Toleransi Sejak Usia Dini

Beberapa hari yang lalu ketika mengantar Prema ke sekolah, saya dihampiri oleh wali kelasnya

Mam, tanggal 29 nanti akan diadakan perayaan Maulid yang pesertanya seluruh TK se-gugus VI yang akan dipusatkan disini.  Anak-anak nantinya akan menampilkan beberapa atraksi tari dan lagu, untuk yang muslim, saat ini berlatih shalawat nabi dan tari-tarian diiringi lagu keagaamaan. Trus anak-anak kristiani juga rencananya akan menyumbangkan penampilan tari dan lagu, bertema kasih. Liriknya umum kok mam, boleh gak, Prema kami ikutkan ke kelompok kristiani?”

Oh, boleh bu. Selama Premanya mau ikut latihan, silahkan saja.” Sahut saya memberikan ijin.

Siangnya saat menjemput Prema, seru sekali dia bercerita bahwa dia ikut latihan bernyanyi dan menari untuk acara sekolahnya. Dan dengan gamblang Prema bilang, latihannya bareng teman-teman yang Kristen, sedangkan yang muslim latihannya pake bahasa Arab, begitu katanya.

Saya kemudian memintanya menyanyikan lagu dimaksud termasuk menunjukkan gerak tarinya.

K. A. S. I. H

Kasih kasih kasih

Kasih kasih kasih

Ka – sih

Kasih itu sabar

Tidak suka marah-marah

Sayang kepada teman

 Juga saudara

 

See…liriknya sangat bagus. Tak ada alasan buat saya melarang Prema menyanyikan lagu itu. Maknanya juga dalam, bahkan mengingatkan saya juga sebagai orang tua agar menjalani hari-hari dengan penuh kasih.

Terus terang, kami, orang tua Prema memang tak pernah membatasi pergaulan dan pengetahuan Prema termasuk dalam hal agama. Sejak kecil kami sudah mengkomunikasikan dengannya bahwa agama kami tak sama dengan kebanyakan teman-temannya. Ada teman yang muslim, ada yang kristen, ada yang Budha. Masing-masing punya cara ibadah (Prema menyebutnya sembahyang) yang berbeda, begitupun tempat ibadahnya. Dengan begitu Prema mengerti, bahwa saat hari Jumat misalnya, beberapa temannya tak bisa diajak bermain siang hari karena harus sholat Jumat, dilain waktu pada hari minggu pagi temannya yang lain juga tak bisa bermain bersama karena harus ke Gereja.

Hal yang sama berlaku ketika saya harus membuat sesajen untuk sarana persembahyangan kami, umat Hindu. Prema sudah cukup mengerti mengapa ibu-ibu temannya tak melakukan kegiatan yang sama.

Begitu pula dalam berdoa. Kebetulan sebelum masuk ke TK tempat Prema bersekolah formal seperti sekarang, kami sudah memasukkannya ke PAUD di Pura, yang memang berbasiskan Hindu. Disana Prema belajar tata cara sembahyang dan menghafalkan doa-doa dalam kehidupan sehari-hari seperti doa sebelum dan sesudah makan, sebelum dan saat bangun tidur, mencuci muka, mencuci tangan dll, sehingga ketika masuk ke TK, Prema sudah cukup punya “bekal”

Nah, soal doa ini, sebuah peristiwa yang membuat hati saya hangat terjadi setahun yang lalu, seminggu setelah Prema mulai bersekolah di TK. Siang itu saat menjemput, saya mendapati Prema menangis dalam kelas dan tak mau pulang meski teman-temannya sudah beranjak pulang. Ternyata, Prema menangis karena dia belum hafal doa selesai belajar secara Hindu, dimana semua temannya sudah berdoa, Prema sendiri yang belum. Ibu guru wali kelasnya tentu tak bisa membantu karena beliau juga tak tahu doanya. Beliau seorang muslim.

Iya, meski Prema bersekolah di TK umum, namun memang 90 % siswanya beragama Islam. Demikian pula gurunya. Maka doa yang diajarkan adalah doa-doa secara Islam tentu saja. Selain Islam, karena jumlah siswa Kristen juga cukup banyak dan memenuhi kuota yang mensyaratkan sekolah wajib menyediakan guru agama Kristen, maka disekolah juga tersedia gurunya. Nah yang Hindu, karena Prema hanya sendiri, tentu saja sekolah tak menyediakan guru agamannya, sehingga dipersilahkan untuk belajar agama pada lembaga keagaamaan terkait.

Balik ke kejadian siang itu, akhirnya Prema bersedia pulang setelah saya bujuk dan saya ajarkan doa selesai belajar. Keesokan harinya, saya dipanggil oleh ibu Kepala Sekolah. Beliau meminta saya membuat catatan beberapa doa penting yang terkait aktivitas anak-anak disekolah, antara lain, doa mulai belajar, doa mencuci tangan, sebelum makan,  sesudah makan dan tentu saja doa usai belajar. Semua saya catatkan, yang kemudian oleh wali kelasnya ditempel disalah satu sisi tembok kelasnya. Dalam praktiknya, Prema dilatih untuk melafalkan doa-doa tersebut sesuai aktivitasnya. Bergantian, siswa muslim, kristen lalu Hindu atau sebaliknya sesuai doa agama masing-masing.

Jujur, hati saya hangat. Sebagai minoritas kami merasa dihargai. Guru-guru di sekolah Prema mengajarkan toleransi sejak dini pada semua siswa. Belajar saling menghargai tata cara ibadah masing-masing, tidak saling mengganggu dan bersabar menunggu giliran. Meski gurunya muslim, beliau tak canggung mengajar Prema merapal doa dalam bahasa Sansekerta, “anggap saja saya sedang belajar bahasa asing, bu, toh artinya memang bagus kok. “demikian katanya

Pun demikian dengan kejadian beberapa hari lalu yang saya tulis sebagi pembuka. Betapa gurunya menghargai hak asasi kami dengan tak memaksakan kehendak mengikutsertakan Prema dalam aktivitas keagamaan. Semua dikomunikasikan dengan kami. Bahkan jika pada hari H, Prema tidak masuk sehari juga sebenarnya diijinkan, tapi saya pikir tak perlu. Tak mengapa dia hadir, tak mengapa ikut serta, ini sekaligus menjadi proses pembelajaran untuk Prema. Bahwa tak semua harus sama. Bahwa hidup ini berwarna. Warna itulah memberi kedamaian karena mereka bersinergi saling mengisi, tak ada yang harus menonjol dibanding yang lainnya. Lha wong jaman SD dulu saya aja ikutan grup qasidahan kok, apakah itu membuat saya berpaling? Tentu saja tidak. Seperti kata gurunya Prema, “anggap saja sedang belajar bahasa asing.”

Saya berpikir, bibit-bibit seperti inilah sebaiknya yang kita tanamkan pada anak-anak kita. Kelak kita akan memetik hasilnya. Akan menjadikannya generasi yang hidup damai berdampingan, saling menghargai satu sama lain. Alih-alih melarang anak bergaul hanya karena berbeda, dengan alasan takut anak terpengaruh dan sejenisnya, jauh lebih baik memberi pemahaman tentang perbedaan dan bagaimana menjadikannya sebagai perekat dalam pergaulan. Dunia luas menanti anak-anak kita. Banyak hal baru yang akan ditemuinya dimasa depan. Menutup matanya akan perbedaan hanya akan menjadikannya pribadi yang kerdil dan sombong sehingga tak siap menghadapi tantangan dan hal-hal baru.

Bukankah pelangi menjadi indah karena banyak warna?

 

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, keluarga kecilku, Percikan and tagged , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Toleransi Sejak Usia Dini

  1. omnduut says:

    Aiiih ini tulisannya kece bangeeet 🙂 ya pelangi jadi indah karena berbeda warna, kalo warnanya sama, namanya pita hahaha.

    Aku bersyukur dilahirkan di keluarga yang menjunjung tinggi toleransi mbak. Di kampus, kami punya banyak hari perayaan hahaha. Temenku ada juga yang Hindu (dari India) jadi setiap hari raya, ya kami ke sana makan-makan (eh pas Diwali, di Indonesia nggak ada ya?) begitupun saat imlek, natal dan lebaran.

    Kasih 100 jempol buat guru Prema di sekolah 😉

    • itsmearni says:

      Aiiiiih ini komennya kece banget
      Yang komen kece juga gak ya? :p

      Nah sama
      Akupun sangat beragam keluarga besarnya, jadi hampir setiap hari raya selalu seru dan rame. Semua saling menghormati tata cara ibadah masing-masing

      Semoga generasi penerus bangsa ini senantiasa menjaga kedamaian ya. Dan membiarkan pelangi tetap menjadi pelangi gak berubah jadi pita hehe

      Koreksi dikit, itu maksudnya deepavali kali ya. Untuk Hindu Indonesia tak ada perayaan khususnya tapi kami sering juga ikut merayakan dan bersembahyang ke mandir (kuil) bersama kawan-kawan Hindu India

      • omnduut says:

        Pas aku ngucapin selamat hari Diwali (ya Deepavali) ke teman di Bali, katanya mereka nggak merayakan itu hehe.

        Yang komen kece? oh tidak terbantahkan buahahaha

    • itsmearni says:

      Iya, kami di Bali memang tak ada perayaan Deepavali, adanya Galungan. Ini terkait sejarah dimasa lampau yang kurang lebih esensinya sama yaitu perayaan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan)

  2. Toleransi itu memang seharusnya tidak ada unsur memaksakan kehendak terhadap mereka yang di luar keyakinannya. Contohnya, orang yg sudah jelas-jelas muslimah dan pake jilbab, tapi diminta memakai topi santa oleh manajer perusahaannya…. itu namanya pemaksaan kehendak / intoleran.
    Toleransi dalam hal ini adalah yang muslim membiarkan temannya yang non-muslim memakai topi santa dan merayakan hari raya agamanya.
    Gurunya Prema yang tidak memaksakan cara berdoa agama yang bukan dianut Prema… itu bentuk toleransi yang bagus.
    Kalo itu yang dipupuk dan ditanamkan bisa damai negeri ini ya, mbak.

    • itsmearni says:

      Halo mas Iwan, apa kabar
      Lama tak berbincang, lagi sibuk banget ya mas?

      Iya mas, setuju
      Toleransi sejatinya adalah saling menghormati dan tak memaksakan kehendak, sehingga semua pihak merasa nyaman dalan setiap aktivitasnya

      Agak miris sih dengan banyaknya kejadian atas nama agama akhir-akhir ini di Indonesia. Rasanya toleransi makin menipis dan emosi mudah tersulut

      Semoga damai Indonesia kita

  3. Itu juga mba yg menjadi alasan saya dan suami menyekolahkan anak kami di sekolah umum yg heterogen suasana keagamaannya

    • itsmearni says:

      Wah ternyata semangat kita sama mbak.
      Iya, saya juga memilih menyekolahkan Prema di sekolah umum (meski sebenarnya disini sudah ada TK Hindu) agar wawasannya lebih terbuka dan siap menerima perbedaan
      Gak selamanya anak bisa kita kekepin terus khan ya, suatu hari dia akan berjuang sendiri menyapa dunia yang sangat heterogen

      Pengalaman mengajarkan saya banyak hal, karena lahir dan besar di Sulawesi yang tentu saja lingkungan saya sangat Indonesia (beragam suku dan agama) nyatanya hingga saat ini hubungan kami bertetangga tetap harmonis dan tak pernah ada konflik berbau SARA

      Terimakasih kunjungannya mbak 🙂

  4. ihwand says:

    Hati saya juga ikut hangat bacanya, salut dan simpati buat gurunya Prema dan Mbak Arni atas semangat toleransinya.

    • itsmearni says:

      Weh kayaknya sebelum kesini Ihwan bantuin mama Aim masak ya, makanya hangat hatinya :p

      Sayapun salut sama guru-guru di sekolah Prema. Segala hal yang prinsip pasti selalu dikomunikasikan dengan orang tua murid.

      Terimakasih udah mampir ya 🙂

  5. Diah indri says:

    Benar mb, anak2 harus diajarkan mengenai hal2 prinsip sedini mungkin.

    Anak2 justru harus dikenalkan mengenai perbedaan dengan baik dan kasih sayang. Smg semakin banyak anak yg diberikan pendidikan kasih sayang antar sesama sedini mgk ya mb.

    • itsmearni says:

      Iya mbak Indri
      Itu juga yang jadi semangat kami dalam mendidik Prema. Menyadari perbedaan bukan untuk membuat minder tapi justru mengkayakan hati

      Karena kasih sayang adalah bahasa universal yang menyatukan manusia dalam damai, maka tentunya tak ada batas untuk menebar kasih 🙂

  6. Bener mbak, sejak kecil memang harus diajarin toleransi. Di TK anak saya tidak ada pelajaran agama walaupun yayasan Katolik dan mayoritas murid juga Nasrani. Tugas mengenalkan Tuhan tugas orang tua mbak kalo disana. Jadi malah berat di ortu hrs bnr2 membimbing

    • itsmearni says:

      Nah klo begini memang jadi tanggung jawab berat orang tuanya berarti ya
      Semua ada plus minusnya sih
      Ketika diajarkan disekolah, anak melihat dan merasakan langsung tentang perbedaan, tapi bisa jadi akan campur aduk dibenaknya jika tak disertai pemahaman dan bimbingan yang tepat
      Sebaliknya jika dirumah, anak belajar dengan baik dari satu sisi, jika orang tua memberi bimbingan yang tepat dan menjelaskan bahwa diluar sana sangat heterogen, anak akan jadi pribadi yang bisa saling menghargai, namun jika tidak, bisa jadi anak hanya akan belajar kebaikan dari satu sisi saja

      Semua berproses khan ya
      Semoga kita semua menjadi orang tua yang memberi bekal yang cukup untuk anak-anak kita agar menjadi pribadi yang baik dan senantiasa menebar damai 🙂

  7. jampang says:

    yang mengerikan adalah jika toleransi diartikan secara berlebihan bahkan sampai kebablasan

  8. cantik, pelangi itu. sepakat mbak.
    saya ketika jalan-jalan bertemu dengan banyak orang dengan beragam suku dan agama. Semakin menguatkan diri akan indahnya toleransi dan kedewasaan.

  9. Pingback: Sebuah Catatan Kecil dari Peringatan Maulid | Tersenyumlah dan Semua Bahagia ………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s