Dan Sayapun Malu Hati. Makjleb! Jleb! Jleb!

Pernahkah kamu merasa tertampar dalam hati?
Pernahkah kamu merasa malu hati sampai tak bisa ngomong?
Pernahkah kamu menunduk dan merasa tak ada apa-apanya?
Pernahkah kamu merasa betapa kerdilnya jiwa kita dan kurang bersyukur selama ini?

Saya pernah!

Dan semua pelajaran luar biasa itu saya dapatkan tepat dipenghujung tahun kemarin, 31 Desember 2015, dari seorang bapak tua tukang sol sepatu, Pak Ode namanya. Sungguh diluar dugaan. Apalagi saya mengalaminya setelah dua minggu sebelumnya saya melewatkan hari-hari penuh drama.

image

Kapan terakhir kamu merasa cukup?
Kapan terakhir kamu bersyukur untuk apa yang sudah diperoleh selama ini?
Kapan terakhir kamu menghargai nilai uang Rp 15.000 dengan penuh kebahagiaan dan sukacita?

Bapak tua itu melakukannya. Tepat di depan saya, hingga saya termangu.

Saat itu, selagi liburan di Kendari, sandal saya putus. Karena masih sayang, saya memutuskan untuk menjahitnya agar bisa dipakai kembali. Singkat kata, sandal itu berpindah tangan ke Pak Ode tukang sol sepatu yang mangkal di sisi depan Pasar Panjang, Kendari.

Nah, siang itu saya dan ibu kembali ke pasar untuk mengambil sandal. Sembari membawa sandal ibu yang juga akan dijahit. Saya kemudian menyodorkan uang Rp. 50.000,- untuk membayar jasa menjahit dua buah sandal kami.

Belumpi ada uangku, Nak. Ko pergimi dulu belanja, nanti ko datang lagi bayar pake uang pas,” demikian katanya
(Saya belum ada uang, Nak. Belanja aja dulu nanti balik lagi bayar pake uang pas)

Berapakah, Oom?” tanya saya

20 ribu saja, khan dua sendal to,” jawabnya

Saya menelisik dompet, tak ada uang kecil euy. Sementara saya tak ada rencana untuk belanja yang lain. Bagaimana ini?

image

Ibu saya kemudian menengahi. Mengambil uang Rp 20.000,- dari dompetnya, bersama 1 lembar uang Rp 10.000,- dan 1 lembar lagi Rp 5.000,-

Inimi saja. Yang ini (20 ribu) ongkos menjahitmu. Yang ini (15 ribu) sa kasi saja, untuk kita,” kata ibu saya sambil menyodorkan uangnya
(ini aja, yang 20 ribu buat ongkos, 15 ribu buat bapak)

Note : dalam bahasa pergaulan di Kendari dan beberapa daerah Sulawesi, “kita” adalah kata ganti “kamu” dalam bentuk yang sopan dan lebih pada penghormatan

terlalu banyak ini ibu, janganmi kasian. Kita bayar saja sesuai ongkosnya,” jawab Pak Ode sambil mengembalikan uang 15 ribu ke tangan ibu saya.

eh ndak apa-apa. Buat beli oleh-oleh nanti cucu-Ta dirumah,” ibu saya memaksa

Dan tahu apa yang terjadi?

Pak Ode menangis. Sembari berkali-kali mengucapkan terimakasih pada kami. Wajah polosnya menunjukkan rasa syukur yang luar biasa. Bahkan dia sampai menyalami saya dan ibu juga memuji-muji kami sebagai orang yang baik hati.

Saya tercekat. Sudut hati saya sesak. Ada gelombang hangat menyeruak dan perlahan mata saya mulai berkaca-kaca. Buru-buru saya memalingkan wajah agar tak terlihat menangis. Saya hanya bisa tersenyum, tak sanggup menjawab.

Ya Tuhan
Saya malu. Sungguh. Saya malu pada diri sendiri. Uang 15 ribu kadang habis untuk sekali jajan. Dan diluar sana ada seorang bapak yang bahkan menolaknya karena merasa tak berhak. Ketika menerimanya, rasa syukur jelas terlihat diwajahnya.

Pak Ode seharian duduk disudut pasar panjang. Dibawah terik mentari dan hujan. Dari pagi hingga sore. Menjual jasa. Mencari rejeki dari orang-orang yang butuh menjahit sandal, sepatu, mengganti sol dan sejenisnya.
Berapa penghasilannya?
Kita anggap saja sekali menjahit beliau mendapat 10 ribu rupiah, tapi apakah rutin setiap hari ada yang menjahit?

Saya, kadang masih sering hitung-hitungan. Dibayar berapa saya untuk jasa A?
Berapa keuntungan saya dari jualan B?
Kalau saya melakukan ini, apa yang saya dapatkan?

Oke!
Sebutlah saya lebay.
Sebutlah saya terlalu mendramatisir.
Tapi sungguh, percakapan singkat siang itu menyentak kesadaran saya. Bahwa saya harus lebih banyak beryukur. Untuk hidup, rejeki, kesehatan dan semua proses yang saya jalani selama ini.

Belajar dari pengalaman ini, saya membayangkan bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi #lebih berarti terutama bagi para pelaku ekonomi kreatif seperti Pak Ode. Saya sebut ini ekonomi kreatif, karena Pak Ode benar-benar bekerja sesuai kreatifitasnya dan menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri tanpa harus tergantung pada orang lain. Meski dalam skala mikro atau dikenal sebagai mass market, tak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang membutuhkan jasa orang-orang seperti Pak Ode dan tanpa sadar kita sangat terbantu oleh mereka. Dan alangkah baiknya jika orang-orang seperti Pak Ode ini terbantu secara ekonomi sehingga mereka akan terus mengembangkan keahliannya dan berbagi kebijaksanaan pada lebih banyak orang.

Yuk, berDAYAkan Mass Market!

mQDlZboX

Tentu saja kita semua tahu bahwa banyak sekali para pelaku usaha kecil yang punya potensi untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik. Sayangnya keterbatasan informasi dan pengetahuan membuat mereka seolah jalan ditempat dan tak punya harapan. Padahal sesungguhnya banyak peluang tersedia, sayang pintunya belum terbuka.

Lalu, bagaimana caranya membuka pintu-pintu itu?
Siapa yang dapat melakukannya?
Kita semua. Ya, Kita. Kita bisa membantu dan berterimakasih pada mereka lewat menabung.

Menabung? Dimana? Iya, di Bank BTPN, tepatnya BTPN Sinaya.
Mereka, para pelaku usaha mass market ini mungkin tak pernah ke Bank. Boro-boro punya tabungan di Bank, membayangkan melangkahkan kaki kedalam bangunan megahnya saja mungkin tak berani. Nah terus, siapa dong yang menabung?
Tentu saja saya dan anda semua.
Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) saat ini mempunyai program Daya, yaitu sebuah program pemberdayaan mass market yang berkelanjutan dan terukur. Kita semua bisa mengkuti program ini untuk pemberdayaan mass market. Dengan demikian kita membuka pintu kesempatan pada mereka untuk tumbuh dan berkembang demi peningkatan taraf hidup yang lebih baik. Program Daya ini memiliki tiga pilar utama, yaitu program di bidang kesehatan, program di bidang pengembangan usaha dan program di bidang komunitas, dimana semua orang bisa berpartisipasi dan berperan aktif dalam program-program tersebut.

Lalu seperti apa sebenarnya peran kita dalam program daya ini?
Saya membayangkan suatu hari Pak Ode membuka gerai berupa kios sehingga lebih nyaman dan lega, bukan hanya menumpang lapak disudut jalan, berpayung sekedarnya hanya agar tak terkena matahari dan hujan. Tentu saja besar kemungkinan pelanggannya akan bertambah karena merasa lebih nyaman dalam bertransaksi. Lebih jauh, saya membayangkan Pak Ode membuka pelatihan bagi generasi muda sehingga kelak mereka meiliki keahlian dan keterampilan dan bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri. Sandal dan sepatu rusak akan terus ada lho, selama manusia masih menggunakan alas kaki, artinya kebutuhan terhadap jasa permak seperti ini juga akan terus ada. Satu yang pasti, semua ini butuh modal.

Seperti yang saya sebutkan diatas, tugas utama kita adalah menabung (selain turut membeli atau menggunakan jasa mereka tentu saja) melalui BTPN Sinaya sehingga uang yang kita setorkan disana kemudian akan berputar untuk kebutuhan penguatan modal bagi mass market berbentuk pemberian kredit dengan suku bunga terjangkau. Untuk lebih jelasnya, saya telah melakukan simulasi program daya ini melalui program menabung untuk memberdayakan. Berikut langkah-langkah yang saya lakukan :

Pertama-tama, mari masuk ke page simulasi BTPN, akan tersedia pilihan apakah akan melakukan simulasi melalui akun facebook atau manual. Saya memilih manual.

image

Kemudian kita akan diminta melengkapi data berupa nama dan alamat email serta bidang usaha yang ingin kita berdayakan melalui program ini. Terkait pelajaran hidup dari Pak Ode, saya memilih fashion.

image

Selanjutnya akan tampil pilihan berapa besar dana yang akan kita tabung setiap bulan dan jangka waktunya, ini akan menjadi indicator sebesar apa nantinya dana tabungan kita dapat memberdayakan mass market. Saya memilih nominal Rp. 500 ribu selama 5 tahun.

image

Untuk dapat menerima hasil simulasi, kita kembali diminta melengkapi data berupa nomor telepon, sehingga sewaktu-waktu dapat dihubungi oleh customer service representative BTPN. Setelah itu klik field β€œLihat hasil simulasi”

 

image

image

Dan tarraaa…. Hasilnya muncul.
Dalam 5 tahun, dana yang saya setorkan sebesar 500.000 setiap bulannya berkembang menjadi Rp. 34.177.130,- Wow… Tentu saja ini jumlah yang lumayan ya untuk mendukung pemberdayaan para pelaku mass market. Semakin besar nominal yang kita setorkan setiap bulan, semakin panjang jangka waktunya, tentu akan menjadikan pertumbuhan nominalnya juga menjadi semakin besar.

Kembali ke Pak Ode, nominal ini rasanya cukup untuk menyewa sebuah kios kecil di pasar atau untuk menambah beberapa peralatan jahit dan sol sepatu sehingga Pak Ode bisa mengembangkan usahanya dan terus menginspirasi lewat kejujuran, kepolosan dan kebijaksanaannya dalam menghadapi hidup. Pelanggan yang bertambah akan menjadi termotivasi untuk menjadi #lebihberarti dan bermanfaat bagi orang banyak karena mendengar langsung pelajaran berharga dari Pak Ode.

Terimakasih Pak Ode
Guru kehidupan memang bisa dimana saja, darimana saja dan kapan saja. Saya beruntung bertemu salah satunya, siang itu, dipenghujung tahun. Mengingatkan saya untuk refleksi, terutama pada diri sendiri.

Tulisan ini disertakan dalam kompetisi penulisan BTPN ‘Terima Kasih Mass Market’

BTPN-competition-blog-general-A-1

Sumber : Portal BTPN

Untuk kenal lebih lanjut tentang BTPN, kunjungi laman media sosialnya :

Web : http://www.btpn.com
Twitter : @sahabatBTPN
Facebook : BTPN

—————

Menulis adalah mengingatkan diri sendiri. Belajar belajar dan terus belajar

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged , . Bookmark the permalink.

62 Responses to Dan Sayapun Malu Hati. Makjleb! Jleb! Jleb!

  1. omnduut says:

    Sejak viral ajakan di sosmed untuk jangan menawar bagi pedagang kecil, aku, (yang kadang jadi) si raja tega nawar ini ikutan insyaf mbak πŸ™‚ betapa penghasilan mereka begitu kecil dan mereka menempatkan harga diri mereka jauh diatas dengan cara tidak menjadi pengemis. (y)

    • itsmearni says:

      Baru tahu aku klo Oom yayan ini raja tega
      Iya bener Oom, kadang malu hati lho mau nawar ke pedagang kecil, udahlah mereka benar2 kerja keras, berpeluh, untung gak seberapa, kita pake nawar
      Padahal belanja di mall, gadget juta-jutaan, beli kendaraan apalagu beli tiket pesawat buat travelling #uhuk gak pake nawar hehehe

      • omnduut says:

        Hanya berlaku jika trip mbak haha. Sehari-hari aku nggak doyan belanja, Dan lebih memilih belanja di tempat yang harganya pas seperti warung. Jadi jarang nawar πŸ™‚

      • tiarrahman says:

        tapi ada juga kita harus tahu harga pasaran. sebab beberapa pedagang justru melakukan mark-up yang terlalu. Saya pernah ngalamin pas sma. Tukang jual buku kaki lima, tapi harga lebih mahal dari toko buku. bahkan 2x lipat :).

        Kalo sama nenek/kakek yang jualan.. bagusnya malah kita dilebihkan.

  2. adventurose says:

    Ikut tertampar rasanya…. 😦
    Semoga Allah memberi keberkahan pada rejeki beliau… Aamiin….

  3. Duhh sy sampe mewek bacanya. Jadi teringat saat sy melihat seorang tukang parkir yg sgt sigap membantu parkir bahkan enggan menerima uang parkir sebelum kendaraan yg diparkirnya benar – benar sdh di posisi yg tepat utk melaju pergi. Saat itu sy lihat beliau memakai sepatu yg sudah menganga bagian depannya dan diikat karet gelang hanya agar bs menutup sekadarnya. Sy langsung pulang dan mengambil sepatu kets yang msh bagus hanya saja sudah tidak pernah digunakan lagi. Padahal bagi saya itu hanya sepatu yang sdh tidak berguna. Tapi saat sy berikan awalnya ditolak namun setelah agak memaksa dan mengatakan bahwa saya sudah tidak menggunakannya lagi, bapak itu mengucap terima kasih berkali – kali sambil menyeka air matanya.

    Iya ya, kita sering kali lupa bersyukur pada apa yang telah kita miliki karena pasti masih banyak orang lain bahkan gak bisa seberuntung kita.

    Semoga bapak itu rejekinya lancar selalu πŸ˜‡

    • itsmearni says:

      Huwaaaa mewek lagi baca ceritamu. Kadang memang kita harus diingatkan lewat cara yang tak terduga agar lebih bersyukur ya
      Ngomong2 ukuran sepatunya pas dikaki si bapak?

      • Pas. Karena aku ambil sepatu (mantan) pacarku sih waktu itu wakakakka. Dan tau ga pas aku ksh sepatu itu krn lama ga dipakai kan keliatan dekil, tapi pas aku lewat ke tmp itu lagi beberapa waktu berikutnya ternyata sepatu itu udh kinclong banget dan jadi seperti masih baru. Duh jadi malu bilangnya 😳

    • itsmearni says:

      Fyuuuh syukurlah klo begitu. Gawat juga urusannya klo diminta kembali kodong hahahaha
      Naik pesawatnya yang langsung terus pulang pergi, jadi memang gak transit makassar say

  4. Banyak di sekitar kita orang2 yang luar biasa ya mbak. Yang mana kalau ditulis, akan memberikan pelajaran berharga bagi diri dan orang lain

  5. Diah indri says:

    Mbak kemarin sdh komen disini. Mgk sinyal nih bikin hilang.

    Pelajaran banget ya dari bapak diatas.
    Saya termasuk yang ga pandai nawar. Klo sdh nawar masih dibilang krg bagus nawarnya sm teman belanja.
    Diposisilan sama saja setiap belanja dimanapun. Malah kdg merasa kecewa kalau beli di swlayan kemahalan. Mending di pasar sayurnya lebih segar

    • itsmearni says:

      Yup setuju
      Lebih segar diabang sayur biasa lho daripada supermarket. Karena memang tiap hari sayurannya baru. Aku juga gitu, paling gak bisa deh nawar, pasrah benee dah dikasi harga berapa aja

  6. Bapak mengajarkan saya banyak hal, saya juga jadi malu. Kadang malah menawar. Semoga bapak sehat selalu ya

  7. ah mbak.. inspiratif banget mbak. makasih sharingnya mbak, sering gak ingat kalau lagi nawar gini.

  8. jampang says:

    Sungguh bapak yg hebat. Semoga rezekinya bertambah

  9. ayanapunya says:

    Heuu iya, mbak arni. Saya kadang kalau lihat orang yang dagang keliling juga suka membatin. Mereka jalan kaki seharian kira-kira dapat berapa ya? Apalagi kalau misalnya yang dijual itu bukan barang yang cepat laku

    • itsmearni says:

      Nah iya. Udahlah bukan barang yang cepet laku, jualin punya orang pula, kebayang susahnya ya. Makanya kadang suka gak tega nawarnya, apalagi klo yang jualan kakek2 tua

  10. evrinasp says:

    iyah mbak, aku pun malu, banyak orang susah payah cari uang, tapi aku dengan mudah menghabiskan T_T

  11. museliem says:

    Sedihnya….. Aku yang kayak gini masih sering ngeluh.. Inilah, apalah itulah… :((((((

  12. ihwan says:

    Saya kalau pas habis belanjain uang banyak trus liat para penjual di pinggiran jalan gitu juga makjleb banget, mereka berjuang mati-matian untuk mendapatkan uang yang tak seberapa, eh kita gampang banget membelanjainnya.

  13. wiwik says:

    kita memang selalu belajar dr yg kecil utk menjadi besar, mbak…

  14. Pernah sih mbak ngalamin: dideketi oleh penjual sendal gitu. Ya belilah, buat mama n kakak. Kasihan juga bilangnya dari Garut. Selesai, dia masih keliling gitu di komplek rumah.

    Eh terus seminggu kemudian dia balik lagi. Dan nawarinnya dengan cara yang sama – yaitu kasihan mas, saya belum berhasil jual nih, bantu saya mas, untuk balik ke Garut. Antara bingung dan sebel sih waktu itu.

  15. faziazen says:

    kalo di malang..modusnya..aki aki jual tape..tapi setelah tape di tangan..harganya 50.000..tapenya udah busuk
    salut ama bapak yang di kendari..

    • itsmearni says:

      Nah itu sempat rame juga tuh yang share aki-aki jualan tape itu. Trus mahal pula katanya ya. Duh ngenes klo kayak gini, bikin orang ngomel dan jatuhnya malah gak berkah jualannya

      Lama-lama klo orang udah pada tahu, cerita sana sini akhirnya gak bakal ada yang beli, ketutup deh rejekinya 😦

  16. Tanda Pagar says:

    Gak tau kenapa kalo baca kisah perjuangan orang tua gini suka pengen nangis, betapa saya selama ini belum ada apa-apanya dibandingkan beliau-beliau itu, saya yang sudah diberi kemudahan rejeki kadang masih kurang bersyukur. terima kasih sudah mengingatkan mbak

    • itsmearni says:

      Hiks. Sayapun menangis. Sebuah pelajaran hidup tak ternilai saya dapatkan dari sebuah pertemuan sederhana dan tak terduga. Menutup tahun 2015 dengan manis sekali πŸ™‚

  17. Suamiku juga pernah ngalami hal spt ini pas dia mau beli buah, ada org lain yg nawar dagangan dengan sadisnya. Suamiku kesel banget sama orang itu. Dia bayar lah lebih dari harga yg dibilang penjualnya. Dan org yg tadi nawar dengan bengis itu langsung melongo. Kocak banget suamiku pas cerita ini, aku jadi ngikik2 sekaligus prihatin dengan org yg raja tega tadi. Semoga ya kita semua dilapangkan rejeki dan diluaskan jiwa sosial kita agar bisa terbuka pada hal2 seperti ini.

    • itsmearni says:

      Betul mbak
      Kadang gak habis pikir sama orang yang nawar abis-abisan ke pedagang kecil, padahal belanja mall gak pake nawar, berapapun harganya dibeli
      Bawa gadget canggih, bermobil, sekali makan diresto bisa ratusan ribu, lah beli buah 15 ribu dipinggir jalan pake nawar pula hiks

  18. alrisblog says:

    Hiks… ikut terharu.

  19. tiyawann says:

    “Ayo jadilah Pahlawan, Pahlawan bagi ratusan ribu UKM”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s