Bom Sarinah ; Antara Empati, Nyinyir dan Move On

Kemarin Jakarta berduka. Indonesia terhenyak. Sekali lagi teror menimpa negeri kita tercinta. Bom meledak di jantung kota Jakarta, di sebuah pusat perbelanjaan, Sarinah. Sekitar 26 orang menjadi korban, baik luka maupun meninggal, dari aparat, warga sipil hingga teroris pelaku ledakan. Tak lama setelahnya, saya sempat menulis 2 status di account facebook saya

PhotoGrid_1452834550249

Empati

Status pertama berupa himbauan agar tak memposting, forward atau re-forward foto-foto yang menampilkan korban dalam kondisi apapun. Ini soal empati. Mari sentuh hati kita, rasakan, dengarkan suaranya. Jika korban adalah orang terdekat kita atau malah kita sendiri, pernahkah kita membayangkan jenazah kita jadi tontonan orang banyak, jadi bahan perbincangan, difoto dalam kondisi tak layak lalu menyebar dengan cepat di media sosial bahkan oleh mereka yang sama sekali tak kita kenal? Apa tak hancur hati kita jika melihat jenazah kerabat diperlakukan seperti itu.

Selain itu, alasan lain adalah trauma. Tak semua orang memiliki kondisi psikologis yang sama saat melihat darah. Iya darah. Korban bom/tembakan pastinya berdarah dan terluka. Sebagian orang akan bereaksi mual, muntah atau malah ketakutan. Bahkan bisa menjadi trauma berkepanjangan. Terutama anak-anak. Apa yang akan kita jelaskan pada anak jika melihat gambar-gambar mengerikan seperti itu.

Saya, kemarin menghapus banyak foto dari album di HP. Foto-foto yang saya dapatkan dari aneka grup WA yang saya ikuti. Begitu masuk, langsung saya hapus. Selain karena tak tega melihatnya, saya juga tak ingin Prema, 5 tahun, melihat gambar-gambar itu jika suatu hari dia membuka HP ibunya. Saya juga sama sekali tak menonton siaran televisi tentang bom ini. Kalaupun saya cukup banyak tahu beritanya, itu semua dari obrolan di grup WA, media sosial hingga membaca portal berita online. Bahkan kami, saya dan suami, tak membahas soal bom ini terang-terangan di depan Prema. Kalaupun ada pembicaraan, itu hanya sekilas dan berlanjut saling memperlihatkan gambar/berita. Kami berusaha meminimalisir informasi bom dan teroris ini dari benak Prema. Belum waktunya. Biarkan dia nyaman dengan dunianya, bermain sambil belajar atau sebaliknya belajar dari bermain.

Lalu pagi ini saya membaca status seorang kawan tentang anaknya yang ketakutan untuk sekolah, takut teroris, takut bom, takut diserang. Ketakutan yang muncul karena kemarin sepulang sekolah sempat menonton berita itu ditelevisi. Beruntung dia punya ibu yang hebat yang bisa menenangkan dan meyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja. Dan beruntung dia berani mengungkapkan perasaannya, sehingga orang tuanya bisa mengambil tindakan yang tepat. Bagaimana dengan puluhan, ratusan atau mungkin jutaan pasang mata dan telinga anak-anak lain yang terpapar berita itu dan merekamnya dalam memori.

Bagaimana jika mereka takut tapi tak sanggup bersuara, tidakkah itu akan jadi bom waktu tersendiri di masa depan?

Bagaimana jika mereka diam-diam mengambil kesimpulan sendiri dari apa yang dilihat dan didengar untuk kemudian mencontohnya dikemudian hari?

Bagaimana jika kemudian mereka tak punya empati karena saking terbiasanya melihat foto-foto korban berlumuran darah?

Dan masih banyak kemungkinan lainnya yang bisa saja terjadi. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Generasi mendatang saat ini ada ditangan kita. Mereka memang laksana anak panah yang suatu hari akan lepas dari busur, namun jalannya saat ini kitalah yang menentukan. Kita yang mengasahnya agar menjadi tajam, memilih jalan yang tepat agar tak salah sasaran.

Bersyukur pemerintah bergerak cepat. Melalui Kementerian Pendidikan, tak lama setelah kejadian langsung keluar edaran mengenai tata cara menjelaskan kejahatan terorisme bagi anak. Mendadak memang, tapi setidaknya bisa menjadi panduan bagi orang tua.

IMG-20160114-WA0048

Ya, anak-anak yang terpapar harus mendapatkan penjelasan yang benar. Sekali lagi ini soal empati, kepada keluarga korban, kepada mereka yang tak kuat melihat darah dan luka, kepada anak-anak kita.

Nyinyir

Status pertama saya sepertinya cukup sukses membuat timeline saya ‘bersih’ dari postingan ‘berdarah’. Tak sedikit kawan yang juga membuat status serupa. Ini kemajuan. Setidaknya empati kita pada sesama mulai tumbuh. Meski masih ada satu dua yang tetap mempostingnya, tapi tak banyak. Saya lewatkan begitu saja. Tapi kemudian saya tergelitik lagi untuk membuat status. Kali ini beranda saya terisi postingan ‘nyinyir’

Mulai dari tuduhan bahwa bom ini “pesanan” salah satu negara besar yang sarat kepentingan pada Indonesia sampai pada soal pengalihan issue atas beberapa kejadian yang berlangsung dihari yang sama dan tengah ramai dibicarakan. Semua berupa prasangka. Semua berupa opini.

Banyak yang mendadak jadi pengamat ekonomi, pengamat politik bahkan pengamat pertahanan keamanan. Tiba-tiba banyak yang jadi ahli lalu mulai menebar issue yang belum jelas kebenarannya. Bahkan yang saya tak habis pikir, sebagian orang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk menjatuhkan pihak tertentu. Niat benar sampai ada yang mengedit jam pada email salah satu kedutaan lalu menyebar issue bahwa mereka adalah dalangnya. Entah apa tujuannya, yang pasti sebagian orang menerima informasi itu mentah-mentah, menyebarkannya lagi dan tak lupa masih ditambahi dengan kalimat-kalimat makian, membenci dan menjatuhkan, tanpa cek dan ricek. Bukannya membantu menenangkan suasana, yang seperti ini justru membuat teror baru, menumbuhkan ketakutan baru dan menyebarkan energi negatif.

Ketika kemudian pihak kepolisian angkat bicara, tentang dugaan otak teror ini, sebagian orang justru sibuk menuduh polisi sedang bermain sandiwara. Meragukan kerja aparat, sambil bertanya, “kok bisa secepat itu bisa tahu?”

Padahal kalau polisinya diam dan gak mengeluarkan pernyataan, yo sama saja, pasti bakalan dinyinyirin juga, “ngapain aja sih polisi ini, gak becus bener kerjanya!”

Nah khan. Gak ada benernya deh. Timbang ikut-ikut menyebarluaskan info yang tak jelas, bukankah jauh lebih baik kita berbagi konten positif. Tak bisa aktif menolong dalam situasi seperti ini, setidaknya tak perlu memperkeruh suasana, menambah panas hati dan sejenisnya. Akan jauh lebih adem rasanya jika kita menebar damai, bergandeng tangan dan memanjatkan doa untuk kebaikan bersama.

Move On

Indonesia memang unik. Masyarakatnya sangat kreatif dan luar biasa dalam memutarbalikkan kondisi. Dari ketakutan menjadi banyolan, dari ketegangan menjadi sebuah hiburan.

Tak lama setelah teror bom berlangsung, selain yang nyinyir, beredar pula aneka foto, kalimat yang sangat kreatif dan lucu. Kalau anak kekinian menyebutnya meme. Lumayan menjadi hiburan tersendiri ditengah teror ini.

Selain aneka meme, aktivitas masyarakat juga segera pulih bahkan diluar dugaan, tempat kejadian yang awalnya mencekam dalam sesaat berubah menjadi “tempat wisata” baru. Pedagang asongan tak ketinggalan, turut mengambil kesempatan, para pencinta selfie juga berdatangan untuk mengambil gambar, bahkan aksi para polisi yang sedang bekerjapun menjadi tontonan. Yang paling heboh kemudian adalah dunia media sosial diramaikan dengan kekaguman akan sosok polisi ganteng. Hastagpun bermunculan, mulau dari

#polisiganteng

#kaminaksir

#hanyadiIndonesia

#Indonesiaberani

#kamitidaktakut

#terorisgagal

Dan lain sebagainya.

Buat sebagian orang, yang ngeliat itu sebagai hal negatif ya mikirnya bahwa yang seperti itu gak sensitif sama perasaan korban, biar dikit juga. Lalu sibuk menghujat bahwa masyarakat Indonesia gak punya hati.

Bagaimana kalau kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Lihatnya sebagai kondisi cepetnya orang Indonesia pulih lagi dari ketakutan. Move on. Hidup harus terus berjalan khan.

Di sisi lain, ini juga menunjukkan ke teroris atau dalangnya bahwa Indonesia gak apa-apa kok. Sempat terluka, iya. Tapi untuk teror berkepanjangan, tidak. Teroris itu gagal. Masyarakat Indonesia tidak takut. Bersatu menjadikan Indonesia kuat.

Dan lihatlah hari ini. Denyut kehidupan berjalan normal. Yang bekerja kembali bekerja. Aparat tetap menjaga, perekonomian masih stabil, nilai tukar rupiah tak terpuruk (sebagaimana ketakutan sebagian orang), para teroris telah tertangkap.

Mari bergandeng tangan. Berdoa dan melakukan yang terbaik untuk negeri. Memetik pelajaran dari masalah. Mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang baik, agar kelak mereka punya semangat dan cinta yang besar untuk membangun Indonesia tercinta.

 

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

32 Responses to Bom Sarinah ; Antara Empati, Nyinyir dan Move On

  1. omnduut says:

    Yang jadi perhatianku itu, belakangan banyak banget meme/status/gambar yang hmm katakanlah mengejek/meremehkan kejadian kemarin (baca : si teroris gak jelas itu). Biasanya orang yang ditantang itu kan bisa bersikap lebih mengerikan jika (merasa) dilecehkan.

    Pokoknya serem euy kejadian kayak gitu hiiiy, semoga gak mewabah di Indonesia dan nggak akan terulang lagi.

    • itsmearni says:

      Huwaaaaa dia udah nongol aja dimari. Gerak cepet bener deh Oom Yayan ini. Saya masih gagal upload beberapa gambar euy hiks

      Iya, kalau dilihat dari sisi itu ada benarnya juga. Alih-alih mematahkan semangat para teroris malah bisa jadi bikin mereka merasa tertantang ya
      Semoga saja tidak, semoga ini hanya sebatas kekhawatiran. Semoga ini adalah kejadian yang terakhir dan beneran buat mereka kapok

      • omnduut says:

        Hahaha aku pernah tuh niatnya mau tekan tombol save eh kepublish padahal masih berantakan hahaha.

        Iya mbak, semoga teroris lenyap dari muka bumi amiiin

    • itsmearni says:

      Ahaha iya aku udah beberapa kali kejadian kayak gitu, masih ngedit ternyata malah tayang, dan akunya baru ngeh klo dah tayang karena ada yang komen, kayak hari ini deh

      Sip. Mari berdoa bersama untuk kebaikan negara kita tercinta

  2. diba says:

    Wah2, memang unik Indonesiaku…*termasuk akunya sepertinyaaa…

  3. Memang unik mbak Indonesia ini. Seakan lupa dengan cepat dan menjadi kekinian dengan cepat pula. Mengenai trauma di anak, ada foto yang kmrn dishare teman. Saya share di FB kalau tak salah.

  4. Semoga Indonesia selalu aman ya mbak Dan smua rakyat kembali pulih dari trauma yang ada

    • itsmearni says:

      Sip
      Mari bersama bergerak menebar konten positif juga lewat tulisan mbak
      Mudah-mudahan semangat perdamaian bisa kita tularkan lewat blog. Menciptakan rasa aman dan menghilangkan trauma banyak caranya khan ya 🙂

  5. Kania says:

    Saya jg sempt cemas wkt kejadian krn kantor suami dekat lokasi

  6. tapi jadi ngekek sehabis itu banyak hashtag lucuk seperti #KamiNaksir , orang indonesia ya emang unik ya.. semoga aman selalu indonesiaku..

  7. enkoos says:

    Tetep kudu ati ati ya Arni,

  8. April says:

    Sempat cemas krn setengah jam sebelumnya suami lewat pospol situ huhuhu
    Untung gpp…
    Moga aman2 selalu di kemudian hari aamiin

  9. ismyama says:

    Aku save panduan untuk ortu bicara pada anak ttg terorisme ya..pikiranku ga smpe sejauh itu soalnya. Tp mmg benar2, anak2 SD kalo lht beritanya, dan mereka belum bisa memilah milah, bisa jadi ada yang nantinya gagah berani pasang badan maju ke depan teroris. Atau berlagak aksi2an jadi polisi. Yg lebih sedih kalau ada yg trauma lht darah di mana mana

    • itsmearni says:

      Siiip silahkan disave dan dishare
      Jujur kalo aku pribadi, pas ada kejadian2 seperti ini yang pertama terlintas adalah bagaimana melindungin anak-anak agar tak terpapar atau menerima info dengan cara tak semestinya
      Sangat mengerikan ketika mereka merekamnua dalam benak dan menyimpulkan sendiri
      Efeknya akan menjadi jangka panjang

      Hal sama aku lakukan ketika melihat peristiwa kecelakaan, sebisa mungkin menghindarkan anak dari melihat atau mendengarnya. Kejadian jatuhnya pesawat tempo hari cukup menjadi pelajaran buatku melihat anak2 teman dan saudara bercerita dengan gamblang, dengan ekspresi sangat polos menbahas pesawat jatuh, orang meninggal, kaki terpotong, wajah hancur dsb, tak ada beban, takut atau sejenisnya. Malah aku yang mendengar jadi merinding. Itu akan panjang lho tersimpan dimemorinya. Salah satu efeknya ya kehilangan empati, karena menganggap hal demikian sebagai sesuatu yang biasa
      Itu sih dari sudut pandang kami ya, makanya prema sebisa mungkin saya hindarkan dari berita semacam itu. Biarkan dia menikmati dunia bermainnya. Akan tiba saatnya dia tahu dan diberi pengertian

  10. dian nafi says:

    gado-gado kan ya rasanya, saking bingungnya lihat segala macam reaksi dan spekulasi

    • itsmearni says:

      Iyaaaaaaa
      Rasanya campur aduk
      Dari ngeri melihat aneka foto korban, lalu marah pada pelaku teror, kemudian bingung melihat segala suguhan teori konspirasi dan terakhir malah ngikik2 liat meme yang bermunculan

      Unik memang ya

  11. sepertinya memang hanya ada di Indonesia, kejadian kemarin saya tahu dari TV dan medsos. Sangat penting memang ortu memberikan pendampingan pada anak, tentang kejadian kemarin. Semoga tidak terulang kembali

    • itsmearni says:

      Betul San
      Kejadian2 kekerasan dan berdarah seperti ini sebaiknya dijauhkan dari anak-anak. Belum waktunya mereka tahu yang seperti ini
      Jikapun sudah terlanjur, pendampingan yang tepat sangat diperlukan demi kesehatan jiwa dan mental mereka dimasa depan

  12. saya juga naksir kok *eh maksudnya naksir sepatu ama tas punggung polisi ganteng, mau beli juga ah biar banyak yang naksir wakakaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s