Tentang Ketegaran dari Dunia Tanpa Cahaya

image

Judul : Dunia Tanpa Cahaya
Penulis : Ramaditya Adikara
Editor : Ariata
Desain Cover : dan_dut
Tahun : 2015
Penerbit : Sheila [Imprint dari CV. Andi Offset]
Jumlah halaman : 216

————

Saya baru saja menuntaskan membaca sebuah novel terbaru yang ditulis dengan apik oleh seorang sahabat hebat saya, Ramaditya Adikara.

Novel bertajuk Dunia tanpa Cahaya ini benar-benar bercerita tentang perjuangan seorang tunanetra mencari cinta. Ehm… Maaf ya Oom AD saya plesetkan judul lagunya. Iya, Rama memang tunanetra.
Eh bentar, kok bisa nulis novel?
Ya bisaaaaalah….. Makanya saya bilang Rama itu hebat. Bisa nulis novel, jago main game, pinter ngutak ngatik HP dan lancar bener cap cis cus dalam bahasa Inggris dan segudang prestasi lainnya.

Lha ini malah ngelantur bahas penulisnya. Saya khan niatnya mau review novel yak. Ok sip. Mari kita mulai *siapin pisang goreng dan teh manis*

Membaca lembar demi lembar novel ini sukses membuat saya terbawa suasana dan membayangkan adegan per adegan. Kisah persahabatan Rama dan teman-temannya di BEM fakultas sastra disajikan dengan manis sekali. Ada Kristo yang berotak encer, Yos dan Rinda yang selalu ceria, Farah yang galak tapi pandai menyembunyikan isi hatinya dan Tia yang cengeng.

Yang menarik dari novel ini adalah kehadiran Wahita, tokoh imajiner rekaan Rama, yang digambarkan sebagai bidadari cantik, lembut hati, berambut panjang dan punya sayap dipunggungnya. Wahita menjadikan Rama seolah berkepribadian ganda secara sadar. Hmm… Sebenarnya gak pas juga sih kalau dibilang begitu ya, soalnya Wahita ini tampak menjadi “topeng kebaikan” bagi Rama pada saat-saat tertentu, misalnya saat marah atau galau.
Kalau kayak di film-film, semacam bisikan suara hati gitulah.

Kisah dalam novel ini sebenarnya sangat umum ya. Tentang kisah cinta muda mudi gitulah. Tapi kemasannya menarik dan membuat saya sukses lanjut membaca sampai habis tanpa jeda. Alurnya ringan. Setiap halaman membuat penasaran ingin tahu kelanjutannya. Menjadi lebih menarik lagi karena ide dasarnya adalah kisah nyata penulis. Pencarian Rama terhadap cinta Shinta. Antara Jakarta – Palembang. Pergulatan batin dan selisih paham dengan orang tua hingga perjuangan untuk menyelesaikan pendidikan yang sempat terseok-seok karena urusan cinta. Campur aduk rasanya baca novel ini.

Satu yang agak bikin saya mengerenyit adalah bagian tentang game RO (Ragnarok Online). Saya memang bukan penggemar game, jadi agak-agak susah mencerna bagian ini. Kudu berulang-ulang bacanya untuk bisa ngebayangin ini game kayak apa. Tapi jadinya saya dapat pengetahuan baru deh termasuk beberapa istilah dalam game online.

Sebuah kutipan yang saya suka disini yang diucapkan oleh Kristo, diambil dari anime Naruto
Orang yang melanggar peraturan itu sampah, tapi orang yang tidak memedulikan temannya itu lebih buruk dari sampah

Pada akhirnya novel ini menyadarkan saya bahwa cinta adalah milik semua orang. Tak ada batasan dalam cinta. Dia bisa mewujud dalam cinta orang tua dan anak. Bisa hadir sebagai perekat dalam persahabatan. Bahkan bisa benderang dalam gelapnya penglihatan dimana cahayanya menerangi setiap hati yang penuh kasih.

Secara keseluruhan novel ini menarik. Setelah Mata Kedua dan Hati Kedua, maka Dunia tanpa Cahaya adalah satu lagi karya Ramaditya Adikara yang layak mengisi rak buku dan melengkapi bacaan saya.

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tentang Ketegaran dari Dunia Tanpa Cahaya

  1. ayanapunya says:

    adik di kantor kemarin baca buku ini. mau pinjam ah 🙂

  2. Jadi kita mesti peduli dengan teman dan sekitar yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s