Jika Aku Menjadi…..

Sebagai makhluk sosial, kita tentu saja tak bisa tidak akan sering bersinggungan dengan pihak lain. Tetangga, para penyedia jasa, pedagang, pekerja dan lain sebagainya, yang mana semua tentu berharap terjalin hubungan yang baik satu sama lain.

Saya sering melihat orang membuang sampah sembarangan. Saya juga pernah menegurnya dan apa jawabnya, “ah, nanti juga ada yang bersihin!”

Masih soal manajamen sampah. Saya kenal seseorang, dulu wadah sampahnya didepan rumah, dari ember bekas. Segala jenis sampah masuk kesana, dari sisa makanan hingga sampah rumah tangga lainnya. Hampir setiap pagi, saya akan mendapati ember itu terbalik, entah oleh kucing, anjing atau tikus yang mengais sisa makanan disana. Yang pasti berserakan aja isinya.

Lalu mereka membuat tempat sampah permanen, dari bata. Kali ini tentu saja gak bakal terbalik lagi oleh kucing atah anjing. Tapi…. ada tapinya nih, tempat sampah ini tak ada sisi terbukanya untuk mengeluarkan sampah. Semua full tertutup. Akibatnya saat hujan, air tergenang. Jangan bayangkan aromanya ya.

Bukan itu saja, yang paling kasian melihat petugas kebersihan pengangkut sampah yang datang setiap minggu. Karena tak ada sisi terbuka, itu artinya petugas kebersihan harus meraup sampah didalamnya dengan tangan, satu persatu. Kalau sampahnya terbungkus dalam plastik-plastik mungkin akan lebih mudah ya. Lha ini ndak lho, kadang sampah sisa makanan langsung dari piring dituang kesana. Ditambah lagi sampahnya kadang basah terendam air. Duuuh…..

Lain waktu saya melintas dijalan sebuah perumahan. Jalannya sempit, hanya muat satu kendaraan roda empat. Kalau dipaksakan bisa sih berpapasan, tapi harus sangat hati-hati dan super mepet. Yang gak saya mengerti, kok yo dijalan sesempit itu ada jemuran terbuka lebar, mengambil sebagian badan jalan. Saya lirik rumah pemiliknya, posisinya dipojok, yang artinya dapat tanah lebih dibanding tetangga lainnya. Saya perhatikan lagi, rumah itu dua kavling yang disatukan lalu dibangun berlantai dua pula. Garasinya berisi tiga buah mobil. Sudah segede itu lahannya, tapi naro jemuran masih dipinggir jalan?

Seperti halnya dikompleks perumahan yang lain, umumnya ada abang tukang sayur keliling. Di tempat saya juga demikian. Dari sekian banyak tukang sayur keliling, ada satu yang sudah sangat tua. Saya sendiri kadang tak tega melihat langkahnya yang terseok sembari memikul keranjang sayuran. Iya bener, kakek itu pakai pikulan, bukan gerobak. Tak banyak ragam sayurnya, paling banter cabe, bawang, daun singkong, bayam atau kangkung. Itupun jumlahnya sedikit-sedikit, tergantung kemampuan membeli dan kekuatan memikul. Kadang, meski sudah punya stok sayuran dikulkas, kalau si kakek lewat, saya tetap membeli dagangannya. Apa saja, asal membeli. Toh, tetap akan terpakai besok-besok. Tanpa menawar. Rasanya tak tega mau nawar. Lalu saya melihat seseorang,  belanja pada si kakek. Cabe 2000 perak (sudah dibungkus dalam plastik-plastik) masih ditawar lima ribu untuk 3 bungkus. Itu nawarnya kekeuh benar, demi mempertahankan uang seribu rupiah. Ngenes saya bayanginnya. Lha wong nanam cabe aja nunggu berbulan-bulan baru bisa panen, udah terima rapi tinggal make aja nawarnya luar biasa. Padahal kalau beli di supermarket, harganya jauh lebih mahal, gak pake nawar pula.

PhotoGrid_1452693210908

Masih banyak kejadian lain disekitar kita yang mirip-mirip seperti ini. Berinteraksi dengan orang banyak pastinya kita pengen senyaman mungkin sehingga terjalin hubungan yang baik. Saya, biasanya mengingatkan diri sendiri dengan kalimat “jika aku menjadi…..”

‘Jika aku menjadi petugas kebersihan, aku berharap orang-orang tak membuang sampah sembarangan. Aku berharap orang-orang memperingan tugasku dengan merapikan sampahnya,’

‘Jika aku menjadi pengendara yang lewat di gang sempit, aku berharap tak ada halangan diperjalanan, sehingga kendaraan bisa melintas dengan lancar,’

‘Jika aku menjadi pedagang, aku berharap semua pembeli mengerti bahwa aku berjualan dengan mengambil sedikit keuntungan, bahwa aku memilih melangkah memikul beban daripada harus mengetuk pintu rumah warga dan menadahkan tangan’

‘Jika aku menjadi pembaca, aku ingin membaca konten positif saja agar terbawa berpikir positif,’

Dan seterusnya dan seterusnya……

Dengan menempatkan diri kita di sudut pandang lawan interaksi, kita akan belajar memahami bagaimana kita ingin diperlakukan. Memupuk empati. Pendeknya, kita tak mau dikasari, ya jangan berbuat kasar pada orang lain. Kita tak mau dibuat susah oleh orang lain, ya jangan nyusahin juga. Kita mau orang baik dan ramah, mari mulai dari  sikap diri kepada orang lain.

Ini juga berkali-kali kami ajarkan pada Prema. Sebagai anak tunggal, kadangkala Prema menjadi agak egois. Agak susah berbagi. Ketika temannya bermain di rumah kami, Prema nampak agak superior dan pelit. Untuk mengingatkannya, saya biasanya menggunakan kalimat, “Kalau Prema main ke rumah teman, Prema mau gak dipinjemin mainan?”

Biasanya dia menggeleng atau menjawab,”ndak mau.”

Maka meluncurlah nasehat untuk berbagi. Ini cukup efektif buat mengingatkan anak seusia Prema.

Begitulah, posisikan dirimu disisi lawan interaksi dan perlakukan dia sebagaimana kita ingin diperlakukan jika berada diposisinya. Ini akan mengasah empati kita untuk dapat lebih menghargai orang lain. Bahwa sesungguhnya tak ada profesi yang lebih rendah satu dengan lainnya, semua memiliki peran penting dan saling mendukung.

Karena orang baik akan bertemu orang baik. Kalaupun tak bertemu, minimal kita akan dikenal sebagai orang baik ^^

—————-

Menulis adalah mengingatkan diri sendiri. Belajar belajar dan terus belajar

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to Jika Aku Menjadi…..

  1. musimbunga says:

    Saya suka saya suka.. bener tuh mba.. kdg org tega akan suatu hal krn tdk memposisikn dirinya d tmpt org lain.. btw aku gemes sm crt org yg taro jemuran d jlnn

  2. Setuju Mbak, kita harus menempatkan diri pada posisi orang lain agar bisa berempati dan bersikap baik pada mereka. Soal sampah, aku agak dilema, kami juga biasanya membungkus sampah2 dengan tas kresek sehingga tong sampah nggak kotor dan tukang sampah mudah ngambilnya. Tapi di sisi lain, kita juga ingin mengurangi jumlah sampah plastik  Gimana itu Mbak solusinya?

    • itsmearni says:

      Hehe jujur aku juga masih kayak gitu, sampah rumah tangga aku bungkus kresek biar gak berantakan. Paling banter yang aku lakukan biasanya memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dengan yang tidak misalnya kertas + botol2 plastik + kardus aku pisahin jadi satu tempat, gak kucampur dengan sisa makanan. Ini juga memudahkan kalau ada pemulung, mereka gak perlu ngorek-ngorek sampah, jadi tinggal angkat. Sisa makanan juga kadang aku tempatnya di kotak kardus, taro disebelah tempat sampah, biasanya ada hewan (anjing, kucing, ayam) yang makanin. Sementara sih itu yang kulakukan 🙂

  3. ismyama says:

    Prema usia brp mba? Anak2 memang begitu.musti pelan2 kayanya nyontohinnya

    • itsmearni says:

      Prema 5 tahun mbak
      Iya memang musti pelan-pelan, biar dia juga gak merasa terpaksa dan terekam baik dimemorinya. Plus kudu sabar mengulang mengulang dan mengulang kembali 🙂

  4. jampang says:

    Dengan membayangkan menjadi mereka kita bisa ikut merasakan apa yg mereka rasakan ya mbak

  5. anotherorion says:

    belajar empati ya mbak, ben iso ndelok kahanan

  6. Diah indri says:

    sampah ini masih banyak kejadian menyedihkan, ya mbak

    • itsmearni says:

      Banyaaaaaak
      Dan karena anak adalah peniru ulung, biasanta anak akan meniru perilaku orangtuanya
      Bayangkan apa yang terjadi 5 atau 10 tahun kedepan, anak yang mendapat contoh kemudian menganggap itu suatu kewajaran jadilah sampah tetap ada dimana-mana
      Maka sekali lagi, mari menjadi contoh yang terbaik untuk anak-anak kita

  7. Memupuk empati dan berbagi pd anak ini baiknya dimulai usia brp ya? Maxy blm ngerti huhuhu

    Btw lagi soal memupuk empati, apalagi jaman skrng marak medsos makin jarang nemu, opo maneh kalo perang antar ibu yg ini versus inilah, itu versus itulah, you know lhaaa… Makin puyeng huhuhu.

    • itsmearni says:

      Aku sih gak pake patokan usia ya karena kapan saja dimana saja bisa dilakukan
      Saat membesuk teman yang sakit misalnya, anak diajar untuk tidak berisik, untuk berdoa bagi kesembuhan. Saat dilift, belajar memberi ruang pada nenek-nenek, mengambil tempat seperlunya dan lain sebagainya
      Makin dini kita ajarkan makin terekam lama. Yang penting sih kitanya konsisten ya 🙂

  8. Revorma says:

    Seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi rasa empati sepertinya juga semakin terkikis. ini jadi tugas kita sebagai orang tua untuk mengenalkan empati kepada anak-anak kita, agar kelak menjadi manusia sepenuhnya, yang bukan setengah hewan.

    • itsmearni says:

      Betul. Setuju sekali
      Kemajuan teknologi kadang membuat manusia menjadi lebih egois. Lebih fokus pada diri sendiri. Peer orang tua menjadi lebih berat dan sayangnya tak ada sekolah menjadi orang tua. Bahkan kitapun masih harus terus belajar untuk tidak sekedar menyuruh, tapi lebih kepada memberi bukti dan contoh secara konsisten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s