Merajut Nusantara di Peringatan Hari Kartini

21 April 2015

Hujan lebat mengguyur kota Bogor sejak dini hari. Dan hingga pagi menjelang belum ada tanda-tanda akan berhenti. Meski begitu, cah bagus saya tetap bergegas bangun, penuh semangat mandi pagi, karena hari ini ada acara di sekolahnya, peringatan hari Kartini.

image

Iya. Sekolah Prema mengadakan karnaval hari Kartini, berupa parade pakaian adat mengitari satu blok perumahan di sekitar sekolah. Bukan itu saja, ada yang menarik dan bikin heboh yaitu terlibat langsungnya orang tua murid dalam mengisi acara, bukan sekedar mendampingi. Ibu-ibunya ikut berkeliling, mengenakan kebaya dan bermain drumband. Bayangkan saja, emak-emak yang biasanya jadi “macan ternak” (mama cantik antar anak) tetiba berubah wujud menjadi emak-emak feminin dan bermain musik. Haha. Dijamin seru dan heboh.

********

Kenapa hari kartini identik dengan pakaian adat sih?”
“Buat apa sih acara-acara seperti itu, gak penting banget deh. Ngerepotin aja!”
“Esensi hari Kartini itu adalah perjuangan seorang wanita untuk bebas dari feodalisme, bukannya malah domestikasi wanita dengan kebaya-kebayaan gitu!”
“Kartini itu gak cocok dapat gelar pahlawan. Masih banyak pejuang wanita lain yang lebih berjasa buat negeri ini. Tjut Nyak Dien di Aceh, Dewi Sartika yang mendirikan sekolah, dan lain-lain. Kenapa harus Kartini? Ini tidak obyektif!”
“Pawai-pawai kebaya-an gini adalah warisan orde baru. Perayaan salah kaprah dan menyesatkan!”

*******

image

**

Itu adalah beberapa contoh kehebohan lainnya. Perdebatan tak berujung yang selalu berulang dan berulang setiap tahunnya. Entah siapa yang memulai, yang pasti komentar-komentar itu datang untuk menolak “keseruan” hari Kartini.

Tendensius sekali ya. Dan biasanya penolakan itu ditandai dengan ngototnya mereka mempertahankan pendapat seolah kebenaran mutlak hanya milik mereka. Yang lain salah semua. Yang bikin parade pakaian adat itu “aliran sesat”, kelompok kurang kerjaan, orang-orang bego yang seneng repot.

Hey! Kita duduk manis dulu yuk. Sambil ngopi-ngopi juga bolehlah. Tenang saja, ini gak pake sianida kok. Sembari nyeruput kopi, ditemani singkong rebus, yuk kita ngobrol dengan kepala dingin dan gak pake ngotot πŸ™‚

Parade Pakaian Adat

image

image

Baiklah, coba kita lihat satu-satu. Mulai dari parade pakaian adat. Apa yang salah dengan kegiatan ini?
Saya melihat banyak hal positif dari sini. Mengenalkan bahwa Indonesia itu beragam budaya, beragam suku bangsa, memiliki pakaian adat yang unik, berwarna-warni lengkap dengan segala filosofinya. Bukankah itu baik?
“Iya baik, tapi khan gak harus di hari Kartini, bisa dilakukan saat 17-an juga!
Ada yang “ngeles”nya begitu.
Lha apa bedanya. Ini hanya masalah waktu pelaksanaannya saja to. Mau kartinian, mau agustusan yo sama-sama parade pakaian adat. Lalu kenapa harus ribut soal waktu?

Coba lihat binar wajah anak-anak kita saat mengenakan pakaiannya. Coba dengar betapa riuhnya mereka saling bertanya satu sama lain, “kamu pakai adat apa itu?”
Coba perhatikan betapa antusiasnya mereka mendengar saat ibu guru memanggil nama mereka, menyebutkan nama daerah asal pakaian yang dikenakan, menjelaskan sedikit filosofinya secara sederhana. Tidakkah membuat kita bangga akan kekayaan nusantara?
Tidakkah membuat kita tersenyum melihat mereka bisa tertawa bersama, bermain bersama dalam kebhinekaan?
Ayolah…. turunkan sejenak egomu. Main bareng aja sama anak-anak. Nikmati Indonesia dalam wajah-wajah ceria itu.

Lalu ada yang bilang, “duh rempong bener dah. Nyusahin banget sih acara ini!”
Nah ini lain soal ya. Kalau memang tak sempat, tak mau repot ya wis gak usah ikutan. Timbang ngikut tapi ngedumel. Lagian ini hanya setahun sekali lho ya. Apalagi klo ternyata anaknya antusias juga pengen ikutan, sementara emaknya males rempong. Wis tah! Omongin baik-baik sama anaknya, tinggal cari jalan tengah, bisa anak bisa emak yang ngalah. Gak usah sibuk nyinyir sana sini soal kebijakan sekolahnya. Meski diadain oleh sekolah, saya rasa sekolah juga gak bakal maksa anak untuk ikutan to. Apalagi kalau sampai berujung pengurangan nilai misalnya, ndaklah ya. So keputusan ada di kita, mau ikut dengan ikhlas biar lebih nyaman di hati, mau ikut sembari ngomel atau tidak sama sekali atas nama males rempong πŸ™‚

Domestikasi Wanita

image

Hmm… agak berat ini bahasanya. Saya sempat terlibat sebuah diskusi seru dengan seorang teman. “Esensi perayaan kartini itu bukan hura-hura rasa tradisional. Bukan perayaan senang-senang pakai kebaya. Itu namanya domestikasi peran wanita!” begitu katanya

Dalam pemahaman sederhana saya, ini bukan acara hura-hura kok. Bahwa kita menghargai Kartini atas jasa-jasanya yang berpikir melampaui zaman, memperjuangkan ketertindasan kaum wanita, mengangkat soal kesetaraan peran wanita dan pria itu tetap menjadi bagian penting yang tak bisa diabaikan. FYI, di sekolah Prema, sebelum parade dimulai, anak-anak “didongengin” lho oleh ibu gurunya. Tentang siapa Ibu Kartini. Kenapa kita harus menghargai jasa-jasanya dan tak lupa dibalut dengan pesan moral untuk rajin belajar, saling menghargai sesama teman, menghormati kedua orang tua, toleransi dan seterusnya

image

Selain itu, di luar perayaan Kartini, sejak usia dini di sekolah Prema diberi pemahaman (bahkan praktik) bahwa lelaki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban sama baiknya. Memiliki peran yang sama pentingnya. Bahwa wilayah perempuan tak hanya sumur, dapur dan kasur. Cooking class misalnya, semua anak ikut serta, bukan hanya yang perempuan. Mengangkat bangku, merapikan ruangan, dikerjakan bersama oleh semua anak tanpa memisahkan gender. Begitupun pekerjaan rumah, anak-anak diberi tahu bahwa semua boleh membantu ibu memasak, mengepel dan sejenisnya, begitu pula membantu ayah benerin genteng, mencuci mobil dan seterusnya. Jadi terlalu picik rasanya jika hanya karena parade sehari saja lalu seolah-olah pelajaran kesetaraan gender menjadi nol besar πŸ™‚

Parade seperti ini tak menghilangkan esensi dan makna perjuangan Kartini kok.

Warisan Orde Baru

Nah khusus pernyataan ini bikn saya tersenyum deh. Saya tak bermaksud membantah tapi kalaupun iya ini adalah tradisi warisan orde baru, apakah kemudian salah jika diteruskan?

Salahnya dimana, nah ini yang saya gak ngerti. Balik ke alasan pertama kali, ini tentang kebhinekaan Indonesia lho. Kenapa gak boleh hanya dengn dalih dia warisan orba. Ini gak demen kegiatannya atau gak demen orbanya ya ^^

Mengapa Kartini?

Sebuah tulisan yang saya kutip dari Lenka Naya di laman facebook ini, sesuai dengan apa yang sata pikirkan, saya coba tuangkan ke sini ya. Selengkapnya bisa dibaca disini

Mengapa Kartini? Mengapa bukan Cut Nyak Dhien dan pahlawan wanita yg lainnya?

Dengan segala hormat kepada semua pahlawan wanita yang namanya disebutkan di atas, tidak satupun dari mereka yang secara spesifik mengangkat dan menyuarakan penindasan yang dialami wanita diIndonesia, yang mendapat diskriminasi dan perlakuan tidak adil hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan. Hanya Kartini yang melakukan itu yang beliau tuangkan dalam surat-suratnya.

Cut Nyak Dhien, tak bisa dipungkiri adalah salah seorang pejuang perempuan terhebat yang dimiliki negeri ini. Tapi konteks perjuangan beliau adalah mengusir Belanda dari Aceh, bukan berjuang untuk membebaskan perempuan dari diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakatnya.
Di Aceh, tempat Cut Nyak Dhien lahir, tumbuh, besar dan kemudian mendapatkan reputasinya. Kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang aneh. Bahkan jauh sebelum era Cut Nyak Dien, sebelum Belanda datang ke Indonesia. Kerajaan Aceh sudah memiliki banyak Ratu yang menjadi pemimpin negara. Aceh sudah pernah mengangkat seorang perempuan bernama Laksamana Malahayati sebagai Panglima Angkatan Laut. Di Gayo yang terletak di wilayah tengah kerajaan Aceh, masyarakat mengenal sosok Datu Beru , seorang perempuan yang menyandang jabatan sebagai seorang diplomat.

Rohana Kudus apalagi, lahir sebagai perempuan minang, tempat di mana perempuan begitu diistimewakan. Bukan perempuan, justru seharusnya laki-lakilah yang menuntut hak yang setara.
Latar belakang ini sangat kontras dengan yang dihadapi Kartini. Dia lahir dan besar dalam suasana feodal yang kental di mana kaum perempuan mendapat diskriminasi yang luar biasa. Tidak bisa leluasa mengembangkan sisi intelektualitasnya sebagaimana laki-laki.
Tapi hebatnya meski tumbuh dalam suasana penuh tekanan seperti itu, Kartini tetap mampu tumbuh menjadi sosok yang kritis. Yang bisa dengan jernih melihat dan menggambarkan dengan tepat situasi yang dialami kaumnya dan menyuarakannya.
Bayangkan bagaimana menderitanya Kartini, perempuan dengan intelektualitas seperti itu, dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa cita-citanya untuk mengembangkan intelektualitasnya lebih jauh harus kandas karena dipaksa menikah muda. Hanya karena dia secara kebetulan terlahir sebagai perempuan.

Situasi ini bukan hanya dialami oleh Kartini, melainkan juga dialami oleh jutaan perempuan Indonesia di masanya. Inilah yang disuarakan Kartini melalui surat-suratnya.
Dewi Sartika, benar beliau mendirikan sekolah tapi beliau tidak secara spesifik mengangkat dan membedah persoalan yang dialami kaum perempuan dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Kalau dipadankan ke dalam dunia penemuan, ibaratnya beliau adalah Edison, bukan Newton.

Dalam pandangan kaum anti Kartini, Cut Nya Dien, Kemala Hayati dan para pahlawan lain yang berada di garis terdepan menghalau penjajah. Jelas dan nyata perjuangannya. Dan hasilnya jelas, Indonesia merdeka. Sementara kartini, apa yang sudah dia perbuat secara nyata?.

Kalau kita mau jujur, jangankan di masa lalu, bahkan sampai sekarang pun belum ada perempuan Indonesia yang bisa sedemikian kencang menyuarakan ketertindasan kaumnya sebagaimana dilakukan oleh Kartini.

Untuk ini, secara pribadi saya beropini. Pahlawan seperti Cut Nyak Dhien sudah tuntas perjuangannya dengan terusirnya Belanda dari Indonesia. Rohana Kudus, Dewi Sartika juga sudah tuntas dengan tidak masalahnya perempuan bersekolah dan berkarir.
Tapi Kartini, yang beliau lawan adalah kepicikan masyarakat, yang sampai hari ini di banyak tempat di negara ini masih bersikap diskrimitatif terhadap perempuan. Bahkan tahun 1992 Fakultas Teknik Unsyiah. Mahasiswa tercerdas di angkatan kami dari jurusan Teknik Kimia, terpaksa putus kuliah karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Hanya karena dia perempuan.
Artinya, perjuangan Kartini belum tuntas, perjuangan terhadap diskriminasi terhadap perempuan masih terus berlanjut, karena itulah semangat KARTINI harus terus digelorakan dan diperinga

( Tulisan dari Win Wan Nur,yg coba saya edit utk mengambil poin2 pentingnya. Thanks. )

***********

Ehm… Kepanjangan ya bacanya. Maafkan. Lama gak posting blog, sekalinya posting malah ngedongeng hahaha

Yang jelas buat saya, perbedaan pendapat lalu “berdebat” bukan soal benar salah atau menang kalah, ini lebih pada membuka wawasan berpikir kita bahwa ada sudut pandang dan ide yang berbeda di luar sana. Pun, ketika menuliskan ini, tak ada maksud mencari pembenaran, hanya sekedar menuangkan isi teko yang mulai penuh ^^

image

Kembali ke cerita awal, jadi kami emak-emak tuh, yang awalnya malu-malu pas latihan, yang ragu dan gak yakin bakalan bisa menyelaraskan tabuhan drum dan langkah menjadi harmonisasi musik ternyata kemudian malah menikmati. Lebih heboh emaknya daripada anaknya. Gak apa-apa deh sesekali. Emak juga butuh senang-senang khan. Anggap aja ini piknik ala emak. Refreshing biar gak puyeng ketemu dapur sumur dan kasur doang tiap hari #uhuk #bukandomestikasiperanwanita

image

Jadi paradenya dimulai oleh anak-anak berjalan paling depan, membawa pamflet-pamflet kecil berisi aneka tulisan motivasi, dengan didampingi para guru tentu saja, lalu rombongan drumband mengikuti dan paling belakang emak-emak cantik berbaris rapi juga. Hihi jadi tontonan deh kami sehari. Lucu juga rasanya.

Kembali ke sekolah anak-anak mengikuti sesi penyerahan piala, semua kebagian dong ya, karena judulnya piala partisipasi. Biar adil gitu.

Wajah-wajah kecil yang ceria. Wajah-wajah bahagia para emak. Kebersamaan dalam keberagaman. Tertawa bareng, main bareng, tak ada sekat. Inilah kebahagiaan hari Kartini.
Merajut nusantara.

Selamat hari Kartini

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, Percikan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Merajut Nusantara di Peringatan Hari Kartini

  1. museliem says:

    hahahahaha…. daripada debat mendingan makan kue dalam kereta yah mbak.. miss that moment..

  2. rayamakyus says:

    ciciciyeeeh domestikasi peran wanita πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s