dongeng. Jadi ingat masa kecil dulu hobi membaca dongeng dari majalah mentari. Soalnya anak sekarang hobinya gadget dan sosmed. Ngeliatnya jadi aneh saja he he he

    • itsmearni says:

      Iya. Sebenarnya anak suka dongeng atau tidak tergantung kita sebagai orang tuanya. Kalau dibiasakan mendengarkan dongeng pasti anak2 akan menikmatinya, kalau dibiasakan memegang gadget ya jadinya anak2 juga mainan itu melulu.
      Makanya balik lagi masalah pilihan dan kesediaan orang tua meluangkan waktu untuk anak

      Klo aku jaman kecil bacaannya bobo dan ananda. Gedean dikit majalah kawanku 🙂

  2. Alris says:

    Bersyukur masih ada yang mau melestarikan dongeng ini. Dia tidak hanya pengantar tidur tapi juga perekat anak dan orang tua, juga ada unsur imajinasi yang ditanamkan ke anak sejak dini.
    Bagus.

  3. Pingback: Keceriaan Dari Panggung Festival Dongeng Indonesia | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

  4. Pingback: Mendadak Betawi di Kampung Betawi Setu Babakan | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

  5. Pingback: Piknik Asyik Dongeng Seru | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

  6. Pingback: Yuk, Main di Bogor! | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s