Catatan Kecil dari Peringatan Maulid di TK Mutiara Bogor

Seperti yang saya pernah bahas dalam postingan Toleransi Sejak Usia Dini, bahwa di sekolah Prema, TK Mutiara Bogor, akan dilangsungkan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dimana seluruh siswa dilibatkan untuk mengisi acara, baik yang muslim maupun non muslim.
Dan hari ini acaranya berlangsung meriah, lengkap dengan bintang tamu Kang Didin, pendongeng hebat yang membawakan dongeng dengan sangat memesona.

image

Acara diawali dengan penampilan anak-anak dalam pentas seni. Bergiliran tampil dalam balutan aneka kostum, mereka menari dan bernyanyi dengan gaya khas anak-anak yang polos tanpa rekayasa. Setelah itu anak-anak diajak mengasah empati yaitu berbagi dengan anak yatim melalui kotak sumbangan yang diedarkan berkeliling. Biasanya pemberian santunan akan diakumulasikan disetiap akhir tahun ajaran dengan mengundang beberapa anak yatim di sekitar sekolah.

image

image

Lalu sampailah ke acara puncak. Dongeng dari Kang Didin. Melihat latar belakang kang Didin yang sebelumnya adalah guru TK, bisa dibayangkan bagaimana serunya kang Didin berinteraksi dengan anak-anak. Kang Didin paham betul bahwa anak-anak TK berada dalam fase audio, dimana mereka menikmati sesuatu dengan mendengar. Mendengar yang baik-baik dan ceria akan menghidupkan hormon endorphin dalam diri anak sehingga menjadi pribadi yang ceria dan positif.

Tak hanya untuk anak, Kang Didin juga memberikan banyak sekali pelajaran bagi kami, orang tua yang kebetulan hadir di acara tadi. Bagaimana membuat anak menjadi baik dan penurut tanpa kekerasan, bagaimana memberi contoh kebaikan secara konsisten termasuk bagaimana akibat jangka panjang yang ditimbulkan jika anak sering menerima bentakan, kemarahan dan sejenisnya dimasa mendatang. PLAK! PLAK! PLAK! Makjleb memang.

image

Sebagai orang tua ada masanya dimana fisik (dan hati) terasa sesak, lelah dan sejenisnya. Masa rawan. Terkadang membuat kita (saya terutama) lepas kontrol lalu menjadikan hal kecil sebagai pelampiasan kemarahan pada anak. Saat-saat begitu, rasanya semua teori parenting menguap entah kemana. Meski akhirnya menyesal dan memeluk anak lalu meminta maaf karena membentak, tapi kenyataan ada sekeping hati yang hancur saat itu tak bisa dihindari. Hikz…. Harus belajar lebih sabar dan sabar lagi #pelukPrema. Teorinya sih tahu, tapi ya gitu, suka lupa klo pas marah. Terima kasih kang Didin untuk remindernya hari ini *nunduk malu-malu*

Kang Didin memukau kami. Topik ringan yang dibawakan tentang bagaimana menjadi anak yang jujur membekas dengan baik dibenak anak-anak. Terbukti setelah acara dongeng selesai, ketika pertanyaan diajukan seputar dongeng, mereka bisa menjawab dengan sangat baik dan antusias. Ditambah dengan kemampuan kang Didin dalam alih suara menirukan aneka suara hewan dan pergerakan benda-benda. Menarik. Ah… Kapan ya, saya bisa sampai dilevel itu. Mendongeng sih udah sering, tapi belum bisa alih suara sebagus kang Didin.

Beberapa kali pengalaman mengikuti kegiatan dongeng, saya memang selalu terpesona pada kemampuan alih suara. Seperti mendengar aunty Jeeva dari India dalam Festival Dongeng Internasional Indonesia tempo hari, itu keren pake banget deh. Begitu pula ketika melihat kak Iman, kak Didik, kak Aryo dan masih banyak pendongeng hebat lainnya. Hari ini bertambah satu lagi idola Prema (dan saya) dalam dunia dongeng yaitu kang Didin.

image

image

Mendengarkan dongeng memang selalu menyenangkan. Selalu ada hikmah dan pesan kebaikan yang dapat dipetik darinya. Disampaikan dengan kocak, seru, heboh dan memikat tanpa menghilangkan makna. Banyak pelajaran yang didapatkan dari dongeng. Iya, ini berkali-kali sudah saya tuliskan dipostingan yang lalu dan saya belum bosan untuk mengulangnya lagi ^^

Prema, saat ini sedang euforia baca tulis. Lagi demen-demennya baca dan nulis, termasuk menulis cerita. Terkadang dia menggambar sesuatu, lalu merangkainya menjadi sebuh cerita, seperti yang pernah saya posting dalam ‘karena imajinasinya begitu berharga’ terkadang juga hanya membuat cerita dari kegiatan sehari-hari yang dilaluinya, untuk kemudian dibacakan dihadapan kami, ayah dan ibunya. Buat kami, ini pencapaian luar biasa, sungguh kami tak pernah membayangkan anak usia 5 tahun bisa merangkai cerita dengan runut dan rasanya ini adalah bonus dari kebiasaan kami berpesta cerita setiap malam sebagai pengantar tidur.

Olala….. lelah beberapa hari ini menyiapkan konsumsi untuk kegiatan Maulid *banyak terimakasih untuk sekelompok emak rempong yang keren-keren* rasanya terbayarkan melihat kebahagiaan dan keceriaan diwajah anak-anak. Betapa mereka polos dan siap menerima segala asupan kebaikan dari kita sebagai orang tua. Iya, menjadi orang tua itu tak ada sekolahnya tapi tetap harus belajar, belajar dan belajar lagi, di sekolah kehidupan bernama buah hati. Karena orang tua adalah pembangun peradaban.

Salam

Arni

**********

Menulis adalah mengingatkan diri sendiri dan mengambil hikmah dari keseharian dalam catatan sebagai pengingat”

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Catatan Kecil dari Peringatan Maulid di TK Mutiara Bogor

  1. omnduut says:

    Kang Didin ini yang sering nongol di TV bukan ya mbak Arni?

    • itsmearni says:

      Sepertinya begitu, Yan
      Aku jujur aja baru pertamakali melihat penampilannya dan langsung suka
      Tapi beliau memang salah satu pembina kelas dongeng bagi guru TK/PAUD di Bogor

    • itsmearni says:

      Btw gerak cepat banget sih Oom Yayan ini. Untuk kedua kalinya aku kecolongan, postingan masih proses edit, dia dah nongol aja ngasi komentar ckckck
      Mantengin WP terus nih Oom?

  2. setujuu,, orang tua pembangun peradaban..

  3. Rulita says:

    Bersama dengan anak adalah pembelajaran yang tiada henti.
    Mendorong kita (khususnya saya pribadi) untuk selalu mengupgrade pola fikir dan pengetahuan.

    • itsmearni says:

      Iya betul, dari pribadi tunggal yang terbiasa mengurus diri sendiri, lalu dalam sekejap harus menjadi teladan bagi anak karena menerima titipan dari-Nya adalah sebuah proses pembelajaran yang tak hanya menarik namun kadang terasa berar ketika kita tak menikmatinya dn menjadikan sebagai beban

      Semoga kita semua senantiasa belajar dan belajar πŸ™‚

  4. ismyama says:

    Oalah masak2 kemarin buat ini to Mbak?:)

  5. wiwik says:

    pernah lihat kang didin ini di tipi, dia juga nulis buku dongeng kan mba? ayo mba arni ntr lagi bakal bisa alih suara kayaknya ni…

  6. jampang says:

    Mendengar cerita penuh, bukan cuplikan doang memang menyenangkan. Saya juga pernah merasakan.

    terakhir kali saya mendengar orang bercerita ketika SMA. Guru bahasa indonesia saya menceritakan kisah novel robohnya surau kami.

  7. rizzaumami21 says:

    saya sering kagum sama orang yang mendedikasikan dirinya untuk pendidikan terutama untuk perkembangan anak, hebat, mbak.

  8. Anak2 memang lebih seneng ndengerin dongeng ya mba daripada dikasih petuah yg bertele-tele. Inget banget dulu pas pernah ngajar di SD, dikasih latihan soal dan bacaan banyak gitu kan, murid2ku bisa minta utk didongengin aja. Udah keringat dingin deh gimanaaaa caranya. Akhirnya ya nekat aja, ndongeng apa adanya sembari diselingi becandaan dalam dongeng itu. Eeehh bener, anak2 langsung anteng menyimak. Padahal tadinya mereka rameeeee banget nggak merhatiin. Jadi emang bener ya, ngajarin anak itu memang sebaiknya enjoy dan fun, kalau serius kayak orang tua gitu malah ga asyik dan ga nyantol pelajarannya.

  9. evrinasp says:

    mbak arni ternyata di bogor ya aku kira dimana, aku pengen masukin Alfi ke TK bulan Juni ini semoga lancar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s