Memaklumi Kekacauan?

“Ruangan yang barangnya selalu tertata rapi adalah ruang pamer, bukan ruang keluarga
“Ruangan yang lantainya selalu kinclong adalah mall besar bukan ruang bermain dan beraktivitas anggota keluarga”
“Ruangan yang senantiasa sepi dan hening adalah museum, bukan ruang bermain anak”
Jangan sampai terbalik ya!

—————

Begitulah kira-kira kutipan yang beredar diberbagai media sosial beberapa minggu terakhir. Sebuah untaian kalimat yang langsung disambut dengan riang gembira oleh emak-emak dipenjuru Indonesia. Sangat menghibur ditengah kepenatan akan rempongnya mengurus rumah yang seolah tiada akhir plus ditimpali dengan tingkah anak-anak yang rasanya susah diatur, berisik dan bikin emosi.

Keluarnya kutipan itu seolah mewakili perasaan ratusan bahkan ribuan ibu yang merasa senasib. Lebih parah lagi menjadi “sebuah pembenaran” untuk rumah yang berantakan, kerjaan yang terbengkalai, dan sejenisnya. Aku tak sendiri. Punya anak ya memang begini resikonya. Demikianlah sambutan para ibu.

Ehm… Saya trus mikir, “ini kayaknya ada yang kurang pas ah buat saya.”
Tidak, saya gak bilang kutipan itu salah. Saya juga gak bermaksud mengatakan para ibu itu lebay. Wong rumah saya juga jauh dari kinclong dan rapi setiap waktu kok. Padahal anak saya baru 1, bagaimana kalau punya anak banyak, pasti lebih kacau lagi deh kondisinya hehe. Maksud saya adalah bahwa sebagai ibu, ratunya rumah tangga, tentu punya peran penting dan tanggung jawab yang besar untuk memastikan keluarga tercinta sehat, sejahtera dan yang paling penting bahagia berada dirumah sendiri.

image

Kondisi itu tentu saja tercapai jika rumah dalam kondisi nyaman untuk beraktivitas. Bayangkan bagaimana kita bisa tersenyum lebar jika rumah kotor, berantakan lalu bising. Rumah kotor yang saya maksud adalah ketika sampah sisa makanan dan sejenisnya berserakan, tumpahan sisa makanan ada dimana-mana, rumah berantakan ketika aneka barang asal taruh, menghalangi ruang gerak, bahkan bisa jadi berbahaya untuk anggota keluarga. Bising lebih parah lagi, ketika semua ingin berbicara berbarengan, teriak atau bahkan tak ada yang mengalah untuk memutar jenis musik sesuai selera masing-masing. Bayangkan, apakah itu nyaman?

Okelah kita tentu saja gak bisa ideal menjadikan rumah kinclong sepanjang waktu, nanti malah beneran jadi ruang pamer deh. Ada ‘kekacauan’ yang bisa ditoleransi tentu saja. Rumah berantakan ketika anak-anak sedang bermain, rumah ramai ketika anggota keluarga berceloteh dan bercengkerama, rumah penuh warna ketika semua anggota keluarga sehat dan tertawa bersama.

Aturan Demi Cinta

Meski ditoleransi, tetap harus ada rambu-rambunya khan? Saya menyebutnya Aturan demi cinta, karena tujuannya untuk kebaikan bersama dan bekal masa depan anak-anak kita. Usai bermain, yuk biasakan anak-anak kita merapikan kembali. Ajarkan mereka mandiri untuk bertanggung jawab pada milik mereka. Bukan tergantung pada ayah ibu ataupun mbak ART. Begitupun mereka harus bisa meletakkan barang lainnya ke tempat semula setelah pakai. Libatkan mereka dalam aktivitas rumah tangga. Membantu menyapu, mencuci piring, mengepel, melipat pakaian dan lain sebagainya. Pasti menyenangkan jika aktivitas dilakukan bersama, dimana masing-masing anggota keluarga punya tanggung jawab sendiri. Pekerjaan rumah tangga juga bisa jadi hiburan buat anggota keluarga. Menyapu dan mengepel bareng misalnya, Prema, 5 tahun biasanya ngambil peran untuk nginjekin pedal alat pel. Seneng banget dia karena dilakukan sambil bermain. Serasa ngegenjot pedal sepeda katanya. Karena merasa dilibatkan dan dihargai bantuannya, anak akan bahagia dan tentu saja ibunya juga senang. Timbang ngerecokin yang bikin darah tinggi kumat, mending libatkan sekalian pada aktivitas yang ramah anak.

image

image

Lain waktu, Prema dilibatkan untuk membantu mencuci mobil, motor atau diberi tanggung jawab mencuci sepedanya sendiri. Mainnya dapat, bersihnya dapat, belajarnya juga iya dan yang pasti sama-sama senang.
Tentu saja masih banyak aktivitas keluarga lainnya yang bisa dilakukan bersama.

Kita memang tak bisa terus menerus menjaga lantai selalu kinclong. Rumah saya bahkan jauh dari itu. Minimal bersih karena rutin disapu. Tumpahan makanan langsung dibersihkan. Ceceran air dan susu langsung dilap. Dengan demikian tak mengundang datannya semut, lalat atau kecoak. Apalagi anak memang banyak beraktivitas dilantai. Kalau lantainya bersih khan kita juga nyaman. Bersih bukan berarti bebas dari segala mainan ya. Bersih disini adalah bebas dari kotoran. Bukankah dengan begitu kita juga mengajak keluarga untuk hidup sehat πŸ™‚

Menonton juga bisa menjadi hiburan bersama. Menemani anak menyaksikan acara kesukaannya sembari sesekali memberi penjelasan dan pesan moral pasti akan menyenangkan untuk semua. Tak ada salahnya mengalah pada anak. Daripada berantem rebutan remote karena masing-masing mau menang sendiri, lebih baik membuat kesepakatan. Misalnya jam tertentu ada pertandingan sepakbola kesukaan ayah atau ada acara masak memasak kesukaan ibu, sampaikan baik-baik saja pada anak, bahwa nanti nontonnya bergantian. Disini juga sekaligus akan mengajarkan anak konsep berbagi. Karena berbagi itu tak hanya barang, tapi juga waktu.

Lalu anak disuruh ngapain kalau ayah dan ibunya nonton sementara anak gak suka tayangan dimaksud?
Ya bolehlah ayah ibu berbagi peran untuk bermain atau membaca buku cerita sementara salah satu menikmati tayangan favoritnya. Khusus bagian ini sih agak jarang diterapkan dirumah kami, karena memang sayanya jarang nonton, suami juga pulangnya malam. Prema, nonton sesekali, lebih banyak bermain dengan lego, mobil-mobilan atau membaca buku cerita yang memang jadi kegiatan favoritnya.

Balik lagi ke kutipan manis diatas, memang ada saatnya rumah ramai, berantakan dan “kotor” itu menunjukkan ada kegiatan didalamnya. Ada interaksi diantara penghuninya. Tapi tentu saja, ada rambu-rambunya to. Dan itu ada ditangan ibu, sebagai ratunya rumah πŸ™‚

Advertisements

About Arni

Arni I Parenting & Lifestyle Blogger I Proud mom of amazing Prema I Living in Bogor I Feel Free to contact me at putusukartini@gmail.com or itsmearni@yahoo.com
This entry was posted in Home, keluarga kecilku, Percikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to Memaklumi Kekacauan?

  1. museliem says:

    Klo gue sih karena belum punya anak, agak terganggu dengan kamar dan rumah yang berantakan… #yakali

  2. jampang says:

    Pulang ke rumah, yg biasa pertama kali saya lihat adalah ruang keluarga. Kalau di situ saya lihat mainan berantakan… seneng ngeliatnya… artinya sabiq tadi main dan nggak sakit πŸ˜€

    Mgkn kalau sudah ngerti, baru diajarin simpan mainan setelah selesai di tempatnya

    • itsmearni says:

      Siiip klo seusia sabiq memang masih dibantu merapikannya
      Tapi pelan2 bisa diajarin mas, bukan merapikan bahasanya, ajak aja dia memindahkan mainan dari satu tempat ke tempat lainnya, nah tempat berpindahnya itu ke kotak mainan, jadi dia gak berasa merapikan. Lama-lama akan jadi kebiasaan.
      Ini juga sekaligus melatih motorik kasarnya lho πŸ™‚

  3. ayanapunya says:

    Setuju, mbak. Kalau rumahnya berantakan banget yo malah nggak enak. Walaupun nggak rapi-rapi amat tapi saya kadang kalau pulang kerja lihat rumah berantakan langsung berasa dobel capeknya. Padahal belum punya anak nih.

    • itsmearni says:

      Nah iya, makanya saya klo mau pergi-pergi sebisa mungkin meninggalkan rumah dalam kondisi rapi. Termasuk jika habis masak-masak yang harus dibawa pergi, peralatan dapur harus tuntas dulu bersihinnya
      Klo gak gitu, pulang dari bepergian pastinya capek, dicapek bakalan stress saya masuk rumah yang berantakan. Capeknya dobel!

  4. penuhcinta26 says:

    Yang diajarkan di video klip yang itu tuh, juga begitu, Arni. Mengajak anak bebenah itu bukan hanya memelihara rumah tetap rapi, tapi juga menumbuhkan kemandirian anak. Aku sendiri ngerasain, anak gak dipaksa untuk beresin mainan sendiri malah besarnya ortu yg kerepotan, krn anaknya gak terbiasa dan ogah2an untuk bebenah. Oh ya, ada banyak tips kok utk urusan bebenah ini, satu yang paling aku ingat adalah menggilir mainan dan buku. Jadi yang bisa diakses anak hanya sedikit saja, yg lainnya disimpan. Nanti tiap beberapa minggu, ditukar deh. Anak gak akan kehabisan mainan “baru”, beresinnya juga gampang.

  5. Berantakannya harus sewajarnya ya mbak -_- kalau berantakan banget, terus kita moodnya lagi jelek, kan bawannya emosi -_- wkkw

    biasanya banyak orang yang alibi bilang ‘alah, ngapain diberesin? nanti juga berantakan lagi’ wkwkwk -_- lah, terus ngapain orang makan kalau akhirnya laper lagi? wkwkwk

  6. ihwand says:

    Mbaak, kok kita sepaham sih, aku juga mau nulis tentang kerapian di rumah yang ga bertahan lama kalo ada anak kecil hi3
    Di rumah kami masih sering kayak gitu, kalo pas mood biasanya langsung diberesin kalo enggak mood ya biarin aja πŸ˜›
    Ide bagus tuh ya mainannya digilir, ntar coba kami terapkan.

    • itsmearni says:

      Emang udah bawaan dari sononya klo punya anak balita itu rumah gak bakalan rapi lama-lama deh
      Nikmatin aja, pelan2 sambil diajarin buat ngerapiin mainannya kembali
      Nanti juga terbiasa dan dengan kesadaran sendiri

      Nah, ide mainan bergilir itu mau kucoba juga

  7. Punya seorang kawan yang susah cari barang miliknya kalau kondisi ruang kerjanya rapi. Karena terbiasa berantakan πŸ˜€
    Jadi kalau mau cari, ruangannya diberantakin lagi, duuhh… πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s